Kemenkes Deteksi 23 Kasus Hantavirus di Sembilan Provinsi Indonesia

Smallest Font
Largest Font

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mendeteksi 23 kasus positif Hantavirus yang tersebar di sembilan provinsi dengan tiga pasien meninggal dunia, dilansir dari Suara. Kasus Hantavirus tersebut ditemukan di DKI Jakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Sulawesi Utara, Sumatera Barat, Nusa Tenggara Timur, Banten, dan Kalimantan Barat. DKI Jakarta dan DIY menjadi wilayah dengan jumlah kasus terbanyak, masing-masing enam kasus, disusul Jawa Barat dengan lima kasus.

Plt Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes, dr. Andi Saguni, menyatakan, "Peningkatan kasus yang terlaporkan menunjukkan sistem kewaspadaan dan deteksi dini kita semakin baik. Karena itu masyarakat tidak perlu panik, namun tetap harus waspada terhadap faktor risiko penularan."

Data resmi Kemenkes menunjukkan sejak 2024 hingga Mei 2026 terdapat 256 kasus suspek Hantavirus, dengan 23 kasus terkonfirmasi sebagai Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) akibat strain Seoul Virus. Kasus meningkat dari satu kasus pada 2024 menjadi 17 kasus pada 2025 dan lima kasus hingga Mei 2026.

Andi Saguni menambahkan bahwa hingga saat ini Indonesia belum menemukan kasus tipe Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang paru-paru. Hantavirus merupakan penyakit zoonosis yang menular melalui kontak dengan tikus atau celurut yang terinfeksi, baik melalui luka terbuka maupun partikel udara yang terkontaminasi kotoran dan urine (aerosol).

Risiko penularan meningkat di lingkungan dengan populasi tikus tinggi, area banjir, dan aktivitas luar ruang seperti berkemah. Kemenkes mengungkapkan, "Sekitar 11,6 persen populasi manusia di Indonesia pernah terpapar virus ini, sementara tingkat infeksi pada populasi tikus sebagai reservoir utama dapat mencapai 34 persen." Virus Hantavirus di Indonesia telah ditemukan sejak 1991 dan termasuk tipe HFRS yang menyerang ginjal, berbeda dengan kasus viral di kapal pesiar MV Hondius yang merupakan tipe HPS.

Kementerian Kesehatan terus memantau kasus domestik dan merespons notifikasi internasional dengan melakukan penyelidikan epidemiologi, koordinasi lintas sektor, dan pemeriksaan laboratorium intensif, khususnya di RSPI Sulianti Saroso.

Meskipun hasil pengujian kasus kontak di kapal pesiar dinyatakan negatif, upaya pemantauan ketat tetap dilakukan untuk mencegah penyebaran virus di dalam negeri.

Disclaimer

This article was automatically rewritten by AI based on source: suara.com without altering the facts of the original article.
Follow pdamtirtasukapura.co.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed