Imajinasi manusia mengenai masa depan selalu menjadi topik yang menarik untuk dibahas, terutama ketika kita melihat kembali bagaimana orang-orang di masa lalu membayangkan kehidupan di abad ke-21. Melalui berbagai karya seni, ilustrasi, dan literatur retrofuturistik, kita dapat melihat visi yang luar biasa tentang mobil terbang, kota di bawah laut, hingga asisten rumah tangga robotik yang canggih. Gambaran-gambaran ini tidak hanya mencerminkan kreativitas, tetapi juga harapan dan ketakutan masyarakat pada era tersebut terhadap perkembangan teknologi yang sangat pesat.
Memahami Konsep Retrofuturisme dalam Sejarah
Retrofuturisme adalah sebuah gerakan dalam seni kreatif yang menunjukkan pengaruh dari penggambaran masa depan yang dihasilkan di era sebelumnya. Secara sederhana, ini adalah cara orang zaman dulu melihat “masa depan” yang sekarang menjadi masa kini atau bahkan masa lalu bagi kita. Fenomena ini biasanya terbagi menjadi dua sub-kategori utama: masa depan sebagaimana yang dibayangkan dari sudut pandang masa lalu, dan masa lalu sebagaimana yang dibayangkan dari sudut pandang masa depan. Ilustrasi yang sering kita lihat, seperti kartu pos dari tahun 1900-an atau majalah sains populer dari tahun 1950-an, memberikan wawasan mendalam tentang paradigma berpikir masyarakat saat itu.
Pada awal abad ke-20, tepatnya sekitar tahun 1900 hingga 1910, seniman Prancis seperti Jean-Marc Côté memproduksi serangkaian gambar yang disebut “En L’An 2000” (Di Tahun 2000). Dalam ilustrasi tersebut, mereka membayangkan petugas pemadam kebakaran yang memiliki sayap mekanis untuk memadamkan api di gedung tinggi, serta para petani yang mengoperasikan mesin pemanen otomatis dari jarak jauh. Meskipun beberapa prediksi ini terdengar konyol sekarang, esensi dari ide tersebut—seperti otomatisasi pertanian dan alat bantu terbang personal—sebenarnya telah terwujud dalam bentuk yang berbeda, seperti penggunaan drone dan mesin pertanian modern yang dikendalikan oleh GPS.
Also Read
Memasuki era 1950-an dan 1960-an, yang sering disebut sebagai “Era Atom” atau “Era Ruang Angkasa”, imajinasi tentang masa depan bergeser ke arah penjelajahan luar angkasa dan energi nuklir. Masyarakat saat itu sangat optimis bahwa pada tahun 2000, setiap keluarga akan memiliki mobil terbang bertenaga nuklir di garasi mereka. Visi ini sangat dipengaruhi oleh persaingan teknologi antara Amerika Serikat dan Uni Soviet dalam perlombaan ruang angkasa. Mereka membayangkan kehidupan di koloni bulan, liburan ke planet Mars, dan kota-kota yang tertutup kubah kaca raksasa untuk mengatur cuaca secara artifisial.
Prediksi Teknologi yang Menjadi Kenyataan dan yang Meleset
Sangat menarik untuk membedah mana dari imajinasi orang zaman dulu yang benar-benar menjadi kenyataan dan mana yang tetap menjadi fantasi. Salah satu prediksi yang paling akurat adalah konsep komunikasi video jarak jauh. Dalam banyak ilustrasi lama, orang digambarkan berbicara melalui layar besar yang terhubung dengan kabel rumit. Saat ini, kita mengenal teknologi tersebut sebagai panggilan video melalui aplikasi seperti Zoom atau WhatsApp. Begitu juga dengan konsep “perpustakaan digital” atau akses informasi instan yang kini kita nikmati melalui internet dan perangkat ponsel pintar.
Namun, ada banyak pula prediksi yang meleset jauh dari realitas. Salah satu yang paling ikonik adalah mobil terbang. Meskipun prototipe mobil terbang sudah ada saat ini, penggunaannya secara massal seperti yang dibayangkan orang zaman dulu masih terhambat oleh regulasi keselamatan, infrastruktur, dan efisiensi energi. Selain itu, orang zaman dulu sering membayangkan bahwa kita akan mengonsumsi “pil makanan” sebagai pengganti makanan lengkap untuk menghemat waktu. Kenyataannya, budaya kuliner justru semakin berkembang dan manusia tetap lebih memilih makanan nyata daripada sekadar nutrisi dalam bentuk kapsul.
Kegagalan prediksi ini sering kali disebabkan oleh ketidakmampuan orang masa lalu untuk membayangkan revolusi digital dan mikroprosesor. Mereka cenderung membayangkan masa depan sebagai versi yang lebih besar, lebih cepat, dan lebih kuat dari teknologi mekanis yang mereka miliki saat itu. Mereka tidak menyangka bahwa kemajuan terbesar manusia justru terletak pada pengecilan komponen (miniaturisasi) dan kekuatan perangkat lunak, bukan sekadar mesin uap atau mesin pembakaran dalam yang lebih besar.
Dampak Budaya dan Relevansi Imajinasi Masa Lalu
Melihat kembali gambar-gambar retrofuturistik ini memberikan kita perspektif tentang bagaimana nilai-nilai sosial mempengaruhi inovasi. Misalnya, pada tahun 1950-an, peran gender masih sangat kaku, sehingga robot asisten rumah tangga sering digambarkan membantu ibu rumah tangga dengan celemek. Ini menunjukkan bahwa meskipun mereka bisa membayangkan teknologi yang sangat maju, mereka sering kali kesulitan membayangkan perubahan struktur sosial yang akan menyertainya. Hal ini menjadi pelajaran penting bagi kita saat ini ketika mencoba memprediksi masa depan di tengah perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang masif.
Selain itu, estetika retrofuturisme tetap populer dalam budaya populer modern, mulai dari film seperti “Blade Runner” hingga permainan video seperti “Fallout”. Estetika ini menggabungkan desain futuristik dengan elemen vintage, menciptakan rasa nostalgia sekaligus kekaguman. Bagi para desainer dan insinyur masa kini, melihat kembali visi masa lalu dapat memicu inspirasi baru. Terkadang, ide-ide yang dianggap mustahil seratus tahun lalu hanya membutuhkan waktu dan pendekatan teknologi yang tepat untuk bisa diwujudkan.
Pada akhirnya, gambaran masa depan versi orang zaman dulu adalah bukti dari sifat dasar manusia yang selalu ingin tahu dan tidak pernah puas dengan batasan yang ada. Meskipun banyak dari visi tersebut yang terlihat naif atau berlebihan, semangat inovasi yang terkandung di dalamnya adalah motor penggerak peradaban. Kita mungkin akan tertawa melihat bagaimana orang tahun 1920 membayangkan kita hari ini, namun kita juga harus bertanya-tanya: bagaimana orang di tahun 2124 akan melihat bayangan kita tentang masa depan mereka nanti? Mungkin saja, prediksi kita tentang kecerdasan buatan dan perjalanan antarbintang akan terlihat sama uniknya di mata mereka.




