Fred Kritik Erik ten Hag: Taktik Oke, Manajemen Tim Buruk

Author Image

Mais Nurdin

3 Oktober 2026, 17:00 WIB

Mantan gelandang Manchester United, Fred, baru-baru ini melontarkan pernyataan yang cukup mengejutkan terkait mantan pelatihnya, Erik ten Hag. Pemain asal Brasil yang kini merumput di Liga Turki bersama Fenerbahce tersebut memberikan penilaian jujur mengenai masa kepemimpinan Ten Hag di Old Trafford yang penuh dengan dinamika dan kontroversi.

Dalam sebuah wawancara terbaru, Fred mengakui bahwa Erik ten Hag adalah seorang pelatih yang memiliki pemahaman taktik yang sangat luar biasa dan mendalam. Namun, pujian tersebut segera diikuti dengan kritik pedas yang menyoroti kelemahan fatal sang manajer dalam hal manajemen manusia atau man-management. Fred bahkan tidak segan-segan menyebut kemampuan Ten Hag dalam mengelola ego dan hubungan antar-pemain di dalam tim sebagai sesuatu yang sangat buruk atau “sampah”.

Ketimpangan Antara Visi Taktis dan Pendekatan Personal

Fred menjelaskan bahwa selama berada di bawah asuhan Ten Hag, para pemain merasakan adanya jarak komunikasi yang cukup lebar. Ten Hag dikenal sebagai sosok yang sangat disiplin dan perfeksionis dalam hal strategi di atas lapangan hijau. Ia menuntut setiap pemain untuk mengikuti instruksi taktisnya secara mendetail, mulai dari posisi saat menekan lawan hingga transisi permainan yang cepat. Hal ini sebenarnya membawa dampak positif pada awal kedatangannya, di mana Manchester United berhasil mengakhiri puasa gelar dengan menjuarai Carabao Cup.

Namun, masalah mulai muncul ketika pendekatan yang terlalu kaku tersebut tidak dibarengi dengan kemampuan komunikasi yang baik kepada para pemain. Menurut Fred, seorang pelatih di klub sebesar Manchester United tidak hanya dituntut untuk menjadi jenius taktik, tetapi juga harus mampu menjadi figur ayah atau teman bicara yang baik bagi para pemain bintangnya. Ketidakmampuan Ten Hag untuk merangkul sisi emosional pemain inilah yang dianggap Fred sebagai pemicu utama keretakan di ruang ganti Setan Merah selama beberapa musim terakhir.

Kritik Fred ini seolah mengonfirmasi desas-desus yang selama ini beredar mengenai suasana internal Manchester United yang kurang harmonis. Banyak pihak menilai bahwa Ten Hag terlalu dingin dan seringkali mengambil keputusan sepihak tanpa memberikan penjelasan yang memadai kepada pemain yang bersangkutan. Hal ini menciptakan rasa tidak aman dan ketidakpuasan di kalangan pemain, yang pada akhirnya berdampak pada performa tim secara keseluruhan di atas lapangan.

Rekam Jejak Konflik dengan Pemain Bintang

Pernyataan Fred ini tidak muncul begitu saja tanpa bukti yang nyata. Jika menilik ke belakang, masa jabatan Erik ten Hag di Manchester United memang diwarnai dengan berbagai konflik terbuka dengan sejumlah pemain kunci. Salah satu yang paling fenomenal adalah perselisihannya dengan megabintang Cristiano Ronaldo. Ketegangan tersebut berakhir dengan pemutusan kontrak Ronaldo setelah sang pemain melakukan wawancara kontroversial yang mengkritik manajemen klub dan Ten Hag sendiri.

Tidak berhenti di situ, kasus Jadon Sancho juga menjadi sorotan tajam. Sancho diasingkan dari tim utama selama berbulan-bulan hanya karena masalah disiplin dan perselisihan pendapat di media sosial. Fred melihat bahwa cara Ten Hag menangani situasi seperti ini cenderung destruktif bagi moral tim. Alih-alih menyelesaikan masalah secara internal dengan pendekatan persuasif, Ten Hag lebih memilih untuk menunjukkan otoritasnya secara keras, yang seringkali justru memperburuk keadaan.

Selain itu, perlakuan terhadap pemain senior seperti David de Gea dan Harry Maguire juga sempat menjadi perbincangan. De Gea dilepas dengan cara yang dianggap kurang terhormat setelah bertahun-tahun mengabdi, sementara Maguire dicopot dari jabatan kapten dan sempat ditepikan dari skuad utama. Fred menilai bahwa pola-pola seperti inilah yang menunjukkan bahwa Ten Hag sangat lemah dalam menjaga keharmonisan skuad, yang merupakan elemen krusial untuk meraih kesuksesan jangka panjang di kompetisi seketat Liga Inggris.

Dampak Terhadap Stabilitas dan Masa Depan Tim

Kelemahan dalam manajemen tim ini pada akhirnya menjadi salah satu faktor yang membuat posisi Ten Hag di Manchester United terus digoyang hingga akhirnya ia resmi diberhentikan. Meskipun manajemen klub sempat memberikan dukungan finansial yang besar untuk mendatangkan pemain-pemain pilihannya, ketidakmampuan untuk menyatukan visi pemain lama dan pemain baru dalam satu ikatan emosional yang kuat membuat performa tim menjadi tidak konsisten.

Fred menekankan bahwa di era sepak bola modern, pemain membutuhkan lebih dari sekadar instruksi di papan tulis. Mereka membutuhkan kepercayaan dan rasa dihargai. Ketika seorang pelatih gagal membangun fondasi kepercayaan tersebut, maka taktik secanggih apa pun tidak akan bisa berjalan dengan maksimal karena para pemain tidak memberikan seratus persen komitmen mereka di lapangan. Hal ini menjadi pelajaran berharga bagi Manchester United dalam memilih suksesor yang tidak hanya ahli dalam strategi, tetapi juga memiliki kecerdasan emosional yang tinggi.

Ke depannya, kritik dari mantan pemain seperti Fred ini diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi bagi para pelatih lain. Kesuksesan sebuah tim sepak bola adalah perpaduan antara kecerdasan taktik dan keharmonisan hubungan antarmanusia. Tanpa salah satunya, sebuah klub besar akan selalu kesulitan untuk kembali ke masa kejayaannya. Bagi Fred, pengalamannya di bawah Ten Hag adalah sebuah pelajaran tentang bagaimana sebuah kepemimpinan yang kaku dapat merusak potensi besar yang dimiliki oleh sebuah tim bertabur bintang.

Related Post