Kekalahan Spurs di Anfield: Kutukan Berlanjut Sejak Era Modric

Author Image

Mais Nurdin

16 September 2026, 06:20 WIB

Tottenham Hotspur harus mengakui keunggulan tuan rumah Liverpool setelah takluk dengan skor 1-3 dalam pertandingan babak ketiga Carabao Cup yang berlangsung di Anfield. Hasil ini tidak hanya menghentikan langkah Spurs di kompetisi piala domestik, tetapi juga memperpanjang catatan buruk mereka di markas The Reds, sebuah rekor yang sudah berlangsung sangat lama, bahkan sejak era ketika gelandang legendaris Luka Modric masih menjadi bagian integral dari skuad Tottenham.

Laju Tottenham Terhenti di Carabao Cup

Pertandingan Carabao Cup ini menjadi ajang penting bagi kedua tim, meskipun dengan prioritas yang mungkin sedikit berbeda. Bagi Tottenham Hotspur, kompetisi piala domestik seringkali dipandang sebagai kesempatan terbaik untuk mengakhiri puasa gelar yang telah berlangsung puluhan tahun. Oleh karena itu, kekalahan di babak awal ini tentu menjadi pukulan telak bagi ambisi klub dan para penggemar. Manajer dan staf pelatih mungkin telah melakukan rotasi pemain, namun harapan untuk melaju jauh tetap tinggi, mengingat pentingnya trofi bagi sejarah klub.

Di sisi lain, Liverpool, yang dikenal dengan kedalaman skuadnya, juga memanfaatkan ajang ini untuk memberikan menit bermain kepada pemain-pemain pelapis atau mereka yang baru kembali dari cedera, sambil tetap menjaga momentum kemenangan. Kemenangan 3-1 menunjukkan dominasi mereka di kandang sendiri, menegaskan status Anfield sebagai salah satu stadion paling angker bagi tim tamu, terutama bagi Tottenham. Gol-gol yang tercipta dalam pertandingan tersebut mencerminkan efektivitas serangan Liverpool dan mungkin juga beberapa kelemahan di lini pertahanan Tottenham yang perlu dievaluasi lebih lanjut.

Kekalahan ini memaksa Tottenham untuk mengalihkan fokus sepenuhnya ke kompetisi Liga Primer dan, jika lolos, kompetisi Eropa. Tekanan untuk meraih hasil positif di liga akan semakin meningkat, terutama setelah tersingkir dari salah satu jalur menuju trofi. Para penggemar tentu berharap tim kesayangan mereka dapat segera bangkit dan menunjukkan performa yang lebih konsisten di sisa musim ini.

Kutukan Anfield: Sejak Era Luka Modric

Salah satu sorotan utama dari kekalahan Tottenham di Anfield adalah fakta historis yang menyertainya. Terakhir kali Tottenham Hotspur berhasil meraih kemenangan di kandang Liverpool adalah pada era ketika Luka Modric masih menjadi jenderal lapangan tengah mereka. Ini bukan sekadar catatan statistik biasa, melainkan sebuah indikator betapa panjangnya periode tanpa kemenangan bagi Spurs di salah satu stadion paling ikonik di Inggris. Luka Modric, yang kini menjadi salah satu gelandang terbaik dunia dan ikon Real Madrid, meninggalkan Tottenham pada tahun 2012. Artinya, sudah lebih dari satu dekade Tottenham tidak mampu menaklukkan Anfield.

Pada masa Modric membela Tottenham (2008-2012), Spurs adalah tim yang sedang dalam fase pembangunan dan mulai menunjukkan potensi untuk bersaing di papan atas Liga Primer. Bersama pemain-pemain seperti Gareth Bale, Rafael van der Vaart, dan Modric sendiri, Tottenham mampu menyajikan sepak bola menyerang yang atraktif dan bahkan berhasil menembus Liga Champions. Kemenangan di Anfield pada masa itu adalah bukti bahwa Spurs memiliki kualitas untuk menantang tim-tim besar. Namun, sejak kepergian Modric, dan seiring dengan evolusi kedua klub, dominasi Liverpool di Anfield atas Tottenham semakin tak terbantahkan.

Rentetan hasil buruk ini bukan hanya sekadar angka, melainkan juga memiliki dampak psikologis yang signifikan. Setiap kali Tottenham bertandang ke Anfield, bayang-bayang sejarah kekalahan dan kesulitan selalu menghantui. Ini menciptakan semacam “kutukan” yang sulit dipatahkan, di mana faktor mental seringkali ikut berperan selain kualitas teknis di lapangan. Bagi para pemain dan staf pelatih Tottenham saat ini, memutus rantai kekalahan ini adalah sebuah tantangan besar yang belum berhasil mereka atasi.

Implikasi dan Tantangan ke Depan bagi Tottenham

Kekalahan di Carabao Cup dan rekor buruk di Anfield ini memiliki implikasi yang lebih luas bagi Tottenham Hotspur. Pertama, ini menambah panjang daftar kegagalan mereka dalam meraih trofi, sebuah isu sensitif yang terus menghantui klub dan para penggemar. Setiap musim, harapan selalu membumbung tinggi, namun pada akhirnya seringkali berakhir dengan kekecewaan. Tekanan untuk memenangkan gelar akan terus menjadi beban berat bagi setiap manajer yang menukangi Spurs.

Kedua, hasil ini juga menyoroti perbedaan level antara Tottenham dan tim-tim elite seperti Liverpool, terutama ketika bermain di kandang lawan yang sulit. Meskipun Tottenham telah berinvestasi besar dalam skuad dan fasilitas, konsistensi untuk bersaing di level tertinggi secara reguler masih menjadi pekerjaan rumah. Kedalaman skuad, mentalitas pemenang, dan kemampuan untuk tampil prima di bawah tekanan adalah aspek-aspek yang terus diuji.

Ke depan, Tottenham harus belajar dari kekalahan ini dan menjadikannya motivasi untuk tampil lebih baik. Fokus utama mereka kini adalah mengamankan posisi di Liga Primer yang memungkinkan mereka berkompetisi di Eropa musim depan, serta berjuang di kompetisi piala lainnya jika masih ada. Memutus “kutukan Anfield” mungkin bukan prioritas utama saat ini, tetapi itu akan menjadi pencapaian simbolis yang sangat berarti ketika akhirnya terjadi. Tantangan bagi manajer dan para pemain adalah membangun tim yang tidak hanya memiliki kualitas teknis, tetapi juga ketahanan mental untuk menghadapi tekanan dan membalikkan sejarah buruk di stadion-stadion angker seperti Anfield.

Perjalanan Tottenham Hotspur musim ini masih panjang, dan ada banyak kesempatan untuk membuktikan diri. Namun, kekalahan di Anfield ini kembali mengingatkan mereka akan standar tinggi yang harus dicapai untuk bersaing di puncak sepak bola Inggris, sebuah standar yang telah lama dipegang teguh oleh tim-tim seperti Liverpool.

Related Post