Iran Larang Kapal AS dan Israel Melintasi Selat Hormuz dalam Kesepakatan dengan Oman
Iran mengusulkan larangan bagi kapal Amerika Serikat dan Israel melintasi Selat Hormuz serta menuntut kompensasi dari negara-negara yang dianggap bermusuhan sebelum memperbolehkan penggunaan jalur perairan vital tersebut, menurut laporan yang mengungkap kesepakatan antara Iran dan Oman. Kesepakatan yang kini ditinjau parlemen Iran ini menjadi kunci untuk membuka kembali Selat Hormuz yang terhambat setelah serangan AS dan Israel pada Februari 2026, dilansir dari Bloombergtechnoz. Naskah kesepakatan juga mengatur larangan kargo terkait Israel dan struktur biaya untuk layanan seperti asuransi dan biaya lingkungan. Mantan pejabat Departemen Luar Negeri AS, Thomas Warrick, menilai bahwa langkah ini akan mendapat reaksi negatif dari Washington karena kedua pihak justru meningkatkan tuntutan.
Pada hari Kamis, angkatan laut Iran menyerang target musuh di pintu masuk Selat Hormuz, menyebabkan harga minyak naik dan pasar saham turun.
Presiden AS Donald Trump menyatakan negosiasi berjalan lancar dan ia terlibat langsung, namun tidak menjelaskan apakah sudah ada kesepakatan. "Kami mengendalikannya, tetapi mereka selalu bisa menembakkan sesuatu," ujar Trump mengenai jalur perairan tersebut.
Seorang negosiator utama Iran mengejek Gedung Putih karena ancaman yang berulang namun kemudian mundur, menyebutnya sebagai "diplomasi sandiwara yang terus berulang." AS menegaskan kebebasan melintas di Selat Hormuz tanpa biaya atau izin apapun, sementara Iran mensyaratkan pencabutan blokade maritim AS untuk membuka jalur secara penuh.
Kesepakatan sebelumnya yang gagal pada Juni lalu mencakup penangguhan sanksi minyak terhadap Iran dan pencairan sebagian asetnya. Harga minyak Brent naik di atas $82 per barel karena kekhawatiran bahwa rencana Iran-Oman tidak cukup untuk memulihkan arus energi dari Teluk Persia. Rancangan kesepakatan mengatur pengelolaan masuk kapal oleh Iran dengan pengawasan bersama keluarnya kapal oleh Oman, serta pelayaran melalui "koridor tengah" dengan pembatasan di dua rute lain yang saat ini terbatas.
Kondisi ini menjadi titik penting kebuntuan antara AS dan Iran dan berpotensi membuka jalan untuk perundingan lebih lanjut mengenai program nuklir Iran.
Konflik di kawasan, seperti bentrokan Arab Saudi dan kelompok Houthi serta ketegangan antara Israel dan Hizbullah, menambah kompleksitas situasi. Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, harus menyetujui kesepakatan ini, namun komunikasi dengan dia sulit karena ia terluka dalam serangan awal AS-Israel. Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan, "Komunikasi dengan Khamenei sangat sulit saat ini."
Di AS, kekurangan rudal dan sistem pertahanan menjadi alasan pembatalan serangan besar-besaran oleh Trump, meskipun Trump membantah kekurangan amunisi dengan mengatakan, "AS memiliki persediaan 'amunisi' dalam jumlah besar."
Aktivitas pelayaran di Selat Hormuz masih terbatas, dengan beberapa negara seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab mengalihkan minyak melalui pipa untuk menghindari selat tersebut.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow