Presiden Prabowo Akan Umumkan Insentif 500 Ribu Kendaraan Listrik
Pemerintah Indonesia akan memberikan insentif bagi 500 ribu kendaraan listrik berupa mobil dan motor. Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan mengumumkan secara resmi skema insentif ini dalam dua hingga tiga pekan mendatang, kata Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, seperti dilansir dari Detik Oto.
Purbaya menjelaskan, insentif tersebut mencakup 100 persen Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang ditanggung pemerintah, serta potongan hingga 40 persen untuk jenis kendaraan listrik tertentu.
"Saya pikir dua atau tiga pekan dari sekarang, presiden akan meluncurkan stimulus untuk kendaraan listrik, termasuk 500.000 motor dan mobil listrik juga. 100 persen PPnBM, PPN ya PPN, VAT ditanggung pemerintah, 40 persen untuk kendaraan listrik tertentu," ujar Purbaya saat berbicara di Gaikindo International Automotive Conference (GIAC), ICE BSD, Tangerang.
Purbaya menambahkan, skema insentif akan disesuaikan dengan jenis baterai yang digunakan pada kendaraan listrik, membedakan antara baterai berbasis nikel dan lithium.
Dalam kesempatan berbeda, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan bahwa insentif akan difokuskan pada mobil dan motor yang masuk dalam program nasional masing-masing, tetapi ia belum merinci kriteria yang digunakan.
"Bahwa basisnya adalah mereka yang masuk dalam program mobil nasional dan mereka yang masuk ke program motor nasional. Kita kan kementerian teknisnya mempersiapkan policy apa yang disiapkan oleh Menko Ekon itu nanti teknisnya kita siapkan," kata Agus saat ditemui di GIIAS.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan, insentif akan ditargetkan pada kendaraan listrik dengan baterai jenis tertentu, terutama baterai NMC (nickel manganese cobalt). Menurutnya, strategi ini bertujuan memperkuat pasar kendaraan listrik berbasis baterai.
"Ke depan akan ke sana. (Insentif NMC menjadi) bagian salah satu strateginya," ujar Bahlil, dikutip dari Antara.
Bahlil menambahkan, baterai LFP (lithium iron phosphate) tidak menjadi fokus pemerintah karena Indonesia tidak memiliki bahan baku untuk jenis baterai tersebut, sedangkan bahan baku untuk baterai nikel melimpah.
Menurut Bahlil, baterai berbasis nikel lebih unggul untuk perjalanan jarak jauh dibandingkan baterai LFP yang lebih cocok untuk jarak pendek.
"Kalau jarak-jarak pendek itu LFP biasanya, tetapi kalau jarak panjang itu nikel masih lebih paten," ucap Bahlil.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow