Dai Zheng mengambil langkah berani pada tahun 2016 dengan meninggalkan karier mapannya di program antariksa pemerintah China yang sangat bergengsi. Ia memilih untuk bergabung dan membangun sebuah startup teknologi antariksa yang saat itu masih belum teruji, demi mengejar visi besar membawa China ke era roket yang dapat digunakan kembali.
Keberanian Meninggalkan Zona Nyaman di Sektor Negara
Keputusan Dai Zheng untuk keluar dari sistem kedirgantaraan negara bukanlah hal yang lazim di China pada waktu itu. Selama puluhan tahun, industri antariksa China sepenuhnya dikendalikan oleh lembaga-lembaga negara seperti China Aerospace Science and Technology Corporation (CASC). Bekerja di sana berarti memiliki jaminan keamanan kerja, status sosial yang tinggi, dan akses ke sumber daya yang hampir tak terbatas. Namun, Dai Zheng melihat bahwa birokrasi yang kaku di sektor negara mungkin akan memperlambat inovasi yang dibutuhkan untuk mengejar ketertinggalan dari perusahaan Barat seperti SpaceX.
Pada tahun 2014, pemerintah China mulai membuka pintu bagi modal swasta untuk masuk ke industri antariksa. Momentum inilah yang ditangkap oleh Dai Zheng. Ia menyadari bahwa masa depan eksplorasi ruang angkasa tidak lagi hanya tentang seberapa besar roket yang bisa dibuat, tetapi seberapa efisien dan murah biaya peluncurannya. Dengan mendirikan atau memimpin perusahaan rintisan seperti Deep Blue Aerospace, ia bertekad untuk membuktikan bahwa sektor swasta China mampu menciptakan teknologi mutakhir yang setara dengan pencapaian global.
Also Read
Langkah ini tentu saja penuh risiko. Di tahun-tahun awal, startup antariksa di China harus berjuang keras mendapatkan pendanaan dan kepercayaan dari investor. Berbeda dengan proyek negara yang didanai oleh anggaran pemerintah, perusahaan swasta harus menunjukkan hasil nyata dalam waktu singkat. Dai Zheng harus membangun tim dari nol, merancang prototipe dengan anggaran terbatas, dan menghadapi kegagalan uji coba yang bisa berarti akhir dari bisnisnya.
Mengejar Ketertinggalan dari Dominasi SpaceX
Fokus utama dari perjuangan Dai Zheng adalah pengembangan teknologi roket yang dapat digunakan kembali (reusable rocket). Selama ini, roket konvensional akan hancur atau jatuh ke laut setelah sekali pakai, yang membuat biaya peluncuran satelit menjadi sangat mahal. Elon Musk melalui SpaceX telah mengubah paradigma ini dengan roket Falcon 9 yang bisa mendarat kembali secara vertikal. Dai Zheng ingin China memiliki kemampuan serupa agar tetap kompetitif di panggung internasional.
Teknologi Vertical Takeoff Vertical Landing (VTVL) adalah tantangan teknik yang sangat luar biasa. Roket harus memiliki mesin yang bisa diatur kekuatannya (throttling) dengan sangat presisi, sistem navigasi yang mampu mengarahkan roket kembali ke titik pendaratan yang sempit, serta kaki penyangga yang kuat namun ringan. Dai Zheng dan timnya fokus pada pengembangan mesin roket berbahan bakar cair, seperti kombinasi minyak tanah dan oksigen cair, yang dianggap lebih ramah lingkungan dan lebih mudah dikendalikan untuk proses pendaratan kembali.
Keberhasilan dalam teknologi ini akan memberikan dampak ekonomi yang masif. Dengan roket yang bisa dipakai berulang kali, biaya pengiriman kargo ke orbit bumi bisa ditekan hingga sepersepuluh dari biaya saat ini. Hal ini akan membuka jalan bagi lebih banyak perusahaan telekomunikasi, penelitian ilmiah, dan bahkan pariwisata luar angkasa untuk berkembang di China. Dai Zheng percaya bahwa tanpa penguasaan teknologi roket pakai ulang, industri antariksa China akan tertinggal jauh dalam kompetisi ekonomi ruang angkasa global.
Dampak dan Masa Depan Industri Antariksa Komersial
Kehadiran tokoh seperti Dai Zheng telah memicu gelombang baru di industri teknologi China. Saat ini, terdapat puluhan startup antariksa di China yang saling berlomba untuk mencapai orbit. Persaingan ini menciptakan ekosistem inovasi yang sehat, di mana talenta-talenta muda berbakat dari universitas terbaik kini tidak lagi hanya bercita-cita menjadi pegawai negeri, tetapi juga ingin menjadi pengusaha teknologi antariksa.
Selain aspek ekonomi, perjuangan Dai Zheng juga memiliki dimensi strategis. China memiliki ambisi besar untuk membangun stasiun luar angkasa sendiri, mengirim manusia ke bulan, dan mengeksplorasi Mars. Dukungan dari sektor swasta dalam menyediakan layanan peluncuran yang murah dan andal akan sangat membantu pemerintah dalam mewujudkan ambisi-ambisi besar tersebut. Sinergi antara sektor negara dan swasta ini menjadi kunci utama strategi antariksa China di masa depan.
Meskipun tantangan teknis dan persaingan global semakin ketat, dedikasi Dai Zheng menunjukkan bahwa visi yang kuat dapat mengubah peta industri sebuah negara. Perjalanan dari seorang insinyur pemerintah menjadi pionir startup adalah simbol dari transformasi ekonomi China yang kini lebih mengedepankan inovasi berbasis pasar. Masa depan di mana roket-roket China mendarat kembali dengan selamat di bumi bukan lagi sekadar mimpi, melainkan target yang semakin dekat untuk dicapai.
Ke depannya, keberhasilan Dai Zheng dan rekan-rekannya akan menentukan apakah China mampu mematahkan monopoli SpaceX dalam pasar peluncuran komersial. Dengan dukungan kebijakan yang semakin suportif dan aliran modal yang terus mengalir, era baru penjelajahan ruang angkasa yang lebih terjangkau bagi semua pihak tampaknya akan segera menjadi kenyataan, membawa dampak luas bagi perkembangan teknologi manusia secara keseluruhan.




