Liam Gallagher Bela Man City, Sebut Rival Lain Korup

Author Image

Mais Nurdin

2 Oktober 2026, 14:20 WIB

Vokalis legendaris dari band Oasis, Liam Gallagher, kembali menunjukkan loyalitasnya yang tidak tergoyahkan kepada klub sepak bola favoritnya, Manchester City. Di tengah badai hukum yang sedang dihadapi oleh klub berjuluk The Citizens tersebut terkait dugaan pelanggaran aturan finansial, Liam muncul ke publik untuk memberikan pembelaan yang sangat vokal. Melalui pernyataan-pernyataannya, ia tidak hanya membela klub kesayangannya, tetapi juga melontarkan kritik tajam kepada klub-klub rival besar di Liga Inggris.

Pernyataan Liam Gallagher ini muncul sebagai respons atas tekanan publik dan media yang terus menyudutkan Manchester City terkait 115 dakwaan pelanggaran aturan Financial Fair Play (FFP) yang diajukan oleh Premier League. Liam, yang dikenal dengan kepribadiannya yang blak-blakan, menuduh bahwa klub-klub seperti Arsenal, Manchester United, dan Liverpool adalah pihak-pihak yang sebenarnya bermasalah. Ia bahkan menggunakan istilah “korup” untuk menggambarkan situasi yang menurutnya merupakan upaya sistematis untuk menjatuhkan dominasi Manchester City di kancah sepak bola Inggris.

Loyalitas Tanpa Batas Sang Frontman Oasis

Bagi para penggemar musik dan sepak bola, keterikatan Liam Gallagher dengan Manchester City bukanlah hal yang baru. Sejak era 1990-an, Liam bersama kakaknya, Noel Gallagher, selalu menjadi representasi pendukung setia City, bahkan jauh sebelum klub tersebut diakuisisi oleh Sheikh Mansour dan menjadi kekuatan dominan di Eropa. Loyalitas ini kembali diuji saat Manchester City menghadapi persidangan independen yang bisa menentukan masa depan klub, termasuk ancaman pengurangan poin hingga degradasi.

Dalam pandangan Liam, kesuksesan yang diraih Manchester City dalam satu dekade terakhir telah membuat klub-klub tradisional yang selama ini mendominasi merasa terancam. Ia berargumen bahwa serangan hukum yang dialami City saat ini adalah bentuk kecemburuan dari para rival. Menurutnya, klub-klub seperti Manchester United, Liverpool, dan Arsenal tidak mampu menandingi kehebatan City di atas lapangan, sehingga mereka mencoba mencari celah melalui regulasi administratif untuk menghentikan laju tim asuhan Pep Guardiola tersebut.

Liam Gallagher sering kali menggunakan platform media sosialnya untuk berinteraksi dengan para penggemar dan memberikan komentar pedas terhadap kritik yang dialamatkan kepada City. Baginya, tuduhan-tuduhan tersebut hanyalah kebisingan yang tidak berdasar. Ia meyakini bahwa Manchester City telah membangun kesuksesannya dengan cara yang benar dan profesional, sementara para rivalnya hanya bisa mengeluh karena tertinggal jauh dalam hal prestasi dan kualitas permainan.

Kontroversi 115 Dakwaan dan Tekanan Rival

Kasus yang menimpa Manchester City memang menjadi salah satu skandal terbesar dalam sejarah Premier League. Sebanyak 115 dakwaan tersebut mencakup periode sembilan tahun, mulai dari 2009 hingga 2018. Dakwaan-dakwaan ini meliputi ketidakakuratan laporan keuangan, rincian remunerasi manajer dan pemain yang tidak transparan, hingga kegagalan dalam mematuhi aturan FFP UEFA serta kerja sama dalam investigasi Premier League. Jika terbukti bersalah, sanksi yang dijatuhkan bisa sangat berat dan mengubah peta persaingan sepak bola Inggris secara drastis.

Namun, bagi pendukung fanatik seperti Liam Gallagher, angka-angka dan dokumen hukum tersebut tidak lebih dari sekadar alat politik. Ia melihat adanya standar ganda dalam penerapan aturan di Liga Inggris. Liam menyindir bahwa klub-klub besar lainnya juga memiliki sejarah panjang dalam pengeluaran dana besar, namun mereka seolah-olah mendapatkan perlindungan atau tidak mendapatkan sorotan yang sama tajamnya dengan Manchester City. Sindirannya kepada Arsenal, Manchester United, dan Liverpool mencerminkan sentimen sebagian besar pendukung City yang merasa klub mereka sedang dikeroyok oleh “kemapanan lama” sepak bola Inggris.

Persaingan antara Manchester City dengan klub-klub tersebut memang telah memanas dalam beberapa tahun terakhir. Arsenal menjadi pesaing terdekat City dalam perebutan gelar juara liga dalam dua musim terakhir, sementara Liverpool di bawah Jurgen Klopp adalah satu-satunya tim yang mampu secara konsisten menantang dominasi City. Di sisi lain, rivalitas sekota dengan Manchester United selalu membawa tensi tinggi. Liam melihat bahwa ketiga klub ini memiliki kepentingan besar untuk melihat City jatuh agar mereka bisa kembali ke puncak tanpa harus bersusah payah meningkatkan kualitas di lapangan.

Dampak Terhadap Citra Liga Inggris dan Masa Depan

Polemik yang melibatkan Liam Gallagher dan pembelaannya terhadap Manchester City ini juga mencerminkan betapa terbelahnya opini publik mengenai integritas Liga Inggris saat ini. Di satu sisi, ada tuntutan agar aturan finansial ditegakkan dengan tegas demi keadilan kompetisi. Di sisi lain, ada anggapan bahwa aturan tersebut justru digunakan untuk membatasi ambisi klub-klub yang ingin mendobrak status quo. Liam Gallagher, dengan gaya bahasanya yang khas, telah menjadi corong bagi mereka yang merasa bahwa sepak bola seharusnya ditentukan oleh apa yang terjadi di lapangan hijau, bukan di ruang sidang.

Ke depannya, hasil dari persidangan Manchester City akan menjadi titik balik yang sangat krusial. Jika City dinyatakan tidak bersalah, maka pernyataan Liam Gallagher akan dianggap sebagai kemenangan moral bagi para pendukung klub. Namun, jika terbukti bersalah, maka kredibilitas klub dan seluruh trofi yang mereka raih selama periode tersebut akan terus dipertanyakan oleh publik. Terlepas dari hasil akhirnya, suara lantang Liam Gallagher telah memastikan bahwa perdebatan ini tidak akan mereda dalam waktu dekat.

Bagi Liam, Manchester City adalah bagian dari identitasnya, sama halnya dengan musik Oasis. Di tengah kabar reuni Oasis yang sedang hangat diperbincangkan, keterlibatannya dalam isu sepak bola ini semakin memperkuat citranya sebagai sosok yang tidak takut melawan arus. Ia tetap berdiri teguh di belakang klubnya, siap menghadapi siapa pun yang dianggapnya mencoba merusak kejayaan Manchester City, sembari terus memberikan sindiran tajam kepada para rival yang ia anggap sebagai bagian dari sistem yang korup.

Related Post