Pakar UGM Ingatkan Kewaspadaan Hadapi Ancaman Bencana Alam

Author Image

Mais Nurdin

10 September 2026, 23:45 WIB

Indonesia kembali diingatkan akan posisinya yang sangat rentan terhadap berbagai ancaman bencana alam, mulai dari gempa bumi, erupsi gunung berapi, hingga kebakaran hutan dan lahan. Pakar dari Universitas Gadjah Mada (UGM) menekankan bahwa kesiapsiagaan kolektif antara pemerintah dan masyarakat menjadi kunci utama dalam meminimalisir dampak kerugian materiil maupun korban jiwa. Peringatan ini muncul seiring dengan meningkatnya aktivitas seismik dan perubahan iklim yang memicu ketidakpastian kondisi lingkungan di berbagai wilayah tanah air.

Kondisi Geografis dan Risiko Bencana di Indonesia

Indonesia secara geografis terletak di kawasan yang dikenal sebagai Cincin Api Pasifik atau Ring of Fire. Wilayah ini merupakan titik pertemuan tiga lempeng tektonik besar dunia, yaitu Lempeng Indo-Australia, Lempeng Eurasia, dan Lempeng Pasifik. Pertemuan lempeng-lempeng ini menyebabkan Indonesia memiliki aktivitas geologi yang sangat tinggi, yang ditandai dengan banyaknya gunung berapi aktif serta frekuensi gempa bumi yang sering terjadi. Pakar geologi dari UGM menjelaskan bahwa pergerakan lempeng ini adalah proses alamiah yang tidak bisa dihentikan, sehingga manusia yang tinggal di atasnya harus mampu beradaptasi dengan kondisi tersebut.

Selain ancaman dari dalam bumi, Indonesia juga menghadapi tantangan dari permukaan dan atmosfer. Ancaman tsunami selalu mengintai wilayah pesisir yang berdekatan dengan zona subduksi. Di sisi lain, fenomena perubahan iklim global telah memperburuk risiko bencana hidrometeorologi. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi ancaman tahunan yang serius, terutama saat memasuki musim kemarau yang panjang. Dampak dari karhutla tidak hanya merusak ekosistem hutan, tetapi juga menimbulkan polusi asap yang mengganggu kesehatan masyarakat hingga ke negara tetangga, serta merugikan sektor ekonomi secara signifikan.

Pakar menekankan bahwa pemahaman mengenai karakteristik wilayah masing-masing sangatlah penting. Setiap daerah di Indonesia memiliki profil risiko yang berbeda-beda. Misalnya, wilayah di sepanjang jalur patahan aktif seperti Sesar Semangko di Sumatra atau Sesar Palu-Koro di Sulawesi memiliki risiko gempa darat yang tinggi. Sementara itu, wilayah dengan tutupan hutan gambut yang luas memiliki kerentanan tinggi terhadap kebakaran lahan. Tanpa pemetaan risiko yang akurat dan dipahami oleh masyarakat setempat, upaya mitigasi akan sulit berjalan secara efektif dan efisien.

Pentingnya Mitigasi dan Edukasi Berkelanjutan

Kesiapsiagaan menghadapi bencana tidak boleh hanya bersifat reaktif atau dilakukan saat bencana sudah terjadi. Pakar UGM mendorong adanya penguatan mitigasi struktural dan non-struktural secara berkesinambungan. Mitigasi struktural mencakup pembangunan infrastruktur yang tahan gempa, pembuatan tanggul penahan tsunami, serta penyediaan alat deteksi dini yang berfungsi dengan baik. Namun, pembangunan fisik saja tidak cukup jika tidak dibarengi dengan mitigasi non-struktural, yaitu peningkatan kapasitas sumber daya manusia melalui edukasi dan sosialisasi yang masif.

Edukasi mengenai kebencanaan harus dimulai dari tingkat keluarga dan sekolah. Masyarakat perlu dilatih untuk mengetahui apa yang harus dilakukan saat detik-detik pertama terjadinya gempa atau ketika menerima peringatan dini tsunami. Simulasi evakuasi secara rutin sangat diperlukan agar tindakan penyelamatan diri menjadi sebuah insting atau refleks bagi setiap individu. Selain itu, kearifan lokal yang ada di berbagai daerah dalam menghadapi bencana perlu digali kembali dan diintegrasikan dengan ilmu pengetahuan modern untuk memperkuat ketahanan masyarakat lokal.

Pemerintah daerah memegang peranan krusial dalam menyusun tata ruang yang berbasis risiko bencana. Pembangunan pemukiman, fasilitas umum, dan pusat ekonomi tidak boleh dilakukan di zona merah atau wilayah yang memiliki kerentanan tinggi. Penegakan aturan mengenai Izin Mendirikan Bangunan (IMB) yang memenuhi standar tahan gempa harus diawasi dengan ketat. Pakar mengingatkan bahwa seringkali bukan gempa bumi yang membunuh manusia, melainkan bangunan yang runtuh akibat konstruksi yang tidak memadai. Oleh karena itu, standar keamanan bangunan harus menjadi prioritas dalam perencanaan kota dan desa.

Peran Pemerintah dalam Manajemen Krisis

Manajemen krisis yang efektif memerlukan koordinasi yang kuat antara lembaga pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) harus didukung dengan anggaran yang mencukupi serta peralatan yang mutakhir. Selain itu, integrasi data antar lembaga seperti BMKG untuk informasi cuaca dan gempa, serta PVMBG untuk aktivitas gunung berapi, harus dapat diakses oleh masyarakat secara cepat dan akurat melalui berbagai kanal komunikasi.

Pakar juga menyoroti pentingnya investasi dalam teknologi peringatan dini. Sistem peringatan dini yang canggih akan sia-sia jika informasi tersebut tidak sampai ke masyarakat di pelosok dalam waktu singkat. Oleh karena itu, penguatan jaringan komunikasi hingga ke tingkat desa menjadi sangat vital. Selain teknologi, keterlibatan relawan dan organisasi kemasyarakatan dalam proses mitigasi dan penanganan darurat juga harus terus dibina. Sinergi antara pemerintah, akademisi, sektor swasta, dan masyarakat sipil atau yang dikenal sebagai konsep pentahelix adalah kunci keberhasilan dalam menghadapi ancaman bencana di masa depan.

Sebagai penutup, ancaman bencana di Indonesia adalah sebuah keniscayaan yang harus dihadapi dengan kesiapan mental dan fisik. Dengan meningkatkan kewaspadaan dan memperkuat budaya sadar bencana, diharapkan dampak buruk dari setiap peristiwa alam dapat ditekan seminimal mungkin. Masa depan Indonesia yang tangguh bencana bergantung pada sejauh mana kita belajar dari peristiwa masa lalu dan berkomitmen untuk terus melakukan perbaikan dalam sistem perlindungan warga negara dari ancaman alam yang tidak terduga.

Related Post