Korea Utara Promosikan Sup Daging Anjing Hadapi Gelombang Panas
Pemerintah Korea Utara menginstruksikan warga mengonsumsi sup daging anjing sebagai upaya utama menghadapi gelombang panas ekstrem yang melanda Semenanjung Korea. Suhu udara diperkirakan mencapai hingga 40 derajat Celsius, memicu respons kuliner berbeda dari negara tetangga.
Sup daging anjing dianggap mampu menjaga stamina tubuh di tengah suhu tinggi. Media pemerintah membagikan panduan kesehatan agar warga terhindar dari risiko gangguan kesehatan akibat panas ekstrem, seperti komplikasi pernapasan dan jantung.
"Penyakit kardiovaskular, diabetes, dan hipertiroidisme dapat memburuk akibat kelelahan akibat panas dan sengatan panas," ujar dokter senior Rumah Sakit Umum Pyongyang kepada Rodong Sinmun.
Selain sup daging anjing, masyarakat juga dianjurkan mengonsumsi semangka, mentimun, dan bubur kacang hijau sebagai makanan penyegar. Namun, sup daging anjing tetap menjadi menu utama karena kandungan gizinya yang tinggi meski harganya mahal dan sulit dijangkau masyarakat biasa.
"Dangogi populer di Utara, tetapi merupakan makanan yang mahal," kata Ri Chol, mantan diplomat Korea Utara, kepada This Week in Asia. Ia menambahkan bahwa hidangan ini biasanya dikonsumsi saat puncak musim panas untuk mencegah kelelahan fisik.
Pemerintah Korea Utara juga mendirikan restoran mewah di sepanjang Sungai Taedong khusus menyajikan sup daging anjing dan menyelenggarakan kompetisi memasak tahunan sebagai simbol patriotisme menghadapi musim panas.
Kebijakan ini berbanding terbalik dengan Korea Selatan yang melarang keras budidaya dan penjualan daging anjing untuk konsumsi. Undang-undang baru akan berlaku penuh pada 2027 dengan ancaman hukuman penjara hingga tiga tahun dan denda besar bagi pelanggar.
Pyongyang mencatat suhu malam hari tetap panas di atas 25 derajat Celsius sejak akhir Juli. Badan meteorologi memperkirakan gelombang panas akan bertahan hingga akhir pekan dengan suhu puncak mencapai 35-40 derajat Celsius di wilayah tengah dan utara.
Krisis gelombang panas juga melanda Korea Selatan, dengan suhu ekstrem di wilayah tenggara yang kini mulai mendekati Seoul. Topan Dolphin yang berada di sekitar Jepang diperkirakan tidak membawa pendinginan karena dua kubah udara panas menghalangi pergerakan badai dan mendorong angin panas kering.
"Karena Topan Dolphin bergerak ke barat dari perairan utara Guam, angin timur diperkirakan akan bertahan, sehingga suhu di wilayah barat kemungkinan akan tetap tinggi untuk saat ini," kata Kim Soo-hyeon, prakirawan Badan Meteorologi Korea.
Fenomena ini menjadi latar belakang pemerintah Korea Utara mendorong konsumsi makanan tinggi kalori untuk menghadapi krisis iklim global, mencerminkan perbedaan sosial dan hukum antara Korea Utara dan Selatan di Semenanjung Korea.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow