Bonucci Ungkap Nyaris Gabung Manchester City Era Guardiola

Author Image

Mais Nurdin

22 September 2026, 17:00 WIB

Leonardo Bonucci, mantan bek legendaris Juventus dan tim nasional Italia, baru-baru ini membuat pengakuan mengejutkan mengenai perjalanan kariernya di dunia sepak bola profesional. Pemain yang dikenal dengan kemampuan umpan panjangnya yang akurat ini mengungkapkan bahwa dirinya hampir saja berseragam Manchester City sekitar sepuluh tahun yang lalu setelah mendapatkan pendekatan personal dari manajer ternama, Pep Guardiola.

Ketertarikan Mendalam dari Pep Guardiola

Dalam sebuah wawancara terbaru, Bonucci menceritakan bagaimana Pep Guardiola sangat menginginkannya untuk mengisi lini pertahanan Manchester City. Ketertarikan ini muncul sekitar tahun 2016, saat Guardiola baru saja memulai proyek ambisiusnya di Stadion Etihad. Guardiola, yang dikenal sangat menyukai bek dengan kemampuan olah bola yang mumpuni, melihat Bonucci sebagai kepingan puzzle yang sempurna untuk membangun serangan dari lini belakang.

Bonucci mengakui bahwa komunikasi antara dirinya dengan pihak Manchester City, bahkan dengan Guardiola secara langsung, sempat terjadi dengan sangat intens. Pada masa itu, Bonucci sedang berada di puncak performanya bersama Juventus dan dianggap sebagai salah satu bek tengah terbaik di dunia. Kemampuannya dalam membaca permainan dan mendistribusikan bola menjadikannya target utama bagi klub-klub besar Eropa yang mengusung filosofi permainan berbasis penguasaan bola.

Meskipun tawaran dari klub kaya raya asal Inggris tersebut sangat menggiurkan, baik dari sisi finansial maupun tantangan kompetisi, kesepakatan tersebut akhirnya tidak pernah terwujud. Bonucci menjelaskan bahwa ada banyak faktor yang memengaruhi keputusannya saat itu, termasuk komitmennya yang sangat kuat terhadap Juventus dan keluarganya yang sudah merasa sangat nyaman tinggal di Turin.

Alasan di Balik Keputusan Bertahan di Juventus

Keputusan Bonucci untuk menolak pinangan Manchester City bukanlah hal yang mudah. Di satu sisi, bermain di bawah asuhan Pep Guardiola adalah impian bagi banyak pemain sepak bola modern. Namun, di sisi lain, Bonucci merasa memiliki tanggung jawab moral untuk terus membawa Juventus mendominasi kompetisi domestik dan bersaing di level Eropa. Pada periode tersebut, Juventus memang tengah membangun dinasti yang sangat kuat di Serie A dengan memenangkan gelar juara secara beruntun.

Selain faktor loyalitas klub, kondisi internal keluarga juga memainkan peran krusial. Bonucci dikenal sebagai sosok yang sangat mengutamakan keluarga, dan kepindahan ke negara baru dengan budaya serta bahasa yang berbeda tentu memerlukan pertimbangan yang sangat matang. Ia merasa bahwa tetap berada di Italia adalah pilihan terbaik bagi stabilitas kehidupan pribadinya saat itu, meskipun ia menyadari bahwa ia mungkin telah melewatkan kesempatan untuk mencicipi atmosfer Liga Inggris yang kompetitif.

Loyalitas Bonucci kepada Juventus memang sempat diuji ketika ia secara mengejutkan pindah ke AC Milan pada tahun 2017, namun ia hanya bertahan satu musim di sana sebelum akhirnya kembali ke pelukan Si Nyonya Tua. Hal ini menunjukkan betapa kuatnya ikatan emosional antara sang pemain dengan klub asal Turin tersebut, yang mungkin menjadi alasan utama mengapa tawaran besar dari Manchester City di masa lalu tidak cukup untuk menggoyahkan hatinya secara permanen.

Evolusi Pertahanan Manchester City Tanpa Bonucci

Kegagalan mendatangkan Bonucci tidak membuat Manchester City berhenti mencari bek tengah berkualitas. Setelah upaya mendapatkan Bonucci kandas, Pep Guardiola akhirnya mengalihkan bidikannya ke pemain lain seperti John Stones, Aymeric Laporte, hingga akhirnya menemukan sosok pemimpin baru dalam diri Ruben Dias. Meskipun Bonucci tidak pernah bergabung, Manchester City tetap berhasil membangun pertahanan yang solid dan memenangkan berbagai gelar bergengsi, termasuk trofi Liga Champions yang sangat diidamkan.

Namun, banyak pengamat sepak bola sering berandai-andai bagaimana jadinya jika Bonucci benar-benar bergabung dengan City sepuluh tahun lalu. Dengan visi bermainnya, Bonucci diyakini akan sangat cepat beradaptasi dengan sistem positional play yang diterapkan oleh Guardiola. Ia bisa menjadi mentor bagi bek-bek muda City dan memberikan dimensi serangan yang lebih tajam melalui umpan-umpan vertikalnya yang mematikan dari area pertahanan sendiri.

Di sisi lain, Bonucci tetap mengukir sejarah besar di Italia. Ia menjadi bagian penting dari kesuksesan tim nasional Italia menjuarai Euro 2020, di mana ia mencetak gol penyeimbang di partai final melawan Inggris. Kariernya yang panjang dan penuh prestasi membuktikan bahwa meskipun ia tidak pernah bermain di Liga Inggris, kualitasnya sebagai salah satu bek terbaik dalam sejarah sepak bola modern tetap tidak terbantahkan.

Warisan Karier Leonardo Bonucci

Kini, di penghujung kariernya, Bonucci melihat kembali masa-masa tersebut dengan rasa syukur. Ia tidak menyesali keputusannya untuk tetap bertahan di Italia atau menolak tawaran dari klub sebesar Manchester City. Baginya, setiap keputusan yang diambil telah membentuk dirinya menjadi pemain dan pribadi yang lebih dewasa. Pengakuan ini sekaligus memberikan gambaran kepada publik betapa dinamisnya bursa transfer pemain, di mana sebuah kesepakatan besar bisa saja gagal hanya karena detail-detail kecil atau pertimbangan personal.

Kisah Bonucci dan Manchester City ini akan selalu menjadi salah satu cerita “bagaimana jika” yang paling menarik dalam sejarah transfer sepak bola modern. Bagi para penggemar Manchester City, ini adalah pengingat akan ambisi besar klub sejak awal kedatangan Guardiola. Sementara bagi pendukung Juventus, ini adalah bukti nyata dari kesetiaan seorang pemain yang lebih memilih menjadi legenda di klubnya daripada mengejar kemewahan di tempat lain.

Dengan berakhirnya era Bonucci di lapangan hijau, warisan yang ia tinggalkan adalah tentang ketangguhan, kecerdasan taktik, dan loyalitas. Meskipun ia tidak pernah merasakan dinginnya malam di Manchester sebagai pemain tuan rumah, namanya akan tetap dikenang sebagai salah satu bek yang paling dihormati oleh kawan maupun lawan, termasuk oleh manajer sekaliber Pep Guardiola yang pernah begitu gigih mengejarnya.

Related Post