PGMOL Akui Kesalahan VAR Sahkan Gol Offside Erling Haaland

Author Image

Mais Nurdin

14 September 2026, 00:30 WIB

Badan Wasit Profesional Inggris (PGMOL) secara resmi mengakui adanya kesalahan fatal yang dilakukan oleh petugas Video Assistant Referee (VAR) dalam pertandingan krusial antara Manchester City melawan Manchester United. Kesalahan tersebut berkaitan dengan pengesahan gol yang dicetak oleh penyerang andalan City, Erling Haaland, yang seharusnya dianulir karena sang pemain berada dalam posisi offside sebelum menceploskan bola ke gawang.

Kronologi Insiden dan Kegagalan Teknologi VAR

Insiden yang memicu perdebatan luas di kalangan pecinta sepak bola ini terjadi dalam sebuah momen serangan balik cepat yang dibangun oleh anak asuh Pep Guardiola. Erling Haaland, yang menerima umpan terobosan di area pertahanan Manchester United, terlihat berada sedikit di depan pemain bertahan terakhir Setan Merah. Meskipun hakim garis tidak mengangkat bendera, banyak pihak mengharapkan VAR akan melakukan intervensi untuk mengoreksi keputusan tersebut sesuai dengan protokol yang berlaku.

Namun, setelah melalui proses peninjauan yang cukup singkat di pusat kontrol Stockley Park, wasit VAR memutuskan bahwa gol tersebut sah dan tidak ada pelanggaran offside yang terjadi. Keputusan ini sontak memicu protes keras dari para pemain dan staf pelatih Manchester United di pinggir lapangan. Mereka meyakini bahwa sudut kamera dan garis yang ditarik oleh petugas VAR tidak akurat dalam menentukan posisi kaki Haaland saat bola dilepaskan oleh rekan setimnya.

Dalam pernyataan resminya, PGMOL menjelaskan bahwa terjadi kesalahan manusia (human error) dalam penempatan garis virtual yang digunakan untuk menentukan posisi offside. Petugas VAR dilaporkan gagal mengidentifikasi titik kontak terakhir bola dan posisi bek lawan secara presisi, sehingga menghasilkan kesimpulan yang keliru. Pengakuan ini menambah daftar panjang kontroversi penggunaan teknologi video pembantu wasit di kompetisi kasta tertinggi sepak bola Inggris tersebut.

Dampak Terhadap Integritas Pertandingan dan Klasemen

Kesalahan dalam mengesahkan gol Erling Haaland ini memiliki dampak yang sangat signifikan, tidak hanya bagi hasil akhir pertandingan Derby Manchester, tetapi juga bagi persaingan di papan atas klasemen Premier League. Bagi Manchester City, tambahan gol dan kemenangan yang diraih memberikan keuntungan besar dalam upaya mereka mempertahankan gelar juara. Sebaliknya, bagi Manchester United, kehilangan poin akibat kesalahan wasit merupakan pukulan telak dalam perjuangan mereka menembus zona kompetisi Eropa.

Kritik tajam pun berdatangan dari berbagai pengamat sepak bola dan mantan pemain profesional. Banyak yang mempertanyakan efektivitas VAR jika kesalahan mendasar seperti penentuan posisi offside masih sering terjadi. Meskipun teknologi ini diperkenalkan untuk meminimalisir kesalahan manusia, kenyataannya keputusan akhir tetap berada di tangan individu yang mengoperasikan sistem tersebut. Hal ini memicu tuntutan agar PGMOL meningkatkan standar pelatihan dan transparansi dalam proses pengambilan keputusan VAR.

Selain itu, insiden ini juga menyoroti tekanan psikologis yang dialami oleh para pemain di lapangan. Ketika sebuah gol yang dianggap tidak sah tetap disahkan, hal itu dapat merusak momentum tim yang dirugikan dan mengubah dinamika permainan secara keseluruhan. Integritas kompetisi menjadi taruhan utama ketika teknologi yang seharusnya memberikan keadilan justru menciptakan ketidakpastian baru yang merugikan salah satu pihak secara objektif.

Evaluasi PGMOL dan Masa Depan Teknologi Offside

Menanggapi gelombang kritik yang terus mengalir, Howard Webb selaku pimpinan PGMOL menyatakan komitmennya untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap prosedur operasional VAR. Salah satu langkah yang sedang dipertimbangkan secara serius adalah percepatan implementasi teknologi offside semi-otomatis (Semi-Automated Offside Technology/SAOT) yang telah sukses digunakan dalam ajang Piala Dunia dan Liga Champions. Teknologi ini diharapkan dapat memberikan hasil yang lebih cepat dan akurat tanpa terlalu banyak bergantung pada penarikan garis manual oleh manusia.

PGMOL juga berjanji akan lebih terbuka dalam menjalin komunikasi dengan klub-klub peserta Premier League terkait kesalahan-kesalahan yang terjadi. Pengakuan terbuka seperti dalam kasus gol Haaland ini merupakan bagian dari upaya untuk membangun kembali kepercayaan publik terhadap korps baju hitam. Namun, bagi para penggemar dan klub yang dirugikan, permintaan maaf saja dirasa tidak cukup untuk mengganti poin yang hilang akibat keputusan yang salah di lapangan hijau.

Ke depannya, tantangan bagi Premier League adalah bagaimana menyeimbangkan antara penggunaan teknologi canggih dengan aliran permainan yang alami. Kesalahan dalam laga Manchester City vs Manchester United ini menjadi pengingat bahwa sepak bola adalah olahraga yang penuh dengan detail kecil, di mana satu keputusan salah dapat mengubah sejarah. Semua pihak kini menantikan langkah nyata dari otoritas liga agar kejadian serupa tidak terulang kembali di masa mendatang, demi menjaga sportivitas dan kualitas kompetisi sepak bola terbaik di dunia.

Related Post