Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) telah menjadi masalah tahunan yang serius di Indonesia, terutama di wilayah yang didominasi oleh lahan gambut. Persoalan ini jauh lebih kompleks daripada sekadar memadamkan api yang terlihat di permukaan, sebab pada lahan gambut, api memiliki kemampuan unik untuk bertahan dan merambat di bawah permukaan tanah, menjadikannya tantangan besar bagi upaya pemadaman. Fenomena ini seringkali menjadi alasan mengapa karhutla di lahan gambut sulit dikendalikan dan cenderung berulang.
Bahaya Api Bawah Permukaan di Lahan Gambut Kering
Pakar dari Institut Teknologi Bandung (ITB) dan berbagai ahli lingkungan lainnya telah berulang kali menyoroti bahwa karakteristik lahan gambut yang unik adalah kunci mengapa karhutla menjadi begitu persisten. Lahan gambut terbentuk dari akumulasi sisa-sisa tumbuhan yang tidak terurai sempurna dalam kondisi anaerobik dan tergenang air selama ribuan tahun. Material organik ini, ketika kering, menjadi bahan bakar yang sangat mudah terbakar dan memiliki daya bakar yang tinggi. Ketika musim kemarau tiba, terutama yang diperparah oleh fenomena El Nino, permukaan air tanah di lahan gambut akan menurun drastis, menyebabkan gambut menjadi kering dan rentan terbakar.
Yang paling berbahaya dari kebakaran di lahan gambut adalah kemampuannya untuk membakar di bawah permukaan tanah. Api tidak hanya membakar vegetasi di atas, tetapi juga merambat ke dalam lapisan gambut yang kering di bawahnya. Kebakaran bawah permukaan ini seringkali tidak terlihat oleh mata telanjang, hanya mengeluarkan asap tipis atau bahkan tidak sama sekali, sehingga sangat sulit dideteksi dan dipadamkan. Petugas pemadam kebakaran harus menyuntikkan air dalam jumlah besar langsung ke dalam tanah untuk memastikan api benar-benar padam, sebuah proses yang memakan waktu, tenaga, dan sumber daya yang tidak sedikit. Jika tidak dipadamkan secara tuntas hingga ke akarnya di bawah tanah, api dapat kembali menyala setelah beberapa waktu, terutama jika angin bertiup kencang atau kondisi kembali kering, memicu siklus karhutla yang berulang.
Also Read
Selain sulit dipadamkan, kebakaran gambut juga melepaskan emisi gas rumah kaca dalam jumlah yang sangat besar. Gambut mengandung karbon dalam konsentrasi tinggi, dan pembakarannya melepaskan karbon dioksida (CO2) serta metana (CH4) ke atmosfer. Emisi ini berkontribusi signifikan terhadap perubahan iklim global, menjadikan Indonesia salah satu penyumbang emisi terbesar di dunia saat terjadi karhutla parah. Asap tebal yang dihasilkan juga menyebabkan kabut asap lintas batas yang berdampak pada kesehatan masyarakat di Indonesia dan negara-negara tetangga.
Akar Permasalahan dan Konteks Karhutla di Indonesia
Permasalahan karhutla di Indonesia memiliki akar yang kompleks, melibatkan faktor alam dan manusia. Secara alami, Indonesia memiliki musim kemarau yang panjang, terutama ketika terjadi fenomena El Nino yang menyebabkan kekeringan ekstrem. Kondisi ini secara signifikan meningkatkan risiko kebakaran, khususnya di lahan gambut yang telah dikeringkan.
Namun, faktor manusia seringkali menjadi pemicu utama. Pembukaan lahan untuk perkebunan kelapa sawit, hutan tanaman industri (HTI), atau pertanian seringkali dilakukan dengan cara membakar. Metode ini dianggap paling murah dan cepat untuk membersihkan lahan. Praktik ini, ditambah dengan pembangunan kanal-kanal drainase yang masif untuk mengeringkan gambut agar bisa ditanami, telah mengubah ekosistem gambut secara drastis. Kanal-kanal ini menurunkan muka air tanah, membuat lapisan gambut di atasnya menjadi sangat kering dan rentan terbakar. Begitu api menyala, baik disengaja maupun tidak, ia akan dengan cepat merambat, baik di permukaan maupun di bawah tanah.
Sejarah karhutla di Indonesia mencatat beberapa peristiwa besar, seperti pada tahun 1997/1998, 2015, dan 2019, yang menyebabkan kerugian ekonomi triliunan rupiah dan dampak kesehatan yang meluas. Peristiwa-peristiwa ini mendorong pemerintah untuk mengambil langkah-langkah serius, termasuk pembentukan Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) serta penerapan moratorium izin baru di lahan gambut. Upaya restorasi gambut melibatkan pembasahan kembali gambut (rewetting), revegetasi, dan revitalisasi mata pencarian masyarakat agar tidak lagi bergantung pada praktik pembakaran.
Tantangan dalam mengatasi karhutla juga terletak pada luasnya wilayah gambut di Indonesia, yang mencapai jutaan hektar. Pengawasan yang efektif terhadap seluruh area ini sangat sulit dilakukan. Selain itu, penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran lahan masih menjadi pekerjaan rumah yang besar. Diperlukan koordinasi yang kuat antara pemerintah pusat dan daerah, aparat penegak hukum, masyarakat, serta sektor swasta untuk mencegah dan menanggulangi karhutla secara komprehensif.
Dampak Luas dan Upaya Pencegahan Berkelanjutan
Dampak karhutla melampaui sekadar kerusakan lingkungan. Secara ekonomi, kerugian akibat karhutla sangat besar, meliputi terganggunya aktivitas penerbangan dan transportasi darat/laut, penurunan produktivitas pertanian dan perkebunan, hingga hilangnya potensi pariwisata. Biaya operasional pemadaman api, termasuk pengerahan ribuan personel, pesawat water bombing, dan peralatan lainnya, juga membebani anggaran negara.
Dari sisi kesehatan, kabut asap yang dihasilkan mengandung partikel halus (PM2.5) dan berbagai zat berbahaya lainnya yang dapat menyebabkan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), asma, penyakit jantung, dan masalah kesehatan lainnya, terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia. Ribuan orang harus dievakuasi dan mendapatkan perawatan medis setiap kali terjadi karhutla besar.
Untuk mengatasi masalah yang berulang ini, pendekatan pencegahan menjadi sangat krusial. Selain restorasi gambut dan penegakan hukum, edukasi dan pemberdayaan masyarakat lokal juga memegang peranan penting. Masyarakat perlu diberikan pemahaman tentang bahaya pembakaran lahan dan alternatif metode pembukaan lahan yang lebih ramah lingkungan. Program-program seperti Desa Peduli Api (DPA) bertujuan untuk melatih dan melibatkan masyarakat dalam upaya pencegahan dan pemadaman dini.
Pemanfaatan teknologi juga semakin dioptimalkan, mulai dari sistem pemantauan titik panas (hotspot) berbasis satelit, drone untuk pengawasan, hingga aplikasi mobile untuk pelaporan kebakaran. Data dan informasi yang akurat mengenai kondisi gambut, cuaca, dan titik api sangat penting untuk pengambilan keputusan yang cepat dan tepat dalam upaya pencegahan dan penanggulangan. Kolaborasi antara pemerintah, akademisi (seperti ITB yang terus melakukan penelitian), sektor swasta, dan masyarakat sipil adalah kunci untuk membangun ketahanan jangka panjang terhadap karhutla.
Dengan pemahaman yang lebih mendalam tentang karakteristik lahan gambut dan kompleksitas masalah karhutla, diharapkan upaya pencegahan dan penanggulangan dapat dilakukan secara lebih efektif. Ini bukan hanya tentang memadamkan api, tetapi tentang mengubah praktik pengelolaan lahan, merestorasi ekosistem yang rusak, dan membangun kesadaran kolektif untuk menjaga kelestarian lingkungan demi masa depan yang lebih baik.




