Kitman Sebagai Sifat Mustahil Rasul Yang Tidak Pernah Dilakukan
Kitman artinya adalah menyembunyikan, sebuah sifat yang mustahil dimiliki oleh rasul karena bertentangan langsung dengan kewajiban tabligh atau menyampaikan wahyu dengan jelas. Pada 7 Agustus 2026, pemahaman ini kembali ditegaskan dalam kajian keagamaan yang menyoroti bagaimana sifat kitman tidak pernah ada pada para nabi, termasuk Nabi Muhammad SAW.
Kitman sebagai tindakan menyembunyikan wahyu ditegaskan dalam Al-Quran Surat Al-An'am ayat 50 yang menjelaskan bahwa para rasul tidak menyembunyikan wahyu, tidak mengetahui yang ghaib, dan hanya mengikuti perintah Allah secara terbuka. Sifat kitman bertolak belakang dengan empat sifat wajib rasul yang meliputi sidiq (jujur), amanah (dapat dipercaya), fatanah (cerdas), dan tabligh (menyampaikan).
Berdasarkan sumber dari berbagai kajian agama, sifat mustahil yang tidak boleh ada dalam diri rasul antara lain adalah kazib (dusta), khianat (tidak dipercaya), kitman (menyembunyikan), dan baladah (bodoh). Kitman dianggap sebagai dosa besar terutama jika menyembunyikan nilai ajaran Allah berupa al-bayyinat dan al-huda yang sangat krusial bagi umat Islam.
Sejarah menunjukkan beberapa contoh rasul yang tidak pernah melakukan kitman meski menghadapi berbagai tantangan. Nabi Ibrahim AS terus menyampaikan wahyu tanpa menyembunyikan satu pun meski mendapat tekanan dari ayahnya dan Raja Namrud yang bahkan membakar dirinya. Begitu pula Nabi Musa AS yang gigih menyampaikan wahyu meski berhadapan dengan Raja Fir'aun yang menentang keras ajarannya.
Nabi Muhammad SAW, meskipun mengalami cobaan berat dari lingkungan sekitar dan orang-orang terdekat, tetap konsisten menyampaikan wahyu dengan jujur dan terbuka. Imam ar-Razi meriwayatkan dari Aisyah bahwa siapa pun yang menganggap Muhammad SAW menyembunyikan sebagian wahyu, itu merupakan kebohongan besar terhadap Allah SWT.
Makna Tabligh dan Penolakan Kitman dalam Islam
Tabligh berarti menyampaikan pesan Allah secara utuh tanpa disembunyikan. QS an-Najm ayat 2-4 menegaskan bahwa Muhammad SAW tidak pernah sesat atau berbohong dalam menyampaikan wahyu. Begitu juga QS al-An'am ayat 106 menuntut rasul agar mengikuti wahyu dan menjauhi segala bentuk kemusyrikan.
Perintah untuk tidak melakukan kitman bukan hanya soal kejujuran, tetapi juga menjaga keutuhan ajaran Islam agar tidak terjadi penyimpangan atau kebingungan dalam umat. Kitman dinilai sebagai pengkhianatan terhadap amanah yang diberikan Allah kepada para rasul.
Daftar Sifat Wajib dan Mustahil bagi Rasul
- Sifat Wajib Rasul: Sidiq (jujur), Amanah (dapat dipercaya), Fatanah (cerdas), Tabligh (menyampaikan wahyu)
- Sifat Mustahil Rasul: Kazib (dusta), Khianat (tidak dipercaya), Kitman (menyembunyikan), Baladah (bodoh)
Perbandingan Sifat Rasul dan Kitman
| Sifat | Makna | Status bagi Rasul |
|---|---|---|
| Sidiq | Selalu jujur dan benar | Wajib |
| Amanah | Dapat dipercaya | Wajib |
| Fatanah | Cerdas dan bijaksana | Wajib |
| Tabligh | Menyampaikan wahyu dengan utuh | Wajib |
| Kazib | Bohong dan dusta | Mustahil |
| Khianat | Tidak dapat dipercaya | Mustahil |
| Kitman | Menyembunyikan wahyu | Mustahil |
| Baladah | Bodoh dan tidak cerdas | Mustahil |
Memahami arti kitman dan mengapa rasul tidak boleh menyembunyikan wahyu merupakan dasar penting dalam keimanan dan pengajaran Islam. Sifat tabligh yang wajib dimiliki rasul memastikan bahwa ajaran Allah sampai secara penuh kepada umat tanpa ada yang disembunyikan, sekaligus menolak keras adanya kitman dalam diri nabi.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow