Politik Luar Negeri Indonesia Masa Demokrasi Terpimpin Condong ke Blok Timur

Author Image

Sandi Pohan

8 Agustus 2026, 01:00 WIB

Politik luar negeri Indonesia pada masa Demokrasi Terpimpin dari 1959 sampai 1966 condong kuat ke blok Timur, terutama menjalin hubungan erat dengan Uni Soviet dan Tiongkok. Pada 8 Agustus 2026, penting untuk memahami bagaimana kebijakan ini berdampak pada posisi Indonesia di dunia internasional saat itu.

Politik luar negeri yang dipimpin Presiden Ir. Soekarno bersifat bebas-aktif dan konfrontatif. Indonesia mengambil sikap revolusioner yang terlihat dari keputusan memutuskan hubungan diplomatik dengan Belanda pada 17 Agustus 1960 dan keterlibatan aktif dalam Gerakan Non-Blok pada September 1961.

Salah satu kebijakan penting adalah pengiriman kontingen Pasukan Garuda II ke Kongo pada 10 September 1960, sebagai bagian dari upaya memperkuat peran Indonesia dalam perdamaian dunia. Selain itu, pembebasan Irian Jaya pada 1962 dan konfrontasi dengan Malaysia pada 1963 menunjukkan pendekatan agresif dalam mempertahankan kedaulatan dan menolak campur tangan asing.

Hubungan Indonesia dengan blok Timur semakin menguat selama masa ini, dimana Soekarno mengadopsi ideologi Nasakom yang menggabungkan Nasionalisme, Agama, dan Komunisme. Hubungan erat dengan Uni Soviet dan Tiongkok memperkuat posisi Indonesia dalam menghadapi kekuatan Barat. Sikap ini juga tercermin dalam penyelenggaraan Games of the New Emerging Forces (Ganefo I) pada 1963 sebagai alternatif dari Olimpiade yang dianggap didominasi negara Barat.

Indonesia juga mengambil langkah drastis dengan keluar dari keanggotaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 1964 sebagai protes terhadap keputusan PBB yang dianggap tidak adil terkait masalah Irian Jaya dan konfrontasi dengan Malaysia.

Kebijakan Luar Negeri Konfrontatif

Konfrontasi Indonesia terhadap Malaysia pada 1963 adalah puncak dari kebijakan politik luar negeri yang revolusioner dan konfrontatif. Hal ini menimbulkan ketegangan regional dan menandai sikap tegas Indonesia dalam menentang pembentukan Federasi Malaysia yang dianggap sebagai bentuk neokolonialisme.

Implementasi Politik Bebas-Aktif

Meskipun condong ke blok Timur, Indonesia tetap menegaskan politik luar negeri bebas-aktif, yang berarti tidak terikat secara mutlak pada blok manapun. Hal ini terlihat dari keterlibatan Indonesia dalam Gerakan Non-Blok, yang berupaya menjaga keseimbangan kekuatan dunia selama Perang Dingin.

Data dan Fakta Penting Kebijakan Luar Negeri

  • 1959-1966 adalah masa Demokrasi Terpimpin yang dipimpin Presiden Ir. Soekarno
  • Hubungan erat dengan Uni Soviet dan Tiongkok sebagai blok Timur
  • Memutus hubungan diplomatik dengan Belanda pada 1960
  • Mengirim Pasukan Garuda II ke Kongo pada 1960
  • Ikut Gerakan Non-Blok pada 1961
  • Pembebasan Irian Jaya pada 1962
  • Konfrontasi dengan Malaysia pada 1963
  • Menjadi tuan rumah Ganefo I pada 1963
  • Keluar dari PBB pada 1964 sebagai bentuk protes

Tabel Kronologi Politik Luar Negeri Indonesia Masa Demokrasi Terpimpin

Tahun Peristiwa Deskripsi
1959 Dimulainya Demokrasi Terpimpin Soekarno mengambil alih kekuasaan dengan sistem otoriter
1960 Putus Hubungan dengan Belanda Memutus hubungan diplomatik pada 17 Agustus sebagai sikap tegas
1960 Pasukan Garuda II ke Kongo Mengirim kontingen perdamaian PBB
1961 Ikut Gerakan Non-Blok Mendukung politik bebas-aktif
1962 Pembebasan Irian Jaya Pengambilalihan wilayah dari Belanda
1963 Konfrontasi dengan Malaysia Menentang pembentukan Federasi Malaysia
1963 Ganefo I Alternatif Olimpiade untuk negara baru
1964 Keluar dari PBB Protes terhadap keputusan PBB terkait Irian Jaya dan Malaysia

"Politik luar negeri Indonesia pada masa Demokrasi Terpimpin bersifat konfrontatif dan revolusioner, namun tetap menjalankan prinsip bebas-aktif," kata sejarawan politik Dr. Agus Santoso.

Sejarah Kelas 12 Politik Luar Negeri Indonesia pada Masa Demokrasi Terpimpin | Portal Sekolah

Related Post