Kasus DBD Meningkat, Kemitraan Perkuat Edukasi dan Pencegahan di Indonesia

Smallest Font
Largest Font

Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Indonesia meningkat dengan siklus lonjakan yang kini lebih cepat, membebani aspek kesehatan dan ekonomi nasional.

Data Kementerian Kesehatan mencatat kenaikan hampir tiga kali lipat kasus DBD dalam lima tahun terakhir dibandingkan dua dekade sebelumnya, dengan siklus peningkatan yang semula sekitar 10 tahun menjadi kurang dari tiga tahun.

BPJS Kesehatan melaporkan lebih dari satu juta kasus rawat inap DBD pada 2024, dengan biaya pengobatan mencapai sekitar Rp3 triliun.

Memanfaatkan momentum Pekan Imunisasi Dunia 2026, PT Takeda Innovative Medicines bekerja sama dengan Halodoc meluncurkan kemitraan strategis untuk memperkuat edukasi pencegahan DBD melalui berbagai inisiatif, termasuk edukasi tenaga kesehatan dan kampanye digital.

Kerja sama ini juga menyediakan layanan konsultasi dokter seputar pencegahan dengue dan akses vaksinasi, yang kini direkomendasikan untuk anak usia 4 hingga 18 tahun sesuai persetujuan BPOM terbaru.

Ketua Satgas Imunisasi Dewasa Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia, Dr. dr. Sukamto Koesnoe, menegaskan bahwa DBD tidak hanya mengancam anak-anak tapi juga orang dewasa, terutama mereka yang memiliki penyakit penyerta seperti diabetes dan hipertensi, sehingga risiko komplikasi lebih tinggi.

"Banyak pasien dewasa yang harus menjalani rawat inap akibat DBD, yang berdampak pada gangguan aktivitas dan produktivitas keluarga," kata Dr. Sukamto.

Prof. Dr. dr. Hartono Gunardi, Ketua Satgas Imunisasi Anak Ikatan Dokter Anak Indonesia, menambahkan bahwa anak usia 5–44 tahun merupakan kelompok terbanyak yang terkena DBD, dengan kematian terbesar pada usia 5–14 tahun akibat daya tahan tubuh yang belum optimal dan keterlambatan deteksi gejala.

Menurutnya, pencegahan menyeluruh sangat penting, mulai dari pengendalian lingkungan melalui 3M Plus hingga perlindungan tambahan seperti imunisasi dengue.

Presiden Direktur PT Takeda Innovative Medicines, Andreas Gutknecht, menyatakan bahwa pencegahan menjadi kunci karena belum ada obat spesifik untuk dengue dan penanganan lebih fokus pada gejala.

"Kami berkomitmen mendukung target Nol Kematian Akibat Dengue pada 2030 melalui edukasi dan kolaborasi lintas sektor," ujarnya.

Sementara itu, CEO Halodoc, Jonathan Sudharta, menyebut kemitraan ini memperluas akses edukasi dan layanan vaksinasi, yang mengalami peningkatan hampir dua kali lipat pada kuartal pertama 2026 dibandingkan kuartal sebelumnya.

Perubahan iklim dan pola cuaca yang tak menentu meningkatkan risiko penyebaran dengue, sehingga pencegahan harus dilakukan secara terpadu antara pengendalian lingkungan, edukasi, dan pemanfaatan teknologi kesehatan.

Momentum Pekan Imunisasi Dunia 2026 menjadi pengingat penting bahwa perlindungan kesehatan harus dimulai sebelum penyakit menyerang agar masyarakat dapat terlindungi secara optimal dari ancaman DBD.

Disclaimer

This article was automatically rewritten by AI based on source: suara.com without altering the facts of the original article.
Follow pdamtirtasukapura.co.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow