Pakar Siber: Anak Jangan Jadi Objek Algoritma Medsos

Author Image

Mais Nurdin

8 Oktober 2026, 11:01 WIB

Pakar keamanan siber dari Vaksincom, Alfons Tanujaya, mengingatkan masyarakat mengenai pentingnya melindungi anak-anak dari dampak buruk algoritma media sosial. Ia mengibaratkan aktivitas berselancar di internet saat ini seperti tren pembelian sepeda motor, di mana aspek keselamatan harus menjadi prioritas utama sejak awal. Menurutnya, konsep safety by design atau keamanan yang dirancang sejak awal merupakan sebuah keniscayaan yang tidak boleh ditawar lagi demi melindungi generasi muda.

Analogi Sepeda Motor dan Konsep Safety by Design

Dalam penjelasannya, Alfons Tanujaya menggunakan analogi industri otomotif, khususnya sepeda motor, untuk menggambarkan situasi keamanan digital saat ini. Ketika seseorang membeli sepeda motor, kendaraan tersebut sudah dilengkapi dengan berbagai fitur keselamatan standar seperti rem yang mumpuni, lampu penunjuk arah, hingga helm sebagai pelindung kepala. Semua fitur ini dirancang untuk meminimalkan risiko kecelakaan bagi penggunanya sejak pertama kali digunakan.

Konsep yang sama seharusnya diterapkan dalam dunia digital dan media sosial melalui pendekatan safety by design. Platform digital, terutama yang diakses oleh anak-anak, harus memiliki sistem keamanan bawaan yang secara otomatis melindungi pengguna dari konten negatif, eksploitasi, dan kecanduan digital. Sayangnya, saat ini banyak platform yang justru membiarkan pengguna, termasuk anak-anak, menjelajahi dunia maya tanpa perlindungan yang memadai, sehingga mereka sangat rentan terhadap berbagai ancaman siber.

Dengan menerapkan prinsip ini, penyedia layanan teknologi bertanggung jawab penuh untuk menciptakan lingkungan virtual yang aman. Anak-anak tidak boleh dibiarkan begitu saja menghadapi algoritma yang agresif tanpa adanya batasan yang jelas dan sistem penyaringan yang ketat dari pihak pengembang aplikasi sejak produk tersebut diluncurkan ke publik.

Mengapa Anak Menjadi Objek Algoritma?

Algoritma media sosial dirancang dengan tujuan utama untuk mempertahankan perhatian pengguna selama mungkin di depan layar. Bagi perusahaan teknologi, waktu luang pengguna adalah komoditas yang sangat berharga untuk mendatangkan keuntungan dari iklan. Ketika anak-anak menggunakan media sosial tanpa pengawasan dan sistem keamanan yang ketat, mereka dengan mudah berubah menjadi objek atau target dari algoritma tersebut.

Sistem kecerdasan buatan pada platform media sosial akan terus menyajikan konten yang memicu rasa ingin tahu anak, bahkan jika konten tersebut tidak sesuai dengan usia mereka. Hal ini dapat memicu berbagai dampak negatif, mulai dari kecanduan gawai, gangguan kesehatan mental, hingga paparan terhadap konten kekerasan atau pornografi. Anak-anak, yang secara psikologis belum matang, belum memiliki kemampuan menyaring informasi dengan baik, sehingga mereka menjadi korban paling rentan dari manipulasi algoritma ini.

Kondisi ini diperparah dengan minimnya fitur kontrol orang tua yang efektif pada beberapa aplikasi. Akibatnya, anak-anak dibiarkan mengeksplorasi ruang digital yang luas dan liar tanpa adanya pemandu atau pelindung yang memadai, layaknya mengendarai sepeda motor di jalan raya tanpa helm dan surat izin mengemudi.

Tanggung Jawab Bersama Demi Keamanan Digital Anak

Untuk mengatasi tantangan ini, diperlukan sinergi yang kuat antara pemerintah, penyedia platform teknologi, dan orang tua. Pemerintah perlu memperketat regulasi terkait perlindungan data pribadi anak dan mendesak perusahaan teknologi untuk menerapkan standar keamanan yang tinggi. Regulasi yang tegas akan memaksa para pengembang aplikasi untuk lebih serius dalam mengimplementasikan fitur keselamatan bagi pengguna di bawah umur.

Di sisi lain, perusahaan teknologi harus menunjukkan komitmen nyata dengan tidak hanya mengejar keuntungan finansial semata. Mereka wajib memperbarui sistem mereka agar lebih ramah anak, membatasi pengumpulan data anak-anak, serta menyediakan fitur pelaporan yang mudah diakses jika terjadi pelanggaran atau perundungan siber (cyberbullying).

Meskipun teknologi dan regulasi terus berkembang, peran orang tua tetap menjadi benteng pertahanan terakhir yang paling krusial. Orang tua dituntut untuk terus meningkatkan literasi digital mereka agar dapat mendampingi anak-anak saat beraktivitas di dunia maya. Membangun komunikasi yang terbuka mengenai bahaya internet dan menetapkan batasan waktu penggunaan gawai adalah langkah awal yang sangat penting untuk melindungi anak dari pengaruh buruk algoritma media sosial.

Related Post