Ular Pohon Cokelat Berhasil Kuasai Guam dengan Keanekaragaman Genetik Tak Terduga

Smallest Font
Largest Font

Ular pohon cokelat (Boiga irregularis) menjadi salah satu contoh spesies invasif yang berkembang pesat setelah tiba di pulau Guam, diduga ikut dalam kapal kargo militer pasca-Perang Dunia II, seperti dikutip dari Detik iNET.

Dengan ukuran sedang dan warna cokelat kemerahan atau kekuningan serta corak gelap melintang, ular ini mampu menyatu dengan lingkungan pohon dan lantai hutan. Meski berbisa ringan, ancamannya terhadap manusia sangat kecil.

Populasi ular ini di Guam melonjak drastis, mencapai sekitar dua juta ekor pada awal 1980-an, dengan kepadatan mencapai 30.000 ekor per mil persegi di beberapa area. Lonjakan ini berdampak serius pada keanekaragaman hayati dan ekonomi setempat.

Dari 12 spesies burung hutan asli Guam, 10 telah punah akibat tekanan ular ini. Penurunan burung menyebabkan berkurangnya penyerbuk tanaman dan menurunkan keanekaragaman flora. Selain itu, ular ini kerap menyebabkannya pemadaman listrik yang mengganggu sektor energi pulau.

Para ilmuwan sempat bingung bagaimana ular dengan populasi awal kecil bisa berkembang pesat, mengingat keterbatasan keragaman genetik yang biasanya menyebabkan kerentanan terhadap penyakit dan adaptasi buruk.

Studi terbaru di jurnal Science Advances oleh tim University at Buffalo mengungkap bahwa ular pohon cokelat menyimpan keanekaragaman genetik penting yang selama ini terabaikan. Analisis genom mengidentifikasi hampir 19.000 variasi struktural gen, terutama pada gen yang mengatur imunitas adaptif dan indra penciuman.

Indra penciuman sangat vital untuk navigasi dan perburuan, sementara sistem kekebalan mendukung kemampuan menghadapi patogen baru di Guam. Kombinasi ini memberi ular keunggulan adaptasi yang signifikan.

Meski belum dipastikan apakah variasi genetik ini sudah ada sebelum invasi atau muncul setelahnya, penelitian menunjukkan kemungkinan ular tersebut sudah memiliki fleksibilitas genetik yang cukup sebelum tiba di Guam.

Menurut para peneliti, hasil ini juga memberikan wawasan baru terkait kemampuan spesies dengan populasi kecil untuk bertahan dan beradaptasi, yang bisa menjadi kabar baik bagi perlindungan spesies terancam punah.

"Kami sekarang memahami lebih baik sumber keanekaragaman genetik yang sebelumnya tidak disadari, yang menjelaskan bagaimana beberapa spesies dengan perkawinan sedarah masih mampu merespons perubahan lingkungan," ujar Christopher Osborne, mantan mahasiswa di laboratorium peneliti tersebut.

Follow pdamtirtasukapura.co.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow