Belakangan ini, media sosial diramaikan oleh tren baru yang sangat menarik perhatian netizen, yaitu pembuatan foto bergaya tahun 1980-an menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI) dari ChatGPT. Pengguna cukup memberikan instruksi atau mengunggah foto mereka untuk diubah menjadi pasfoto jadul khas buku tahunan sekolah era 80-an yang estetis. Meskipun aktivitas ini terlihat menyenangkan dan sangat mudah dilakukan, di balik layar terdapat dampak lingkungan yang cukup mengkhawatirkan bagi kelestarian bumi kita.
Mengapa Tren Foto Retro Ini Begitu Populer?
Tren foto retro ini menyebar dengan sangat cepat di berbagai platform seperti Instagram, TikTok, dan X. Kemudahan yang ditawarkan oleh ChatGPT, yang kini terintegrasi dengan generator gambar canggih, memungkinkan siapa saja menjadi kreator konten instan tanpa memerlukan keahlian menyunting foto yang rumit. Pengguna hanya perlu menuliskan perintah sederhana untuk mendapatkan hasil gambar yang penuh nostalgia.
Fenomena ini memicu jutaan orang di seluruh dunia untuk mencoba hal yang sama secara berulang-ulang demi mendapatkan hasil foto terbaik yang siap dipamerkan di media sosial. Sayangnya, popularitas yang masif ini berbanding lurus dengan lonjakan beban kerja pada server-server penyedia layanan kecerdasan buatan tersebut.
Also Read
Konsumsi Energi Raksasa di Balik Layar AI
Di balik kemudahan dan keseruan menghasilkan foto jadul tersebut, ada harga lingkungan yang harus dibayar sangat mahal. Setiap kali seorang pengguna mengirimkan perintah atau prompt untuk menghasilkan gambar, ChatGPT harus memproses data tersebut melalui pusat data (data center) berskala raksasa yang tersebar di berbagai belahan dunia. Proses komputasi untuk menghasilkan gambar berbasis kecerdasan buatan membutuhkan daya listrik yang jauh lebih besar dibandingkan dengan pencarian informasi teks biasa di mesin pencari konvensional.
Pusat data yang mengoperasikan model AI canggih ini terdiri dari ribuan unit pemroses grafis (GPU) berkinerja tinggi yang bekerja tanpa henti. GPU ini membutuhkan energi listrik yang sangat masif untuk melakukan kalkulasi matematis yang rumit dalam hitungan detik demi menghasilkan visualisasi yang diinginkan pengguna. Selain konsumsi listrik yang tinggi, server-server ini juga menghasilkan panas yang luar biasa selama beroperasi.
Untuk mencegah kerusakan sistem akibat suhu ekstrem, pusat data memerlukan sistem pendingin aktif yang bekerja terus-menerus. Sistem pendingin ini tidak hanya mengonsumsi energi listrik tambahan dalam jumlah besar, tetapi juga menyedot jutaan liter air bersih setiap harinya untuk menjaga suhu server tetap stabil.
Jejak Karbon dan Ancaman Nyata Pemanasan Global
Sejumlah penelitian dari para ahli lingkungan menunjukkan bahwa pembuatan satu gambar menggunakan teknologi AI generatif dapat mengonsumsi energi yang setara dengan mengisi daya baterai ponsel pintar Anda hingga penuh. Jika ada jutaan pengguna yang menghasilkan puluhan gambar setiap hari hanya untuk mengikuti tren foto 80-an ini, maka akumulasi jejak karbon yang dihasilkan menjadi sangat signifikan dan merusak.
Sebagian besar pusat data di dunia saat ini masih mengandalkan pasokan listrik dari pembangkit listrik konvensional yang berbahan bakar fosil, seperti batu bara dan gas alam. Pembakaran bahan bakar fosil ini melepaskan gas rumah kaca, terutama karbon dioksida, ke atmosfer bumi dalam skala yang mengkhawatirkan.
Peningkatan emisi karbon ini secara langsung berkontribusi pada pemanasan global dan perubahan iklim yang kini dampaknya semakin nyata kita rasakan, mulai dari cuaca ekstrem, badai yang lebih kuat, hingga kenaikan suhu bumi yang tidak menentu. Hal ini menciptakan ironi baru di era digital: aktivitas hiburan yang tampaknya tidak berbahaya di dunia maya ternyata memiliki konsekuensi fisik yang merusak di dunia nyata.
Melihat dampak negatif ini, penting bagi kita sebagai pengguna teknologi untuk mulai menerapkan prinsip digital yang lebih bijak dan bertanggung jawab. Kita tidak perlu sepenuhnya menghindari teknologi AI, namun kita harus lebih sadar akan konsekuensi dari setiap aktivitas digital yang kita lakukan. Membatasi penggunaan generator gambar AI hanya untuk kebutuhan yang benar-benar penting dapat menjadi langkah awal yang baik untuk membantu menekan laju pemanasan global demi masa depan bumi yang lebih hijau.




