Nezar Patria Soroti Risiko AI: Data Salah Dianggap Kebenaran

Author Image

Mais Nurdin

10 September 2026, 14:30 WIB

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi), Nezar Patria, memberikan peringatan serius mengenai perkembangan teknologi Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang kian masif. Dalam sebuah kesempatan, ia menyoroti risiko besar di mana data yang dihasilkan oleh AI sering kali dianggap sebagai kebenaran mutlak, padahal mengandung kesalahan atau bias yang fatal.

Nezar menekankan bahwa di era transformasi digital ini, kemampuan untuk membedakan antara fakta dan halusinasi mesin menjadi kompetensi yang sangat krusial. Menurutnya, tanpa adanya pengawasan manusia yang ketat, teknologi AI justru berpotensi menjadi mesin penyebar disinformasi yang sangat efisien, yang pada akhirnya dapat merusak tatanan informasi di masyarakat luas.

Fenomena Halusinasi AI dan Tantangan Kebenaran

Salah satu risiko utama yang disoroti oleh Nezar Patria adalah fenomena yang dikenal sebagai “AI Hallucination” atau halusinasi AI. Fenomena ini terjadi ketika model bahasa besar (Large Language Models) menghasilkan informasi yang terdengar sangat meyakinkan dan logis secara tata bahasa, namun sebenarnya tidak memiliki dasar fakta di dunia nyata. Hal ini terjadi karena AI bekerja berdasarkan probabilitas statistik kata, bukan berdasarkan pemahaman mendalam terhadap kebenaran objektif.

Kondisi ini menjadi sangat berbahaya ketika masyarakat atau praktisi media menggunakan hasil dari AI secara mentah-mentah tanpa melakukan proses verifikasi ulang. Nezar menjelaskan bahwa jika data yang salah tersebut terus diproduksi dan dikonsumsi, maka akan tercipta sebuah ekosistem informasi di mana kebohongan dianggap sebagai kebenaran hanya karena disajikan dengan format yang rapi oleh teknologi canggih. Hal ini tentu menjadi ancaman bagi integritas informasi, terutama dalam dunia jurnalisme yang menjunjung tinggi akurasi.

Lebih lanjut, Nezar mengingatkan bahwa AI sering kali membawa bias dari data pelatihannya. Jika data yang digunakan untuk melatih AI mengandung prasangka atau ketidakakuratan sejarah, maka AI akan mereproduksi bias tersebut dalam setiap jawaban yang diberikannya. Oleh karena itu, ketergantungan yang berlebihan pada AI tanpa sikap kritis dapat memperburuk polarisasi dan penyebaran stereotip negatif di ruang digital.

Pentingnya Verifikasi dalam Jurnalisme Digital

Dalam konteks jurnalisme, Nezar Patria menegaskan bahwa peran manusia sebagai kurator dan verifikator informasi tidak akan pernah bisa digantikan sepenuhnya oleh mesin. Jurnalisme memiliki tanggung jawab moral dan etika untuk menyajikan kebenaran kepada publik. Oleh karena itu, penggunaan AI dalam ruang redaksi harus dipandang sebagai alat bantu efisiensi, bukan sebagai pengganti proses intelektual jurnalis dalam mencari fakta.

Verifikasi data atau fact-checking harus menjadi garda terdepan dalam menghadapi gempuran konten yang dihasilkan oleh AI. Nezar mendorong para pelaku industri media untuk tetap setia pada kode etik jurnalistik, yang mencakup disiplin verifikasi. Setiap informasi yang dihasilkan oleh alat AI harus melalui proses pengecekan berlapis untuk memastikan bahwa angka, nama, tanggal, dan konteks peristiwa yang disampaikan adalah benar dan dapat dipertanggungjawabkan.

Selain itu, Nezar juga menyinggung pentingnya transparansi dalam penggunaan AI. Media massa diharapkan berani memberikan label atau keterangan jika suatu konten dibuat atau dibantu oleh teknologi AI. Hal ini bertujuan untuk memberikan edukasi kepada pembaca agar mereka lebih waspada dan kritis dalam mengonsumsi informasi tersebut. Transparansi adalah kunci untuk menjaga kepercayaan publik yang saat ini mulai terkikis oleh maraknya berita palsu atau hoaks.

Langkah Strategis Pemerintah dan Etika AI

Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) sendiri telah mengambil langkah-langkah strategis untuk memitigasi risiko penggunaan AI di Indonesia. Salah satunya adalah dengan menerbitkan Surat Edaran (SE) Menteri Kominfo Nomor 9 Tahun 2023 tentang Etika Kecerdasan Buatan. Panduan ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi para pengembang dan pengguna teknologi AI agar tetap mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan, keamanan, dan inklusivitas.

Nezar Patria menyatakan bahwa regulasi dan panduan etika sangat diperlukan agar inovasi teknologi tidak berjalan tanpa arah yang jelas. Pemerintah ingin memastikan bahwa pengembangan AI di Indonesia memberikan manfaat ekonomi dan sosial, tanpa mengorbankan hak-hak warga negara atau stabilitas informasi nasional. Ia juga mengajak seluruh pemangku kepentingan, mulai dari akademisi, pelaku industri, hingga masyarakat sipil, untuk bersama-sama merumuskan tata kelola AI yang adaptif terhadap perkembangan zaman.

Pemerintah juga terus mendorong literasi digital di tingkat masyarakat agar mereka tidak mudah terjebak oleh konten-konten manipulatif yang dihasilkan AI, seperti deepfake atau narasi palsu yang dibuat secara otomatis. Dengan tingkat literasi yang baik, masyarakat diharapkan mampu melakukan verifikasi mandiri dan tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum jelas kebenarannya.

Sebagai penutup, Nezar Patria optimis bahwa teknologi AI dapat membawa kemajuan besar jika dikelola dengan bijak. Namun, ia kembali mengingatkan bahwa teknologi hanyalah alat, sedangkan kendali utama tetap berada di tangan manusia. Ke depan, tantangan terbesar kita bukan hanya terletak pada seberapa canggih teknologi yang kita ciptakan, melainkan pada seberapa kuat kita mempertahankan nilai-nilai kebenaran dan integritas di tengah arus digitalisasi yang tak terbendung.

Related Post