UGM Kembangkan Metode Skrining Kanker Serviks dengan AI dari Masalah Masyarakat

Smallest Font
Largest Font

Universitas Gadjah Mada (UGM) mengembangkan riset kecerdasan buatan (AI) yang berangkat dari persoalan nyata masyarakat, khususnya dalam mencari metode skrining kanker serviks yang lebih mudah diakses dan mengurangi rasa malu.

Rektor UGM, Prof Ova Emilia, menyatakan bahwa pengembangan riset AI dimulai dengan melihat persoalan yang dihadapi masyarakat, bukan hanya berdasarkan teknologi yang tersedia. "Kalau produk apa, saya kira tergantung dari tantangannya dan isu atau masalah," ujar Ova saat ditemui di UGM, Sleman, Kamis (13/8/2026), seperti dilansir dari Detik iNET.

Rendahnya cakupan pemeriksaan kanker serviks di Indonesia menjadi salah satu perhatian utama. Hanya kurang dari 3 persen masyarakat yang melakukan pemeriksaan, yang menurut Ova salah satu penyebabnya adalah rasa malu.

"Coverage di Indonesia itu hanya kurang dari 3 persen orang yang cek, artinya karena malu," kata Ova.

Dari permasalahan ini, muncul gagasan mencari metode pemeriksaan dengan pengambilan sampel yang lebih mudah dan tidak membuat masyarakat merasa malu. Salah satu ide adalah menggunakan sampel urine, dianalogikan seperti pengambilan sampel urine pada tes kehamilan.

"Artinya kan kita harus mencari di mana caranya supaya orang enggak perlu dalam posisi malu pada saat melakukan ini. Terus akhirnya terpikirkan, 'Oh, berarti kita ambil sampel yang lain'," jelas Ova.

"Sampel menggunakan sampel kencing seperti orang kalau cek hamil, misalnya kayak gitu. Artinya itu kan suatu terobosan," tambahnya.

Ova menjelaskan bahwa ide-ide riset ini muncul dari pengamatan para praktisi dan peneliti terhadap masalah di masyarakat. Penelitian diarahkan untuk menemukan solusi yang sesuai kebutuhan nyata.

"Ide-ide seperti itu muncul dari para praktisi, para periset, 'Kenapa kok ada kayak gini?'" ujar Ova.

Dia menegaskan bahwa pengembangan riset AI di UGM tidak hanya ditentukan oleh manajemen universitas, tetapi lebih kepada dukungan payung penelitian dan dorongan kepada peneliti serta mahasiswa untuk menyesuaikan penelitian dengan masalah yang ada di masyarakat.

"Kita mempunyai semacam payung-payung penelitian apa yang perlu kita lakukan ke depan. Dan itu kita akan mendukung kebijakan dari pemerintah, kebutuhan apa yang dilakukan, itu yang menjadi prioritas kita," ucapnya.

"Kita mendorong peneliti, researcher, mahasiswa supaya melakukan penelitian sesuai dengan apa yang kita hadapi, masalah yang dihadapi," tutup Ova.

Follow pdamtirtasukapura.co.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow