Bank Indonesia Catat Lonjakan Minat Investor dan Turunnya Yield SRBI

Smallest Font
Largest Font

Minat investor terhadap lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) meningkat drastis pada 14 Agustus 2026, dengan total penawaran yang masuk mencapai Rp80,69 triliun, naik 78,82% dibanding pekan sebelumnya sebesar Rp45,12 triliun, dilansir dari Bloombergtechnoz.

Kenaikan ini terutama berasal dari tenor 12 bulan, yang penawarannya meningkat dari Rp39,78 triliun menjadi Rp71,7 triliun atau naik 80,25%. Penyerapan SRBI oleh Bank Indonesia juga meningkat empat kali lipat, dari Rp5 triliun menjadi Rp20 triliun, dengan sebagian besar alokasi pada tenor 12 bulan.

Nilai yang dimenangkan pada tenor 12 bulan melonjak menjadi Rp18,25 triliun dari Rp4 triliun, sementara alokasi tenor 6 bulan turun menjadi Rp250 miliar dan tenor 9 bulan tetap Rp500 miliar.

Imbal hasil rata-rata tertimbang yang dimenangkan justru turun di semua tenor. Yield tenor 6 bulan turun 12,8 basis poin menjadi 7,05%, tenor 9 bulan turun 19,3 basis poin menjadi 7,2%, dan tenor 12 bulan turun paling dalam 22,4 basis poin menjadi 7,36%.

Perubahan ini membuat kurva yield SRBI menjadi lebih landai, dengan selisih yield tenor 12 bulan menyempit dari 40,69 basis poin menjadi 31,1 basis poin. Penurunan yield ini mencerminkan kemampuan Bank Indonesia untuk menurunkan premi yield seiring meredanya volatilitas nilai tukar rupiah dan ekspektasi kebijakan The Fed yang lebih moderat.

"Meski turun, yield ini tetap menarik di mata investor," ujar data dari Bloombergtechnoz. Selera investor yang membaik memberikan ruang bagi BI menyerap lebih banyak penawaran tanpa menaikkan yield.

Bank Indonesia sebelumnya menggunakan daya tarik yield sebagai strategi untuk menarik aliran modal demi menopang rupiah. Meskipun yield SRBI turun, instrumen ini masih menawarkan yield lebih tinggi dibanding Surat Berharga Negara (SBN) dengan tenor sama yang saat ini berada di posisi 6,86%, turun 2,9 basis poin dari sebelumnya.

Lonjakan minat investor dan penyerapan tinggi oleh BI turut mendukung penguatan rupiah pada perdagangan Jumat, 14 Agustus 2026. Rupiah awalnya melemah 0,11% di posisi Rp17.890/US$, namun berbalik menguat hingga akhirnya ditutup naik 0,25% ke Rp17.825/US$.

Penguatan rupiah juga didukung oleh sentimen pencalonan Destry Damayanti sebagai penerus Perry Warjiyo sebagai Gubernur BI, yang memberikan sinyal kelanjutan strategi moneter dan meredakan kekhawatiran pasar terkait kebijakan bank sentral.

Meski demikian, rupiah masih rentan terhadap gejolak fiskal, isu peringkat kredit, dan ketidakpastian geopolitik yang menyebabkan kenaikan harga minyak mentah. Oleh karena itu, BI diperkirakan akan tetap hati-hati dengan memanfaatkan suku bunga, intervensi lewat SRBI, dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) untuk meredam volatilitas rupiah.

Follow pdamtirtasukapura.co.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed