Indonesia Mempertahankan Klaim Kepemilikan Pulau Ambalat dari Malaysia pada 2026

Author Image

Nadia Anjani

20 Agustus 2026, 00:45 WIB

Indonesia sedang mempertahankan klaim atas Pulau Ambalat yang menjadi sengketa dengan Malaysia hingga Agustus 2026, wilayah ini terletak di perairan strategis Laut Sulawesi dekat perbatasan Indonesia-Malaysia. Sengketa ini telah berlangsung sejak tahun 1979 ketika Malaysia mengklaim wilayah itu secara sepihak.

Pulau Ambalat bukan sebuah pulau, melainkan sebuah blok laut dasar seluas sekitar 15.235 kilometer persegi dengan kedalaman sekitar 2,5 kilometer dan berjarak 80 mil laut dari pantai Kalimantan Timur. Wilayah ini kaya akan potensi sumber daya minyak dan gas bumi yang diperkirakan dapat dimanfaatkan Indonesia dan Malaysia dalam jangka waktu panjang.

Sejak perjanjian Tapal Batas Landas Kontinen yang ditandatangani pada 27 Oktober 1969 dan diratifikasi Indonesia pada 7 November 1969, wilayah Ambalat menjadi sumber ketegangan karena Malaysia memasukkan Ambalat ke wilayahnya secara sepihak pada tahun 1979. Indonesia segera memprotes klaim tersebut pada tahun 1980, memicu sengketa yang berlangsung hingga kini.

Diplomasi intens antara Indonesia dan Malaysia telah dilakukan sejak tahun 2002 sampai setidaknya 2012, namun belum mencapai penyelesaian final. Sengketa ini semakin memanas ketika Malaysia merebut Pulau Sipadan dan Ligitan pada tahun 2002, yang menjadi dasar klaim Malaysia atas Ambalat. Indonesia mengacu pada ketentuan UNCLOS 1982 yang menyatakan Indonesia sebagai negara kepulauan harus menarik garis pangkal dari kepulauan terluar, berbeda dengan Malaysia yang merupakan negara pantai biasa.

Upaya Diplomasi dan Ketegangan Regional

Upaya penyelesaian sengketa melibatkan berbagai pertemuan bilateral dan diplomasi, namun faktor sumber daya minyak dan gas bumi di Blok Ambalat menjadi kendala utama. Sengketa ini berdampak pada hubungan bilateral Indonesia dan Malaysia serta stabilitas kawasan perairan di Laut Sulawesi dan Laut Natuna.

Potensi Sumber Daya dan Dampak Ekonomi

Blok Ambalat memiliki potensi minyak dan gas bumi yang signifikan. Pemanfaatan sumber daya ini diharapkan dapat memberikan keuntungan ekonomi besar bagi Indonesia, terutama bagi wilayah Kalimantan Timur. Namun, ketidakpastian kepemilikan membuat eksplorasi dan pengelolaan sumber daya di wilayah ini belum maksimal.

Reaksi dan Pernyataan Resmi

Menurut laporan dari kumparan.com, seorang pejabat Kementerian Luar Negeri Indonesia menyatakan,

"Indonesia konsisten mempertahankan hak kedaulatan dan kedaulatan wilayah lautnya termasuk Blok Ambalat sesuai dengan hukum internasional."

Pernyataan ini menegaskan sikap pemerintah Indonesia dalam menghadapi sengketa yang telah berlangsung puluhan tahun tersebut.

Sengketa Blok Ambalat Indonesia vs Malaysia, Bagaimana Duduk Permasalahannya? | Jurnalika

Informasi Tambahan

Sengketa Pulau Ambalat menjadi salah satu contoh penting dalam hukum maritim internasional terkait batas wilayah laut dan sumber daya alam di kawasan perbatasan. Hingga saat ini, kedua negara terus berupaya melalui jalur diplomasi untuk mencapai solusi terbaik tanpa menimbulkan konflik militer.

Peristiwa Tahun Keterangan
Perjanjian Tapal Batas Landas Kontinen 1969 Ditandatangani dan diratifikasi Indonesia
Klaim Malaysia atas Ambalat 1979 Malaysia memasukkan Ambalat ke wilayahnya secara sepihak
Protes Indonesia 1980 Indonesia memprotes klaim Malaysia
Rebut Pulau Sipadan dan Ligitan 2002 Malaysia merebut pulau tersebut, memperkuat klaim atas Ambalat
Diplomasi intensif 2002-2012 Upaya penyelesaian sengketa belum final

Related Post