Iran dan Oman Capai Kesepakatan Rute Pelayaran di Selat Hormuz
Iran dan Oman menyatakan telah mencapai kesepakatan mengenai rute pelayaran di Selat Hormuz dan saat ini tengah memfinalisasi pengaturan pengelolaan bersama jalur perairan strategis tersebut, dilansir dari Detikcom.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, mengatakan pada Rabu (05/8) bahwa koordinat geografis rute yang disepakati sudah selesai, dan pembicaraan dengan Oman terus berlanjut.
"Koordinat geografis rute yang dirancang kedua pihak telah disepakati dan, jika pihak ketiga tertentu tidak menghalangi proses tersebut, pernyataan bersama kedua negara yang memuat pertimbangan utama dan poin-poin kesepakatan juga telah memasuki tahap akhir peninjauan dan penyusunan," ujar Baqaei.
Namun, Baqaei menegaskan bahwa kesepakatan ini tidak otomatis menjadikan Selat Hormuz aman bagi seluruh kapal yang melintas.
"Faktor-faktor yang membuat Selat Hormuz tidak aman masih ada di pihak AS, terutama blokade laut dan berbagai tindakan agresif serta ancaman lainnya terhadap Iran dan kepentingannya," katanya.
Menurut AFP, Iran mengendalikan Selat Hormuz secara de facto dan mengancam kapal yang melewati jalur yang dianggap tidak sah sejak AS dan Israel melancarkan perang terhadap Iran pada 28 Februari.
Presiden AS Donald Trump beberapa kali menyatakan bahwa Iran ingin membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz, namun Iran membantah negosiasi semacam itu dan lebih memilih pengaturan bersama dengan Oman.
Insiden keamanan masih terjadi. Pada hari yang sama, badan keamanan maritim Inggris UKMTO melaporkan dua ledakan terdengar saat sebuah kapal tanker minyak melintasi Selat Hormuz di dekat Oman, namun awak kapal selamat.
Kelompok Houthi di Yaman mengklaim serangan terhadap dua kapal tanker minyak milik Arab Saudi di Laut Merah dan Teluk Aden, kata juru bicara militer mereka, Yahya Saree.
Wakil Presiden AS JD Vance mengakui proses negosiasi dengan Iran tidak mudah dan memerlukan waktu karena perbedaan kepemimpinan di Iran.
"Prosesnya akan rumit dan membutuhkan waktu untuk mencapainya," ujar Vance, menambahkan, "Kenyataannya, pertama, orang-orang Iran sangat sulit diajak berunding. Kedua, mereka memiliki sistem yang terpecah."
AFP melaporkan Iran mewajibkan kapal menggunakan jalur dekat pantai Iran setelah blokade efektif diberlakukan, walau banyak kapal tetap memilih jalur selatan dekat Oman meski ada ancaman.
Iran juga ingin mengendalikan selat dan menerapkan pungutan bagi kapal yang melintas, yang sebelumnya tidak dilakukan sebelum perang, dan ini diperkirakan akan ditolak keras oleh AS.
Trump pekan lalu mengancam serangan keras terhadap Iran, termasuk infrastruktur sipil, meski kemudian memberi sinyal kesepakatan mungkin tercapai. Namun Kementerian Luar Negeri Iran membantah ada negosiasi dengan Washington.
Pakistan menyatakan harapannya agar kesepakatan tentang Selat Hormuz membuka jalan dialog lanjutan antara AS dan Iran. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Pakistan, Tahir Andrabi, berharap pembicaraan teknis bisa kembali dilanjutkan melalui nota kesepahaman yang dimediasi Pakistan.
"Kami berharap kesepakatan mengenai Selat akan membuka jalan bagi kelanjutan dialog, khususnya dimulainya kembali pembicaraan tingkat teknis antara Iran dan Amerika Serikat," ujar Andrabi.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow