Pemain Real Madrid Dituding Malas Lari, Marc Cucurella Beri Respons

Author Image

Mais Nurdin

24 September 2026, 00:00 WIB

Real Madrid mengawali kampanye Liga Spanyol musim 2024/2025 dengan hasil yang kurang memuaskan, memicu gelombang kritik dari para pengamat dan penggemar sepak bola. Salah satu sorotan tajam yang diarahkan kepada skuad asuhan Carlo Ancelotti adalah tudingan bahwa para pemain bintang mereka “malas lari” dan kurang menunjukkan intensitas dalam pertandingan.

Kritik Terhadap Intensitas Permainan Real Madrid

Tudingan mengenai rendahnya etos kerja para pemain Real Madrid muncul setelah tim berjuluk Los Blancos tersebut kehilangan poin dalam beberapa laga awal musim ini. Hasil imbang melawan Mallorca dan Las Palmas menjadi indikator bahwa ada sesuatu yang tidak beres dalam mesin permainan Madrid. Statistik menunjukkan bahwa jarak tempuh lari para pemain Madrid sering kali berada di bawah lawan-lawan mereka, yang memicu narasi bahwa tim ini terlalu mengandalkan bakat individu tanpa kerja keras kolektif.

Kritik ini semakin tajam karena ekspektasi publik yang sangat tinggi setelah kedatangan Kylian Mbappe. Kehadiran bintang asal Prancis tersebut diharapkan membuat Madrid semakin dominan, namun yang terjadi justru ketidakseimbangan di lini tengah dan depan. Banyak pihak menilai bahwa para penyerang Madrid, termasuk Mbappe dan Vinicius Junior, kurang aktif dalam membantu pertahanan saat tim kehilangan bola, sehingga memberikan beban berat bagi lini belakang.

Menanggapi situasi ini, Marc Cucurella, bek kiri tim nasional Spanyol yang kini membela Chelsea, turut memberikan pandangannya. Meskipun ia tidak bermain di Liga Spanyol saat ini, pengalamannya menghadapi pemain-pemain kelas dunia membuatnya memiliki perspektif yang relevan. Cucurella menekankan bahwa dalam sepak bola modern, bakat saja tidak akan pernah cukup untuk memenangkan pertandingan jika tidak dibarengi dengan pengorbanan fisik di lapangan.

Pandangan Marc Cucurella Mengenai Etos Kerja

Marc Cucurella memberikan pembelaan sekaligus pengingat bahwa dinamika di dalam tim besar seperti Real Madrid sangatlah kompleks. Ia menanggapi dingin tudingan “malas” tersebut dengan menyatakan bahwa setiap pemain memiliki peran yang berbeda-beda. Namun, ia juga tidak menampik bahwa intensitas adalah kunci utama dalam memenangkan persaingan di level tertinggi. Menurutnya, tim yang sukses adalah tim yang mampu menyatukan ego individu demi kepentingan kolektif, termasuk dalam hal berlari mengejar bola.

Cucurella, yang dikenal dengan gaya permainannya yang enerjik dan pantang menyerah, sering kali dijadikan contoh bagaimana seorang pemain harus bekerja keras di lapangan. Baginya, kritik terhadap Real Madrid adalah hal yang wajar mengingat status mereka sebagai klub terbesar di dunia. Namun, ia juga mengingatkan bahwa musim masih sangat panjang dan terlalu dini untuk menghakimi sebuah tim hanya berdasarkan beberapa pertandingan awal yang kurang maksimal.

Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa masalah Madrid mungkin bukan sekadar kemalasan, melainkan adaptasi taktis. Kehilangan Toni Kroos yang memutuskan pensiun telah meninggalkan lubang besar dalam hal distribusi bola dan pengaturan tempo. Tanpa Kroos, aliran bola Madrid menjadi kurang teratur, yang sering kali memaksa pemain untuk berlari dalam posisi yang tidak efisien, sehingga terlihat seolah-olah mereka kurang berusaha secara fisik.

Dampak Kehilangan Toni Kroos dan Adaptasi Taktis

Kepergian Toni Kroos terbukti memberikan dampak yang lebih besar dari yang diperkirakan sebelumnya. Kroos adalah metronom yang memastikan transisi dari bertahan ke menyerang berjalan mulus. Saat ini, lini tengah Madrid yang diisi oleh pemain-pemain muda bertenaga seperti Federico Valverde, Aurelien Tchouameni, dan Jude Bellingham memang memiliki fisik yang kuat, namun mereka masih mencari cara terbaik untuk mengontrol permainan tanpa kehadiran sang maestro asal Jerman tersebut.

Carlo Ancelotti sendiri telah mengakui bahwa timnya membutuhkan keseimbangan yang lebih baik. Pelatih asal Italia itu menekankan pentingnya kekompakan tim, terutama saat kehilangan penguasaan bola. Tudingan “malas lari” ini sebenarnya adalah refleksi dari jarak antar lini yang terlalu lebar, yang membuat pemain harus menempuh jarak lebih jauh untuk menutup ruang, sehingga efektivitas lari mereka menjadi berkurang secara signifikan di mata statistik.

Selain itu, tekanan mental juga memainkan peran penting. Dengan status sebagai juara bertahan Liga Champions dan La Liga, setiap langkah Real Madrid akan selalu dipantau dengan mikroskop. Setiap kegagalan kecil akan dibesar-besarkan menjadi krisis besar. Para pemain kini dituntut untuk membuktikan bahwa mereka masih memiliki rasa lapar yang sama untuk meraih gelar, yang harus ditunjukkan melalui determinasi di atas lapangan hijau.

Pada akhirnya, tantangan bagi Real Madrid adalah membungkam kritik tersebut dengan performa nyata. Jika mereka mampu meningkatkan intensitas permainan dan menemukan kembali keseimbangan taktis, tudingan “malas lari” ini akan hilang dengan sendirinya. Dukungan atau komentar dari pemain seperti Marc Cucurella menunjukkan bahwa dunia sepak bola terus memperhatikan bagaimana raksasa Spanyol ini akan merespons kesulitan di awal musim mereka.

Related Post