Polisi Tangkap Tiga Pelaku Penyiksaan dan Pembakaran Burung Hantu di Manggarai Barat
Tiga pria di Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, ditangkap polisi setelah menyiksa dan membakar burung hantu hidup-hidup pada 7 Agustus 2026, peristiwa yang kemudian viral dan menuai kecaman luas, dilansir dari Detik iNET.
Salah satu pelaku awalnya melihat burung hantu bertengger di tiang dapur, lalu menangkapnya dengan tangan kosong dan membawa ke depan kios. Di tempat itu, burung hantu disiksa, salah satu pelaku memegang sayapnya sementara yang lain memukul kepala burung hingga akhirnya dibakar saat masih hidup. Aksi ini sempat direkam menggunakan telepon genggam. Ketiga pelaku kini ditahan di Polres Manggarai Barat.
Dari sisi ekologis, burung hantu memiliki peran penting sebagai predator alami hewan pengerat, terutama tikus yang menjadi hama pertanian. Burung ini aktif berburu pada malam hari untuk memangsa tikus dan menjaga keseimbangan ekosistem.
Salah satu jenis burung hantu yang banyak dipelajari adalah Serak Jawa atau Barn Owl. Dilansir dari laman BRIN, burung ini adaptif terhadap iklim tropis dan tidak agresif terhadap manusia. Serak Jawa mampu memangsa beberapa ekor tikus dalam satu malam dan berpotensi menjadi metode pengendalian hama yang ramah lingkungan.
Keberadaan burung hantu di lahan pertanian membantu petani mengendalikan populasi tikus, yang dapat merusak tanaman dan mengancam hasil panen. Penggunaan burung hantu merupakan bagian dari Pengendalian Hama Terpadu (PHT), yang mengutamakan musuh alami hama dibanding pestisida.
Peneliti Ahli Madya sekaligus Kepala Pusat Riset Tanaman Pangan BRIN, Yudhistira Nugraha, mengatakan bahwa predator alami seperti burung hantu tidak cukup efektif saat terjadi ledakan populasi tikus. Oleh karena itu, metode lain seperti grobyokan, pengemposan sarang, dan sistem perangkap diperlukan sebagai tindakan preventif.
"Pendekatan terpadu ini menjadi kunci agar populasi tikus bisa ditekan dengan cepat sebelum stabil kembali dengan bantuan predator alami," ujar Yudhistira, dilansir dari laman BRIN.
Jika burung hantu diburu atau terusir, populasi predator alami tikus berkurang, yang dapat mengganggu keseimbangan ekosistem dan menghilangkan opsi pengendalian hama biologis bagi petani.
Konservasi burung hantu tidak hanya menyelamatkan satwa, tetapi juga menjaga manfaat ekologis yang lebih luas. BRIN menyebut pemanfaatan burung hantu sebagai predator alami juga memerlukan pengelolaan habitat dan pemantauan populasi.
Salah satu upaya mendukung keberadaan burung hantu di lahan pertanian adalah dengan menyediakan rumah burung hantu atau rubuha, tempat bersarang buatan. Namun, menjaga lingkungan pencarian makan burung hantu juga penting agar aman dari racun tikus yang dapat membahayakan predator ini.
Kejadian penyiksaan burung hantu di Manggarai Barat menjadi pengingat bahwa meski satwa liar kadang masuk ke sekitar pemukiman, penyiksaan atau pembunuhan bukan cara yang tepat, apalagi mengingat peran ekologis burung hantu yang menguntungkan manusia dalam mengendalikan hama dan menjaga keseimbangan alam.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow