NASA Cari Solusi Swasta Selamatkan Teleskop Hubble

Author Image

Mais Nurdin

3 November 2026, 10:04 WIB

Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) secara resmi telah membuka peluang bagi perusahaan antariksa swasta untuk mengajukan proposal teknis guna menyelamatkan Teleskop Luar Angkasa Hubble. Langkah ini diambil karena teleskop legendaris tersebut dilaporkan terus mengalami penurunan orbit secara perlahan yang dapat menyebabkan instrumen ilmiah ini jatuh ke atmosfer Bumi dalam beberapa dekade mendatang.

Tantangan Orbit dan Ancaman Penurunan Ketinggian

Teleskop Luar Angkasa Hubble telah mengorbit Bumi sejak diluncurkan pada tahun 1990. Selama lebih dari tiga dekade, Hubble telah memberikan kontribusi yang tak ternilai bagi ilmu pengetahuan manusia, mulai dari menentukan usia alam semesta hingga menemukan energi gelap. Namun, berbeda dengan satelit modern atau Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS), Hubble tidak memiliki sistem propulsi atau mesin pendorong sendiri untuk menyesuaikan posisinya di luar angkasa.

Saat ini, Hubble berada di ketinggian sekitar 530 kilometer di atas permukaan Bumi. Meskipun berada di ruang hampa, masih terdapat sisa-sisa molekul atmosfer yang sangat tipis di ketinggian tersebut. Gesekan dengan molekul-molekul ini, yang dikenal sebagai hambatan atmosfer, secara bertahap memperlambat kecepatan teleskop dan menyebabkan ketinggiannya menurun. Jika tidak ada tindakan yang diambil untuk menaikkan kembali orbitnya (re-boost), Hubble diprediksi akan masuk kembali ke atmosfer Bumi dan terbakar pada pertengahan hingga akhir tahun 2030-an.

NASA kini mencari ide-ide inovatif dari sektor komersial yang mungkin memiliki teknologi untuk mendekati Hubble dan mendorongnya ke orbit yang lebih tinggi dan lebih aman. Upaya ini merupakan bagian dari strategi NASA untuk memanfaatkan ekosistem industri antariksa swasta yang sedang berkembang pesat, seperti SpaceX, Blue Origin, dan perusahaan rintisan teknologi satelit lainnya.

Sejarah Misi Servis dan Era Pasca-Pesawat Ulang-Alik

Di masa lalu, pemeliharaan Teleskop Hubble dilakukan oleh astronot NASA menggunakan armada Pesawat Ulang-Alik (Space Shuttle). Tercatat ada lima misi servis yang berhasil dilakukan antara tahun 1993 hingga 2009. Dalam misi-misi tersebut, astronot tidak hanya memperbaiki instrumen yang rusak dan meningkatkan kamera teleskop, tetapi juga menggunakan mesin pendorong Pesawat Ulang-Alik untuk menaikkan ketinggian orbit Hubble.

Namun, sejak program Pesawat Ulang-Alik dipensiunkan pada tahun 2011, NASA tidak lagi memiliki kendaraan yang mampu membawa manusia atau peralatan berat untuk menjangkau Hubble secara langsung. Hal ini menciptakan celah teknologi yang cukup signifikan dalam upaya pemeliharaan teleskop tersebut. Meskipun Hubble masih berfungsi dengan sangat baik secara teknis, masalah degradasi orbit menjadi ancaman eksistensial yang tidak bisa diabaikan begitu saja oleh komunitas astronomi internasional.

Permintaan informasi (Request for Information/RFI) yang dikeluarkan oleh NASA bertujuan untuk melihat apakah ada wahana antariksa komersial yang dapat melakukan misi serupa tanpa bantuan astronot secara langsung, atau mungkin dengan misi berawak komersial. Salah satu konsep yang sempat mencuat adalah kolaborasi dengan program Polaris milik miliarder Jared Isaacman yang menggunakan kapsul Crew Dragon dari SpaceX. Namun, NASA menegaskan bahwa peluang ini terbuka bagi seluruh pelaku industri yang memiliki solusi teknis yang layak dan aman.

Pentingnya Hubble di Era Teleskop James Webb

Banyak pihak mungkin bertanya mengapa NASA masih berupaya keras menyelamatkan Hubble padahal mereka sudah memiliki Teleskop Luar Angkasa James Webb (JWST) yang jauh lebih canggih. Jawabannya terletak pada perbedaan kemampuan teknis kedua instrumen tersebut. James Webb dirancang untuk mengamati alam semesta dalam spektrum inframerah, yang memungkinkannya melihat menembus awan debu kosmik dan mengamati galaksi-galaksi paling awal yang terbentuk setelah Big Bang.

Di sisi lain, Hubble memiliki keunggulan utama dalam mengamati cahaya tampak (visible light) dan sinar ultraviolet. Kemampuan ultraviolet Hubble sangat unik karena atmosfer Bumi memblokir sebagian besar sinar UV, sehingga pengamatan dari luar angkasa adalah satu-satunya cara untuk mempelajari fenomena energi tinggi di alam semesta. Dengan menjaga Hubble tetap beroperasi, para astronom dapat menggabungkan data dari Hubble dan James Webb untuk mendapatkan gambaran yang lebih lengkap dan komprehensif tentang objek-objek langit.

Selain itu, Hubble masih merupakan salah satu instrumen ilmiah paling produktif yang pernah dibuat manusia. Ribuan makalah ilmiah diterbitkan setiap tahun berdasarkan data dari Hubble. Menyelamatkan teleskop ini bukan hanya soal menjaga sebuah artefak sejarah, tetapi tentang memastikan keberlanjutan riset astronomi yang krusial bagi pemahaman kita tentang kosmos.

Masa depan Teleskop Hubble kini sangat bergantung pada kreativitas dan kemampuan teknis sektor swasta. Jika misi penyelamatan ini berhasil, Hubble diperkirakan dapat terus beroperasi hingga satu atau dua dekade mendatang, memberikan lebih banyak penemuan menakjubkan sebelum akhirnya dipensiunkan secara resmi. Langkah NASA ini juga menandai babak baru dalam eksplorasi luar angkasa, di mana aset negara yang sangat berharga dapat dikelola dan diperpanjang masa pakainya melalui kemitraan strategis dengan industri komersial.

Related Post