PBB Desak Peta Dunia Akurat, Google Maps Bakal Berubah?

Author Image

Mais Nurdin

15 September 2026, 14:14 WIB

Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) baru-baru ini menunjukkan dukungan hampir mutlak dari negara-negara anggotanya untuk mempromosikan penggunaan peta dunia yang lebih akurat. Langkah ini diambil guna mengatasi distorsi geografis yang telah berlangsung selama berabad-abad, di mana ukuran beberapa benua dan negara tampak jauh lebih besar atau lebih kecil dari kenyataan. Keputusan ini memicu pertanyaan besar di kalangan masyarakat global, terutama mengenai apakah penyedia layanan peta digital raksasa seperti Google Maps akan segera mengubah sistem proyeksi mereka.

Distorsi Proyeksi Mercator dan Dampaknya

Selama ini, sebagian besar peta dunia yang digunakan di sekolah, media, hingga aplikasi navigasi menggunakan Proyeksi Mercator. Proyeksi ini pertama kali dibuat oleh kartografer Flandria, Gerardus Mercator, pada tahun 1569. Tujuan utama dari proyeksi ini adalah untuk membantu navigasi pelayaran dengan mempertahankan arah kompas yang lurus. Namun, kelemahan terbesar dari Proyeksi Mercator adalah distorsi ukuran yang sangat ekstrem di dekat kutub utara dan selatan.

Sebagai contoh, dalam peta Mercator, Greenland terlihat memiliki ukuran yang hampir sama dengan benua Afrika. Padahal, dalam kenyataannya, Afrika memiliki luas wilayah sekitar 14 kali lebih besar daripada Greenland. Begitu pula dengan wilayah Eropa dan Amerika Utara yang tampak jauh lebih mendominasi secara visual dibandingkan dengan wilayah-wilayah di sekitar garis khatulistiwa, seperti Amerika Selatan, Afrika, dan Asia Tenggara. Distorsi ini dinilai tidak hanya memengaruhi pemahaman geografis masyarakat, tetapi juga membentuk persepsi geopolitik yang bias secara kultural dan historis.

Mengapa PBB Mendorong Perubahan Ini?

Dukungan dari Majelis Umum PBB untuk mempromosikan peta yang lebih akurat didasari oleh keinginan untuk menghadirkan representasi dunia yang lebih adil dan objektif. Banyak negara berkembang, khususnya di kawasan Afrika dan Amerika Latin, merasa bahwa representasi visual yang salah selama berabad-abad telah mengecilkan peran dan signifikansi geografis mereka di mata dunia. Dengan menggunakan proyeksi alternatif yang mempertahankan proporsi luas wilayah secara akurat, seperti Proyeksi Gall-Peters atau Proyeksi Robinson, masyarakat global diharapkan dapat melihat dunia dengan perspektif yang lebih seimbang.

Para ahli pendidikan dan geografi juga menekankan pentingnya reformasi ini di institusi pendidikan. Anak-anak sekolah yang tumbuh dengan melihat peta yang terdistorsi cenderung memiliki persepsi yang keliru tentang skala kekuatan dan ukuran negara-negara di dunia. Oleh karena itu, kampanye PBB ini diharapkan dapat mendorong kurikulum pendidikan di berbagai negara untuk mulai mengadopsi peta dunia yang menyajikan data spasial secara lebih presisi dan proporsional.

Apakah Google Maps Akan Berubah?

Pertanyaan yang kini muncul di benak publik adalah bagaimana platform teknologi besar seperti Google Maps akan merespons imbauan global ini. Google Maps dan layanan navigasi digital lainnya secara historis menggunakan variasi dari Proyeksi Mercator yang dikenal sebagai Web Mercator. Alasan teknis di balik penggunaan ini adalah karena Proyeksi Mercator sangat efektif untuk mempertahankan sudut dan bentuk lokal saat pengguna melakukan perbesaran (zooming) pada peta jalan raya. Jika Google menggunakan proyeksi lain, bentuk bangunan dan persimpangan jalan di layar ponsel pengguna akan tampak melengkung atau terdistorsi.

Meskipun demikian, Google sebenarnya telah melakukan langkah adaptasi yang signifikan beberapa tahun lalu. Pada versi desktop Google Maps, ketika pengguna melakukan pengecilan (zoom out) hingga tingkat global, tampilan peta akan berubah menjadi bola dunia 3D (globe). Langkah ini secara efektif menghilangkan distorsi Mercator pada skala global, sehingga ukuran Greenland dan Afrika terlihat sesuai dengan proporsi aslinya. Namun, tantangan terbesar tetap ada pada perangkat seluler dan aplikasi navigasi harian yang masih sangat bergantung pada visualisasi dua dimensi yang datar.

Desakan dari PBB ini menjadi momentum penting bagi perkembangan ilmu kartografi modern di era digital. Meskipun perubahan total pada aplikasi navigasi harian membutuhkan penyesuaian teknis yang kompleks, kesadaran global akan pentingnya akurasi visual kini berada di titik tertinggi. Pada akhirnya, peta bukan sekadar alat navigasi, melainkan cerminan dari bagaimana kita memahami hubungan antarnegara dan menghargai proporsi dunia yang sesungguhnya secara adil.

Related Post