Populasi Orangutan Sumatra Turun Hampir 20 Persen dalam 12 Tahun

Smallest Font
Largest Font

Populasi orangutan Sumatra (Pongo abelii) mengalami penurunan hampir 20 persen dalam 12 tahun terakhir, dari 13.846 individu pada 2011 menjadi sekitar 11.694 individu, dilansir dari Detik Travel. Peneliti IPB University, Dede Aulia Rahman, menyatakan penurunan ini terjadi dengan rata-rata 1,8 persen per tahun dan tidak boleh diabaikan. Pusat populasi terbesar orangutan Sumatra berada di Kawasan Ekosistem Leuser (KEL), yang menopang sekitar 84 persen populasi sehingga keberlangsungan kawasan ini sangat penting bagi spesies tersebut.

Kondisi serupa ditemui pada orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis) yang populasinya diperkirakan hanya tersisa sekitar 716 individu di Ekosistem Batang Toru.

"Angka ini sangat serius karena orang utan bukan satwa yang mampu memulihkan populasinya dengan cepat," ujar Dede. Salah satu ancaman utama adalah hilangnya habitat. Sekitar 76 persen perubahan populasi antar-metapopulasi dipengaruhi oleh hilangnya hutan, dengan 94.399 hektare hutan hilang dari 2011 hingga 2023.

Hilangnya habitat akibat ekspansi perkebunan, pembangunan infrastruktur, pertambangan, dan perambahan ilegal menjadi faktor kritis. Selain itu, orangutan menghadapi ancaman pembunuhan akibat konflik dengan manusia, perburuan, perdagangan ilegal, dan fragmentasi habitat.

"Tidak tepat jika kita mempertentangkan kehilangan habitat dengan pembunuhan atau konflik seolah-olah keduanya merupakan ancaman yang terpisah. Keduanya saling memperkuat," jelas Dede. Fragmentasi hutan membuat orangutan mencari makanan dan habitat baru di area perkebunan dan permukiman, yang meningkatkan risiko konflik dan kematian. Kemampuan reproduksi orangutan yang lambat, dengan jarak antar kelahiran tujuh hingga sembilan tahun, memperparah risiko penurunan populasi.

"Ketika seekor orangutan mati akibat perburuan, konflik atau aktivitas manusia lainnya, populasinya membutuhkan waktu yang panjang untuk menggantikan individu yang hilang," kata Dede.

Risiko kepunahan lokal meningkat terutama pada metapopulasi kecil dan orangutan Tapanuli. Dede menekankan pentingnya konservasi terpadu yang tidak hanya melindungi individu tapi juga habitatnya. Langkah yang diperlukan termasuk menghentikan kehilangan habitat, memulihkan koridor ekologis, dan menekan kematian orangutan akibat aktivitas manusia.

"Kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, masyarakat dan lembaga konservasi juga dinilai penting untuk mempertahankan populasi orang utan yang tersisa," tutupnya.

Follow pdamtirtasukapura.co.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed