Survei Kesiapan Bencana LINE: Pelajaran bagi Indonesia

Author Image

Mais Nurdin

15 September 2026, 13:16 WIB

Sebuah survei terbaru yang dirilis oleh LY Corporation, perusahaan induk dari aplikasi pesan instan LINE, mengungkapkan fakta mengejutkan mengenai kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana alam. Hasil survei tersebut menunjukkan bahwa sekitar 70 persen penduduk di Jepang, Taiwan, dan Thailand merasa belum siap menghadapi bencana. Temuan ini tentu menjadi alarm penting dan memberikan pelajaran berharga bagi Indonesia, negara yang juga berada di kawasan rawan bencana.

Detail Temuan Survei LY Corporation

Survei yang dilakukan oleh LY Corporation ini melibatkan ribuan responden di tiga negara Asia yang kerap dilanda bencana alam, yaitu Jepang, Taiwan, dan Thailand. Meskipun ketiga negara tersebut, khususnya Jepang dan Taiwan, dikenal memiliki sistem mitigasi bencana yang sangat maju dan teknologi peringatan dini yang canggih, mayoritas warganya masih merasa cemas dan tidak siap. Ketidaksiapan ini mencakup berbagai aspek, mulai dari kurangnya persediaan darurat di rumah, ketidaktahuan akan jalur evakuasi yang aman, hingga minimnya simulasi mandiri.

Di Jepang, misalnya, gempa bumi dan tsunami merupakan ancaman konstan yang selalu mengintai. Pemerintah setempat telah menginvestasikan dana yang sangat besar untuk membangun infrastruktur tahan gempa dan sistem peringatan dini yang terintegrasi. Namun, survei ini membuktikan bahwa kesiapan infrastruktur fisik tidak selalu berbanding lurus dengan kesiapan mental dan psikologis masyarakat secara individu. Hal yang sama juga terlihat di Taiwan dan Thailand, di mana banjir bandang dan badai tropis sering kali melumpuhkan aktivitas warga.

Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara kebijakan mitigasi pemerintah dan pemahaman praktis di tingkat rumah tangga. Banyak responden mengaku bahwa mereka mengetahui potensi bahaya di wilayah mereka, namun tidak tahu secara pasti langkah konkret apa yang harus dilakukan ketika bencana benar-benar terjadi dalam waktu singkat.

Mengapa Temuan Ini Sangat Relevan untuk Indonesia?

Indonesia secara geografis terletak di kawasan Ring of Fire atau Cincin Api Pasifik, sebuah wilayah dengan aktivitas seismik dan vulkanik yang sangat tinggi di dunia. Pertemuan tiga lempeng tektonik utama dunia membuat Indonesia sangat rentan terhadap berbagai jenis bencana alam, mulai dari gempa bumi, tsunami, letusan gunung berapi, hingga tanah longsor dan banjir bandang. Oleh karena itu, hasil survei dari negara tetangga ini harus dipandang sebagai cermin bagi situasi di dalam negeri.

Jika negara-negara dengan sistem mitigasi yang jauh lebih maju seperti Jepang masih mencatatkan angka ketidaksiapan hingga 70 persen, maka tingkat ketidaksiapan masyarakat Indonesia kemungkinan besar bisa jauh lebih tinggi. Di Indonesia, edukasi mengenai mitigasi bencana masih sering kali bersifat seremonial dan belum menyentuh seluruh lapisan masyarakat secara merata, terutama mereka yang tinggal di daerah pelosok atau rawan bencana.

Selain itu, infrastruktur pendukung keselamatan di Indonesia masih menghadapi banyak tantangan. Beberapa alat pendeteksi tsunami atau sensor gempa dilaporkan sering mengalami kerusakan akibat vandalisme atau kurangnya pemeliharaan. Hal ini memperparah risiko jatuhnya korban jiwa ketika bencana datang secara tiba-tiba tanpa adanya peringatan dini yang memadai.

Langkah Nyata Meningkatkan Kesiapsiagaan

Belajar dari hasil survei LY Corporation, ada beberapa langkah strategis yang perlu segera diimplementasikan di Indonesia untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat secara mandiri:

  • Edukasi Berkelanjutan sejak Dini: Kurikulum mitigasi bencana harus diintegrasikan ke dalam sistem pendidikan nasional secara praktis, bukan sekadar teori. Simulasi evakuasi gempa dan kebakaran perlu dilakukan secara berkala di sekolah-sekolah dan lingkungan perkantoran.
  • Penyediaan Tas Siaga Bencana (TSB): Setiap keluarga di Indonesia harus mulai dibiasakan untuk menyiapkan Tas Siaga Bencana di rumah masing-masing. Tas ini berisi kebutuhan dasar untuk bertahan hidup selama minimal tiga hari, seperti air minum, makanan instan, obat-obatan, senter, dokumen penting, dan peluit.
  • Pemanfaatan Teknologi Informasi: Pemerintah dan penyedia layanan teknologi dapat berkolaborasi untuk menyebarkan informasi bencana secara cepat dan akurat. Penggunaan aplikasi pesan instan seperti LINE atau WhatsApp untuk menyebarkan panduan keselamatan saat darurat dapat menjadi solusi yang sangat efektif.
  • Penguatan Komunitas Lokal: Pembentukan desa tangguh bencana (Destana) perlu diperluas agar masyarakat di tingkat akar rumput memiliki kemandirian dalam melakukan evakuasi mandiri sebelum bantuan dari pemerintah pusat tiba.

Kesiapsiagaan bencana bukanlah tugas pemerintah semata, melainkan tanggung jawab bersama seluruh elemen bangsa. Kesadaran individu untuk selalu waspada dan membekali diri dengan pengetahuan mitigasi adalah kunci utama dalam meminimalisir dampak buruk dari setiap bencana yang mungkin terjadi di masa depan.

Related Post