Everton Dijual Rp 8 Triliun, Langkah Besar Farhad Moshiri

Author Image

Mais Nurdin

10 Oktober 2026, 10:00 WIB

Kabar mengejutkan datang dari kancah sepak bola kasta tertinggi Inggris, di mana klub bersejarah Everton Football Club secara resmi dinyatakan masuk ke dalam bursa penjualan. Pemilik mayoritas klub, Farhad Moshiri, dilaporkan telah siap untuk melepas seluruh kepemilikan sahamnya kepada investor baru yang mampu membawa stabilitas finansial bagi tim asal Merseyside tersebut. Berdasarkan laporan terkini, nilai taksiran untuk akuisisi saham mayoritas klub berjuluk The Toffees ini dipatok mulai dari angka Rp 8 triliun atau sekitar 400 hingga 500 juta poundsterling.

Detail Penjualan dan Kondisi Finansial Klub

Keputusan Farhad Moshiri untuk menjual Everton bukanlah tanpa alasan yang kuat. Sejak mengambil alih kepemilikan pada tahun 2016, pengusaha berdarah Inggris-Iran tersebut telah mengucurkan dana investasi yang sangat besar, namun prestasi di lapangan belum menunjukkan hasil yang sebanding dengan pengeluaran tersebut. Sebaliknya, Everton justru terjebak dalam krisis finansial yang cukup pelik dalam beberapa musim terakhir. Penjualan ini dipandang sebagai langkah darurat sekaligus strategis untuk menyelamatkan masa depan klub dari ancaman kebangkrutan atau sanksi lebih lanjut dari otoritas liga.

Nilai Rp 8 triliun yang dipatok oleh Moshiri dianggap sebagai angka yang realistis namun menantang bagi para calon investor. Angka tersebut mencakup nilai aset klub, hak siar yang menggiurkan dari Premier League, serta basis penggemar global yang sangat loyal. Namun, calon pembeli juga harus mempertimbangkan beban utang yang saat ini masih ditanggung oleh klub. Proses negosiasi diperkirakan akan berlangsung cukup alot mengingat struktur utang Everton yang melibatkan beberapa pihak ketiga, termasuk pinjaman yang digunakan untuk operasional harian klub selama masa transisi ini.

Para analis ekonomi olahraga menyebutkan bahwa Everton tetap memiliki daya tarik yang tinggi di mata investor global, terutama dari Amerika Serikat dan Timur Tengah. Meskipun sedang mengalami kesulitan, status Everton sebagai salah satu klub pendiri Liga Inggris dan sejarah panjang mereka di kasta tertinggi menjadi nilai jual yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Investor baru diharapkan tidak hanya membawa modal segar untuk belanja pemain, tetapi juga visi manajemen yang lebih sehat untuk memperbaiki neraca keuangan klub yang sempat memerah.

Pembangunan Stadion Baru dan Dampak PSR

Salah satu faktor utama yang membuat nilai Everton tetap tinggi sekaligus menjadi beban adalah pembangunan stadion baru di Bramley-Moore Dock. Proyek ambisius ini merupakan warisan terbesar dari era Farhad Moshiri yang bertujuan untuk memindahkan Everton dari stadion tua mereka, Goodison Park, ke fasilitas modern di tepi laut Liverpool. Stadion baru ini diharapkan menjadi mesin uang baru bagi klub melalui penjualan tiket yang lebih banyak, fasilitas perhotelan, serta penggunaan stadion untuk acara-acara non-sepak bola di masa depan.

Namun, biaya pembangunan stadion yang terus membengkak telah memberikan tekanan luar biasa pada arus kas klub. Hal ini diperparah dengan aturan Profit and Sustainability Rules (PSR) yang diterapkan oleh Premier League. Everton telah merasakan dampak nyata dari pelanggaran aturan finansial ini dengan menerima pengurangan poin pada musim lalu, yang hampir membuat mereka terdegradasi ke divisi Championship. Oleh karena itu, pemilik baru nantinya harus memiliki strategi yang sangat matang untuk menyeimbangkan antara penyelesaian pembangunan stadion dan kepatuhan terhadap regulasi finansial liga agar tidak lagi terkena sanksi yang merugikan tim secara kompetitif.

Selain masalah stadion, tantangan lain yang harus dihadapi adalah restrukturisasi skuad. Selama beberapa tahun terakhir, Everton seringkali melakukan pembelian pemain dengan harga tinggi namun gagal memberikan kontribusi maksimal. Manajemen baru perlu menerapkan kebijakan transfer yang lebih cerdas dan berbasis data, serupa dengan model yang diterapkan oleh klub-klub sukses lainnya di Liga Inggris. Dengan dana segar dari hasil penjualan klub, diharapkan Everton bisa kembali bersaing di papan tengah atau bahkan menembus zona Eropa tanpa harus melanggar aturan finansial yang ada.

Masa Depan Everton di Bawah Kepemilikan Baru

Proses penjualan Everton ini menandai akhir dari sebuah era dan awal dari babak baru bagi para pendukung setia mereka. Suporter Everton, yang dikenal sangat vokal dan loyal, tentu berharap bahwa pemilik baru nantinya adalah pihak yang benar-benar peduli terhadap prestasi klub, bukan sekadar menjadikan Everton sebagai aset spekulasi bisnis. Ketidakpastian kepemilikan selama beberapa bulan terakhir telah menciptakan suasana yang kurang kondusif di sekitar klub, sehingga penyelesaian proses penjualan ini menjadi prioritas utama bagi semua pihak yang terlibat.

Jika proses akuisisi berjalan lancar, Everton diprediksi akan mengalami transformasi besar-besaran dalam dua hingga tiga tahun ke depan. Fokus utama tentu saja adalah memastikan klub tetap bertahan di Premier League sambil menunggu stadion baru selesai sepenuhnya. Keberadaan stadion baru tersebut diprediksi akan meningkatkan nilai valuasi klub secara signifikan, menjadikannya salah satu properti olahraga paling berharga di Inggris. Langkah Moshiri untuk menjual klub saat ini dianggap sebagai momen yang tepat sebelum beban finansial menjadi semakin tidak terkendali.

Secara keseluruhan, penjualan Everton dengan nilai Rp 8 triliun ini merupakan cerminan dari betapa mahalnya industri sepak bola modern saat ini. Bagi Everton, ini adalah kesempatan untuk melakukan reset total dan membangun kembali identitas mereka sebagai klub yang disegani. Dunia sepak bola kini menunggu siapa sosok atau konsorsium yang akan menjadi nakhoda baru bagi The Toffees dan apakah mereka mampu mengembalikan kejayaan klub yang sudah lama meredup di bawah bayang-bayang rival sekota mereka.

Related Post