Prancis dan Jerman Bidik Tuan Rumah Piala Dunia 2038

Author Image

Mais Nurdin

12 September 2026, 12:47 WIB

Prancis secara resmi menyatakan ketertarikannya untuk kembali menjadi tuan rumah turnamen sepak bola terbesar di dunia, Piala Dunia FIFA, pada edisi tahun 2038 mendatang. Demi menyukseskan ambisi besar tersebut, negara yang kerap dijuluki Negeri Fesyen ini berencana untuk menggandeng tetangga dekat sekaligus rival klasiknya di lapangan hijau, Jerman. Kolaborasi dua kekuatan besar sepak bola Eropa ini diharapkan dapat menciptakan salah satu gelaran Piala Dunia paling megah dan efisien dalam sejarah modern.

Ambisi Bersama Dua Raksasa Eropa

Rencana pengajuan diri sebagai tuan rumah bersama ini menandai babak baru dalam hubungan olahraga dan diplomasi antara Prancis dan Jerman. Kedua negara memiliki sejarah panjang dan prestasi gemilang di kancah sepak bola internasional, baik dalam hal prestasi tim nasional maupun pengalaman sebagai penyelenggara turnamen besar. Dengan menggabungkan kekuatan finansial, infrastruktur mutakhir, dan gairah sepak bola yang luar biasa dari publik kedua negara, proposal bersama ini diyakini akan menjadi salah satu kandidat terkuat dalam proses pemilihan yang dilakukan oleh FIFA.

Langkah taktis ini juga sangat sejalan dengan tren modern penyelenggaraan turnamen olahraga skala besar yang kini lebih condong pada konsep tuan rumah bersama (co-hosting). Konsep ini dinilai jauh lebih realistis dan berkelanjutan secara ekonomi karena dapat membagi beban biaya pembangunan infrastruktur serta operasional yang semakin membengkak dari tahun ke tahun. Bagi Prancis dan Jerman, kolaborasi ini bukan sekadar tentang sepak bola, melainkan juga menjadi simbol persatuan, perdamaian, dan kekuatan kawasan Eropa di panggung global.

Rekam Jejak dan Kesiapan Infrastruktur

Prancis dan Jerman bukanlah nama baru dalam hal menyelenggarakan turnamen sepak bola tingkat tinggi. Prancis tercatat pernah sukses menggelar Piala Dunia pada tahun 1938 dan 1998, di mana pada edisi terakhir mereka berhasil keluar sebagai juara dunia untuk pertama kalinya di tanah sendiri. Selain itu, Prancis juga sukses menyelenggarakan Piala Eropa (Euro) pada tahun 2016 serta pesta olahraga Olimpiade Paris yang baru saja berlangsung dengan sukses. Pengalaman-pengalaman tersebut membuktikan bahwa Prancis memiliki kapasitas logistik, keamanan, dan manajemen acara yang sangat mumpuni untuk menggelar acara berskala global.

Di sisi lain, Jerman juga memiliki portofolio yang tidak kalah mengesankan dalam dunia olahraga. Negara ini pernah menjadi tuan rumah Piala Dunia pada tahun 1974 (sebagai Jerman Barat) dan tahun 2006 yang dikenal luas dengan julukan “Dongeng Musim Panas” karena atmosfer turnamen yang luar biasa kondusif dan meriah. Baru-baru ini, Jerman juga sukses menyelenggarakan Euro 2024 dengan standar organisasi yang sangat tinggi. Stadion-stadion modern seperti Allianz Arena di Munich, Signal Iduna Park di Dortmund, serta Stade de France di Paris siap menjadi panggung megah bagi para bintang sepak bola dunia tanpa memerlukan pembangunan stadion baru dari nol.

Keberlanjutan dan Tantangan di Masa Depan

Salah satu poin penjualan utama dari proposal bersama Prancis-Jerman ini adalah aspek keberlanjutan lingkungan (sustainability). FIFA kini semakin memperketat kriteria pemilihan tuan rumah dengan menekankan dampak lingkungan dan efisiensi anggaran. Dengan memanfaatkan stadion dan fasilitas transportasi publik yang sudah ada, seperti jaringan kereta cepat yang menghubungkan kota-kota utama di kedua negara, emisi karbon dari perjalanan penonton dan tim dapat ditekan seminimal mungkin. Hal ini tentu akan menjadi nilai tambah yang sangat besar di mata komite evaluasi FIFA yang kini sangat peduli terhadap isu perubahan iklim.

Meskipun demikian, jalan menuju Piala Dunia 2038 masih sangat panjang dan dipenuhi tantangan berat. Prancis dan Jerman harus bersiap menghadapi persaingan ketat dari potensi tawaran negara-negara kuat lainnya di kawasan Asia, Amerika, maupun Afrika yang juga berambisi membawa turnamen ini ke wilayah mereka. Selain itu, dinamika politik di internal FIFA serta kebijakan rotasi benua juga akan memainkan peran penting dalam menentukan siapa yang akhirnya berhak menggelar turnamen sepak bola paling bergengsi di jagat raya ini. Namun, dengan reputasi, kesiapan infrastruktur, dan pengalaman yang dimiliki kedua negara, duet Prancis-Jerman dipastikan akan menjadi pesaing yang sangat diperhitungkan.

Related Post