Indonesia kembali menjadi sorotan dunia terkait isu lingkungan setelah data terbaru dari Copernicus, program observasi Bumi Uni Eropa, menunjukkan bahwa emisi karbon dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di negara ini mencapai 19,7 juta ton hanya dalam periode 1 hingga 7 September 2026. Angka yang mengejutkan ini menempatkan Indonesia sebagai penyumbang emisi karhutla tertinggi di dunia pada periode tersebut, bahkan melampaui emisi yang dihasilkan oleh kebakaran hutan di Rusia yang dikenal memiliki wilayah hutan yang sangat luas. Data ini menggarisbawahi urgensi penanganan masalah karhutla yang terus berulang dan dampaknya yang signifikan terhadap lingkungan global.
Tingginya Emisi Karhutla dan Implikasinya
Angka 19,7 juta ton emisi karbon dalam waktu kurang dari seminggu adalah jumlah yang sangat besar, setara dengan emisi tahunan jutaan kendaraan bermotor atau bahkan emisi total beberapa negara kecil. Emisi ini sebagian besar berasal dari pembakaran lahan gambut, yang merupakan ekosistem unik dan sangat rentan di Indonesia, terutama di pulau Sumatra dan Kalimantan. Lahan gambut yang terbakar melepaskan karbon dioksida dalam jumlah masif yang telah tersimpan selama ribuan tahun, menjadikannya kontributor signifikan terhadap perubahan iklim global. Kebakaran di lahan gambut juga cenderung sulit dipadamkan karena api dapat membara di bawah permukaan tanah selama berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan, melepaskan asap tebal dan partikel berbahaya.
Data yang dirilis oleh Copernicus, sebuah inisiatif yang menyediakan informasi geospasial melalui satelit dan sensor darat, memberikan gambaran yang akurat dan independen mengenai skala bencana ini. Pemantauan satelit memungkinkan para ilmuwan untuk mengukur konsentrasi gas rumah kaca dan partikel di atmosfer, memberikan bukti konkret tentang dampak karhutla. Fakta bahwa Indonesia melampaui Rusia, negara dengan hutan boreal yang luas dan sering mengalami kebakaran besar, menunjukkan karakteristik unik dan tingkat keparahan karhutla di Indonesia. Kebakaran di Rusia umumnya terjadi di hutan mineral, sementara di Indonesia, pembakaran lahan gambut melepaskan karbon yang jauh lebih padat per unit area, sehingga menghasilkan emisi yang lebih tinggi meskipun area yang terbakar mungkin tidak seluas di Rusia.
Also Read
Latar Belakang dan Akar Masalah Karhutla di Indonesia
Masalah karhutla di Indonesia bukanlah fenomena baru; ini adalah krisis lingkungan yang berulang setiap tahun, terutama selama musim kemarau panjang yang diperparah oleh fenomena El Niño. Akar masalahnya kompleks dan melibatkan berbagai faktor, mulai dari praktik pembukaan lahan untuk perkebunan kelapa sawit dan hutan tanaman industri (HTI) yang sering menggunakan metode bakar, hingga pembakaran lahan ilegal oleh masyarakat untuk pertanian subsisten. Selain itu, faktor kelalaian manusia, seperti membuang puntung rokok sembarangan atau pembakaran sampah yang tidak terkontrol, juga sering menjadi pemicu awal kebakaran.
Lahan gambut, yang mencakup jutaan hektar di Indonesia, menjadi titik fokus utama dalam masalah ini. Lahan gambut adalah tanah yang terbentuk dari akumulasi bahan organik yang belum terurai sempurna dalam kondisi jenuh air. Ketika lahan gambut dikeringkan untuk tujuan pertanian atau perkebunan, ia menjadi sangat mudah terbakar. Begitu api menyala di lahan gambut, ia dapat membakar lapisan gambut yang dalam, menghasilkan asap tebal yang mengandung partikel PM2.5 dan gas beracun lainnya. Asap ini tidak hanya menyebabkan masalah kesehatan serius bagi penduduk lokal dan regional, seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), tetapi juga menyebar melintasi batas negara, menciptakan kabut asap transnasional yang berdampak pada negara-negara tetangga di Asia Tenggara.
Pemerintah Indonesia telah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi masalah ini, termasuk pembentukan Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM), peningkatan patroli dan penegakan hukum, serta edukasi masyarakat. Namun, skala masalah yang besar dan tantangan geografis yang luas membuat upaya-upaya ini seringkali menghadapi hambatan. Diperlukan pendekatan yang lebih komprehensif dan berkelanjutan, melibatkan semua pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, sektor swasta, hingga masyarakat adat dan komunitas lokal, untuk mencegah dan menanggulangi karhutla secara efektif.
Dampak dari emisi karhutla yang tinggi ini sangat luas, mencakup aspek lingkungan, kesehatan, dan ekonomi. Secara lingkungan, pelepasan karbon dalam jumlah besar mempercepat laju perubahan iklim global, mengancam keanekaragaman hayati, dan merusak ekosistem vital. Dari sisi kesehatan, kabut asap menyebabkan peningkatan drastis kasus ISPA, terutama pada anak-anak dan lansia, serta berpotensi menimbulkan masalah kesehatan jangka panjang. Secara ekonomi, karhutla mengganggu sektor pariwisata, penerbangan, dan pertanian, menyebabkan kerugian finansial yang signifikan. Oleh karena itu, penanganan karhutla bukan hanya tanggung jawab nasional, tetapi juga merupakan kontribusi penting Indonesia terhadap upaya global dalam mitigasi perubahan iklim dan perlindungan lingkungan.




