Fenomena Astronomi Agustus 2026 Hadirkan Gerhana dan Hujan Meteor
Agustus 2026 akan menyuguhkan beberapa fenomena astronomi menarik seperti gerhana Matahari total, hujan meteor Perseid, posisi terbaik planet Venus untuk diamati, serta gerhana Bulan sebagian, dilansir dari Detik iNET pada 4 Agustus 2026.
Pada 12 Agustus pukul 17.37 UTC, fase Bulan baru terjadi ketika Bulan berada di sisi yang sama dengan Matahari sehingga tidak terlihat di malam hari. Kondisi ini menjadikan malam tersebut waktu ideal untuk mengamati objek langit redup seperti galaksi dan nebula.
Hari yang sama, 12 Agustus, terjadi gerhana Matahari total yang menutupi seluruh piringan Matahari. Lintasan gerhana total dimulai dari Samudra Arktik, melewati lepas pantai utara Rusia, Greenland, Islandia, Samudra Atlantik, dan berakhir di Spanyol. Gerhana sebagian bisa dilihat dari Alaska, Kanada, Afrika barat, dan wilayah utara Amerika Serikat. Indonesia tidak termasuk wilayah pengamatan gerhana ini.
Fenomena hujan meteor Perseid yang terkenal juga mencapai puncaknya pada malam 12 Agustus hingga dini hari 13 Agustus. Perseid yang aktif sejak 17 Juli hingga 24 Agustus ini dapat menghasilkan hingga 60 meteor per jam dalam kondisi langit ideal. Puncak hujan meteor bertepatan dengan fase Bulan baru sehingga cahaya Bulan tidak mengganggu pengamatan.
Perseid berasal dari debu komet 109P/Swift-Tuttle yang ditemukan pada 1862. Meteor ini tampak berasal dari rasi Perseus, namun bisa muncul di berbagai bagian langit. Observasi terbaik setelah tengah malam di tempat minim polusi cahaya.
Pada 15 Agustus, Venus mencapai elongasi timur terbesar sekitar 45,9 derajat dari Matahari. Ini menjadi waktu terbaik tahun ini untuk mengamati Venus yang akan terlihat paling tinggi di langit barat setelah Matahari terbenam dan menjadi objek paling terang setelah Matahari dan Bulan.
Bulan purnama terjadi pada 28 Agustus pukul 04.19 UTC dan dikenal sebagai Sturgeon Moon menurut tradisi masyarakat asli Amerika Utara karena ikan sturgeon lebih mudah ditangkap saat itu. Bulan purnama ini juga disebut Green Corn Moon dan Grain Moon.
Di hari yang sama, gerhana Bulan sebagian terjadi ketika sebagian Bulan memasuki bayangan inti Bumi. Fenomena ini dapat disaksikan dari sebagian besar Amerika Utara, Meksiko, Amerika Tengah, Amerika Selatan, Samudra Atlantik, serta sebagian Eropa dan Afrika. Indonesia tidak dapat melihat gerhana Bulan ini karena posisi keterlihatannya berada di belahan Bumi lain.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow