PT KAI Alami Penurunan Laba Bersih 74 Persen Akibat Beban Proyek Whoosh
PT Kereta Api Indonesia (Persero) mengalami penurunan laba bersih sebesar 74,12 persen sepanjang semester pertama 2026 akibat beban kerugian dari proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Whoosh), dilansir dari Suara. Laporan keuangan konsolidasian interim per 30 Juni 2026 menunjukkan laba bersih PT KAI hanya mencapai Rp305,37 miliar, jauh menurun dari Rp1,17 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Meskipun pendapatan operasional KAI tumbuh 6,6 persen menjadi Rp17,95 triliun dan laba usaha naik menjadi Rp4,66 triliun, beban kerugian dari entitas asosiasi dan beban keuangan naik signifikan, menekan keuntungan bersih perseroan.
Lonjakan beban tersebut berasal dari PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI), yang mencatat kerugian bersih Rp5,13 triliun dengan ekuitas negatif pada Juni 2026.
PSBI, pemilik saham mayoritas di PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) operator Whoosh, mengalami peningkatan liabilitas hingga Rp21,55 triliun yang melebihi aset Rp21,53 triliun. Nilai investasi KAI di PSBI juga turun drastis dari Rp4,79 triliun menjadi Rp1,79 triliun, disertai pencadangan penurunan nilai Rp1,55 triliun sebagai antisipasi risiko kerugian lanjutan.
Selain itu, KAI harus menarik pinjaman berjangka valuta asing senilai ratusan juta dolar AS dan Yuan China untuk menutup kekurangan dana operasional KCIC. Pinjaman ini dijamin pemerintah melalui PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia dan disalurkan oleh KAI ke PSBI sebagai pinjaman pemegang saham yang kemudian diteruskan ke KCIC.
Hingga Juni 2026, dana pinjaman tersebut mencapai Rp1,72 triliun, menyebabkan total piutang tidak lancar KAI ke entitas berelasi membengkak menjadi Rp9,87 triliun. Secara keseluruhan, eksposur risiko keuangan KAI terhadap ekosistem Whoosh dan PSBI mencapai Rp11,7 triliun, sekitar 11 persen dari total aset perseroan sebesar Rp104,79 triliun per paruh pertama 2026.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow