Pentingnya Edukasi Rating Game bagi Anak di Rumah dan Sekolah

Author Image

Mais Nurdin

19 Oktober 2026, 10:30 WIB

Psikolog klinis sekaligus Co-founder sebuah lembaga psikologi, Veronica Adesla, menekankan pentingnya peran aktif orang tua dan guru dalam mengedukasi anak mengenai aturan rating gim. Langkah ini sangat krusial guna memastikan penerapan Indonesia Game Rating System (IGRS) berjalan efektif demi keamanan dan kesehatan mental anak di era digital.

Memahami Urgensi Indonesia Game Rating System (IGRS)

Indonesia Game Rating System atau IGRS merupakan sebuah sistem klasifikasi permainan interaktif elektronik yang diatur oleh pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo). Sistem ini dirancang untuk memberikan panduan yang jelas mengenai konten gim mana yang layak dikonsumsi oleh kelompok usia tertentu. Namun, keberadaan regulasi ini tidak akan memberikan dampak maksimal tanpa adanya pengawasan langsung dari lingkungan terdekat anak, yaitu rumah dan sekolah.

Veronica Adesla menjelaskan bahwa pemahaman mengenai rating gim bukan sekadar masalah teknis, melainkan bagian dari literasi digital yang harus ditanamkan sejak dini. Anak-anak seringkali tertarik pada gim hanya karena popularitas atau visualnya yang menarik, tanpa menyadari bahwa di dalamnya mungkin terdapat unsur kekerasan, bahasa yang kasar, atau konten dewasa yang belum mampu mereka proses secara kognitif maupun emosional. Oleh karena itu, orang tua dan guru harus menjadi garda terdepan dalam menyaring informasi ini.

Dalam praktiknya, IGRS membagi kategori usia menjadi beberapa kelompok, mulai dari kelompok usia 3 tahun ke atas, 7 tahun ke atas, 13 tahun ke atas, 15 tahun ke atas, hingga 18 tahun ke atas. Setiap kategori memiliki kriteria ketat mengenai konten apa saja yang boleh muncul, seperti tingkat kekerasan, penggunaan zat terlarang, hingga interaksi daring. Dengan mematuhi rating ini, risiko anak terpapar dampak negatif dari gim dapat diminimalisir secara signifikan.

Dampak Psikologis Paparan Gim Tidak Sesuai Usia

Sebagai seorang psikolog klinis, Veronica Adesla menyoroti bahwa paparan konten gim yang tidak sesuai dengan tahap perkembangan usia dapat memengaruhi perilaku dan kesehatan mental anak. Anak-anak yang terbiasa memainkan gim dengan tingkat kekerasan tinggi cenderung mengalami desensitisasi, di mana mereka menjadi kurang peka terhadap kekerasan di dunia nyata atau bahkan mulai meniru perilaku agresif tersebut dalam interaksi sosial mereka.

Selain masalah perilaku, aspek emosional juga menjadi perhatian serius. Gim yang terlalu kompleks atau mengandung tema dewasa dapat menyebabkan kecemasan, gangguan tidur, hingga kesulitan dalam berkonsentrasi pada tugas-tugas akademik. Ketika seorang anak memainkan gim yang ditujukan untuk orang dewasa, mereka dipaksa untuk menghadapi situasi atau narasi yang belum mampu dicerna oleh kematangan emosional mereka. Hal inilah yang mendasari mengapa pendampingan orang tua menjadi sangat vital.

Lebih lanjut, Veronica menambahkan bahwa sekolah juga memiliki tanggung jawab moral untuk memberikan edukasi ini. Guru dapat mengintegrasikan pemahaman mengenai etika digital dan pemilihan konten gim yang sehat ke dalam kurikulum atau kegiatan ekstrakurikuler. Dengan adanya keselarasan antara apa yang diajarkan di sekolah dan apa yang diterapkan di rumah, anak akan memiliki pemahaman yang lebih utuh mengenai batasan-batasan dalam dunia digital.

Strategi Kolaborasi Orang Tua dan Sekolah

Untuk menerapkan aturan rating gim secara efektif, diperlukan strategi komunikasi yang persuasif dan edukatif. Orang tua disarankan untuk tidak hanya melarang, tetapi juga memberikan penjelasan logis mengapa sebuah gim belum boleh dimainkan. Diskusi terbuka mengenai isi konten gim dapat membantu anak membangun nalar kritis, sehingga mereka bisa mulai memilah sendiri konten yang baik bagi mereka di masa depan.

Di sisi lain, sekolah dapat berperan sebagai fasilitator informasi bagi para orang tua. Seringkali, orang tua tidak memahami cara membaca label rating atau tidak mengetahui keberadaan IGRS. Melalui seminar, lokakarya, atau buletin sekolah, pihak institusi pendidikan dapat menyebarkan kesadaran mengenai pentingnya mematuhi klasifikasi usia dalam bermain gim. Kolaborasi ini menciptakan ekosistem pendukung yang konsisten bagi tumbuh kembang anak.

Selain itu, penggunaan fitur parental control pada perangkat elektronik juga sangat dianjurkan. Fitur ini memungkinkan orang tua untuk membatasi akses gim berdasarkan rating usia secara otomatis. Namun, Veronica mengingatkan bahwa teknologi hanyalah alat bantu; kehadiran fisik dan keterlibatan emosional orang tua saat anak bermain gim tetap menjadi faktor penentu utama dalam keberhasilan pengawasan ini.

Ke depannya, diharapkan kesadaran akan IGRS terus meningkat seiring dengan semakin masifnya industri gim di Indonesia. Dengan adanya sinergi antara kebijakan pemerintah, pengawasan orang tua, dan edukasi dari sekolah, anak-anak Indonesia dapat menikmati manfaat positif dari teknologi gim—seperti peningkatan kreativitas dan kemampuan pemecahan masalah—tanpa harus mengorbankan kesejahteraan mental dan perkembangan karakter mereka.

Related Post