Perhumas: Integrasi AI Wajib Dibarengi Kritis dan Empati

Author Image

Mais Nurdin

18 Oktober 2026, 09:30 WIB

Perhimpunan Hubungan Masyarakat Indonesia (Perhumas) menekankan bahwa perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) membawa peluang sekaligus tantangan besar bagi praktisi humas. Di tengah arus digitalisasi yang masif, para profesional komunikasi dituntut untuk tetap mengedepankan kemampuan berpikir kritis dan empati dalam setiap strategi yang dijalankan.

Tantangan dan Peluang AI dalam Dunia Humas

Kehadiran teknologi AI telah mengubah lanskap industri komunikasi secara fundamental. Dari pembuatan konten otomatis hingga analisis data audiens yang mendalam, AI menawarkan efisiensi yang belum pernah ada sebelumnya. Namun, efisiensi ini tidak boleh membuat praktisi humas menjadi lengah. Perhumas mengingatkan bahwa teknologi hanyalah alat bantu, sedangkan esensi dari komunikasi tetap berada pada interaksi antarmanusia yang kompleks.

Praktisi humas saat ini harus mampu bersikap adaptif terhadap perubahan teknologi yang sangat cepat. Kemampuan untuk mengoperasikan alat-alat berbasis AI menjadi nilai tambah, namun hal tersebut harus diimbangi dengan pemahaman mendalam mengenai konteks sosial dan budaya. Tanpa pemahaman konteks, pesan yang dihasilkan oleh teknologi berisiko menjadi hambar, tidak relevan, atau bahkan menyinggung perasaan publik yang menjadi sasaran komunikasi.

Selain itu, ketergantungan yang berlebihan pada teknologi tanpa pengawasan manusia dapat memicu masalah baru. AI bekerja berdasarkan pola data masa lalu, yang terkadang masih mengandung bias atau kesalahan informasi. Di sinilah peran praktisi humas sebagai kurator informasi menjadi sangat krusial untuk memastikan bahwa setiap narasi yang keluar ke publik telah melalui proses verifikasi yang ketat dan sesuai dengan nilai-nilai organisasi.

Pentingnya Berpikir Kritis di Era Disinformasi

Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi dunia humas saat ini adalah maraknya disinformasi dan berita bohong (hoaks) yang diperparah oleh teknologi AI, seperti deepfake atau teks otomatis yang menyesatkan. Perhumas menegaskan bahwa berpikir kritis adalah benteng utama bagi praktisi humas untuk menjaga integritas informasi. Seorang praktisi tidak boleh menelan mentah-mentah data atau tren yang muncul di media sosial tanpa melakukan analisis mendalam.

Berpikir kritis dalam konteks humas berarti kemampuan untuk mempertanyakan keabsahan sumber, menganalisis motif di balik sebuah informasi, dan memprediksi dampak jangka panjang dari sebuah pernyataan. Di era di mana informasi menyebar dalam hitungan detik, kesalahan kecil dalam merespons isu dapat berdampak fatal bagi reputasi sebuah institusi. Oleh karena itu, ketajaman analisis manusia tetap menjadi instrumen yang tidak tergantikan oleh algoritma secanggih apa pun.

Lebih lanjut, praktisi humas memiliki tanggung jawab moral untuk menjadi sumber informasi yang akurat bagi masyarakat. Di tengah kebisingan informasi, publik membutuhkan panduan yang dapat dipercaya. Dengan menerapkan standar berpikir kritis yang tinggi, humas dapat membantu menyaring informasi yang bermanfaat dan meredam penyebaran konten yang berpotensi memecah belah atau merugikan kepentingan umum.

Empati sebagai Pembeda Utama Manusia dan Mesin

Selain aspek kognitif seperti berpikir kritis, aspek afektif berupa empati menjadi kunci keberhasilan komunikasi di masa depan. AI mungkin bisa menulis artikel atau menyusun jadwal unggahan media sosial, namun AI tidak memiliki perasaan dan tidak mampu memahami nuansa emosional manusia secara mendalam. Perhumas menyoroti bahwa hubungan masyarakat pada dasarnya adalah tentang membangun kepercayaan, dan kepercayaan hanya bisa dibangun melalui empati.

Empati memungkinkan praktisi humas untuk mendengarkan aspirasi publik, memahami kekhawatiran mereka, dan merespons dengan cara yang manusiawi. Dalam situasi krisis, misalnya, pernyataan yang dihasilkan oleh mesin seringkali terasa dingin dan mekanis. Sebaliknya, pendekatan yang berbasis empati akan menunjukkan kepedulian yang tulus, yang sangat dibutuhkan untuk memulihkan citra dan kepercayaan publik terhadap suatu merek atau organisasi.

Praktisi humas yang memiliki empati tinggi akan lebih mampu merancang kampanye yang inklusif dan menyentuh sisi kemanusiaan. Mereka tidak hanya melihat audiens sebagai angka atau target pasar, tetapi sebagai individu dengan beragam latar belakang dan emosi. Hal inilah yang membuat pesan komunikasi menjadi lebih beresonansi dan memiliki daya pengaruh yang lebih kuat di hati masyarakat.

Etika dan Integritas dalam Komunikasi Digital

Penggunaan teknologi dalam praktik humas juga harus senantiasa berpijak pada kode etik profesi. Perhumas mendorong para anggotanya untuk menjaga transparansi dalam penggunaan AI. Jika sebuah konten atau layanan menggunakan bantuan kecerdasan buatan, kejujuran terhadap publik menjadi hal yang sangat penting untuk menjaga kredibilitas. Etika digital bukan sekadar tren, melainkan fondasi utama dalam menjaga keberlanjutan profesi humas di masa depan.

Menjaga etika berarti juga memastikan bahwa data pribadi audiens dikelola dengan aman dan tidak disalahgunakan untuk kepentingan manipulatif. Praktisi humas harus menjadi garda terdepan dalam mempromosikan penggunaan teknologi yang bertanggung jawab. Dengan menjunjung tinggi integritas, profesi humas akan tetap dihormati dan dianggap relevan meskipun teknologi terus berkembang dengan pesat.

Sebagai penutup, masa depan dunia humas di Indonesia akan sangat bergantung pada bagaimana para praktisinya mampu mengolaborasikan kecanggihan teknologi dengan kearifan insani. AI adalah mitra yang hebat untuk meningkatkan produktivitas, namun berpikir kritis dan empati adalah jiwa dari profesi humas yang akan memastikan bahwa komunikasi tetap berfungsi sebagai jembatan pemersatu, bukan sekadar alat propaganda yang hampa makna.

Related Post