DeanKT Soroti Kendala Modal dalam Industri Game Indonesia

Author Image

Mais Nurdin

10 September 2026, 14:03 WIB

Aldean Tegar, atau yang lebih dikenal dengan nama panggung DeanKT, baru-baru ini memberikan pandangan kritis mengenai kondisi industri pengembangan game di Indonesia. Mantan Vice President EVOS Esports yang kini aktif sebagai kreator konten tersebut menyatakan bahwa talenta lokal sebenarnya memiliki kreativitas yang sangat kompetitif di kancah global, namun sering kali terbentur oleh realitas finansial yang pahit.

Menurut DeanKT, masalah utama yang dihadapi oleh para pengembang game di tanah air bukanlah kekurangan ide atau kemampuan teknis, melainkan kurangnya dukungan dana yang memadai untuk merealisasikan proyek berskala besar. Industri game merupakan sektor yang membutuhkan modal intensif, mulai dari tahap riset, pengembangan, hingga pemasaran yang masif agar bisa bersaing dengan judul-judul internasional.

Kreativitas Lokal yang Terbentur Realitas Finansial

Dalam berbagai kesempatan diskusinya, DeanKT menekankan bahwa anak bangsa memiliki potensi yang luar biasa dalam menciptakan narasi dan mekanisme permainan yang unik. Hal ini terbukti dari beberapa judul game lokal yang berhasil meraih kesuksesan di platform global seperti Steam. Namun, ia jujur mengakui bahwa untuk mencapai level industri yang mapan, semangat saja tidak cukup karena biaya produksi game berkualitas tinggi atau AAA sangatlah fantastis.

Kesenjangan antara ide kreatif dan ketersediaan modal ini sering kali membuat pengembang lokal harus memutar otak atau bahkan menurunkan skala proyek mereka. Biaya untuk menggaji talenta profesional seperti programmer, artist, animator, hingga sound designer tidaklah murah. Jika dibandingkan dengan negara-negara yang industrinya sudah maju, dukungan investor di Indonesia terhadap sektor pengembangan game masih tergolong konservatif dan lebih banyak melirik sektor teknologi lain yang dianggap lebih cepat menghasilkan keuntungan.

Selain itu, DeanKT juga menyoroti bahwa tanpa dukungan dana yang kuat, sulit bagi studio lokal untuk mempertahankan talenta terbaik mereka. Banyak pengembang berbakat Indonesia yang akhirnya memilih untuk bekerja di studio luar negeri karena tawaran gaji dan fasilitas yang lebih menjanjikan. Fenomena brain drain ini menjadi kerugian besar bagi ekosistem gaming nasional yang sedang berusaha untuk tumbuh dan mandiri.

Tantangan Investasi dan Ekosistem Gaming Nasional

Melihat lebih dalam ke struktur industri, investasi dalam pembuatan game sering kali dianggap sebagai investasi berisiko tinggi oleh para pemodal di Indonesia. Berbeda dengan industri perangkat lunak atau aplikasi layanan (SaaS), pengembangan game memerlukan waktu bertahun-tahun sebelum produknya bisa dilempar ke pasar dan menghasilkan pendapatan. Ketidakpastian mengenai apakah sebuah game akan laku atau tidak di pasaran menjadi alasan utama mengapa aliran dana ke sektor ini masih tersendat.

DeanKT berpendapat bahwa perlu ada sinergi yang lebih kuat antara pemerintah, sektor swasta, dan komunitas untuk membangun ekosistem yang sehat. Meskipun pemerintah telah mulai menunjukkan perhatian melalui berbagai regulasi, seperti Peraturan Presiden Nomor 19 Tahun 2024 tentang Percepatan Pengembangan Industri Gim Nasional, implementasi di lapangan masih memerlukan waktu. Dukungan berupa insentif pajak, kemudahan akses pendanaan, serta penyediaan infrastruktur teknologi sangat dibutuhkan oleh para pelaku industri.

Di sisi lain, edukasi kepada calon investor mengenai potensi jangka panjang industri game juga sangat krusial. Industri game global saat ini memiliki nilai pasar yang melampaui industri film dan musik digabungkan. Jika Indonesia hanya menjadi pasar atau konsumen saja, maka potensi ekonomi yang sangat besar ini akan terus mengalir ke luar negeri. DeanKT berharap ke depannya akan ada lebih banyak “malaikat investor” yang berani bertaruh pada kreativitas anak bangsa di sektor ini.

Membangun Masa Depan Game Buatan Indonesia

Meskipun tantangan dana sangat nyata, DeanKT tetap optimis bahwa industri gaming Indonesia memiliki masa depan yang cerah jika dikelola dengan serius. Keberhasilan beberapa game indie asal Indonesia yang viral di kancah internasional menunjukkan bahwa ada pasar yang menantikan karya-karya orisinal dari tanah air. Kuncinya terletak pada bagaimana mengonversi kreativitas tersebut menjadi sebuah model bisnis yang berkelanjutan dan menarik bagi para pemilik modal.

Langkah awal yang bisa dilakukan adalah dengan memperkuat komunitas pengembang dan memberikan panggung yang lebih luas bagi karya-karya lokal di dalam negeri sendiri. Masyarakat Indonesia perlu didorong untuk lebih menghargai dan membeli game orisinal buatan pengembang lokal sebagai bentuk dukungan nyata. Dengan basis pengguna yang besar, studio lokal akan memiliki daya tawar yang lebih tinggi saat mencari pendanaan dari investor global maupun domestik.

Sebagai penutup, pernyataan DeanKT menjadi pengingat bagi semua pemangku kepentingan bahwa industri game bukan sekadar hobi atau hiburan semata, melainkan pilar ekonomi kreatif yang sangat potensial. Tanpa keberanian untuk berinvestasi secara finansial, kreativitas anak bangsa hanya akan tetap menjadi potensi yang terpendam. Diperlukan langkah nyata dan kolaborasi lintas sektor agar industri game Indonesia tidak hanya dikenal karena jumlah pemainnya yang banyak, tetapi juga karena kualitas game yang dihasilkan.

Related Post