Dokter Jelaskan Perbedaan Diagnosis Usus Buntu Fahira Almira di Indonesia dan Malaysia
Kasus perbedaan diagnosis usus buntu dialami influencer Fahira Almira setelah tiga rumah sakit di Indonesia memberikan hasil berbeda sebelum akhirnya menjalani pemeriksaan di Penang, Malaysia.
dr Dicky Budiman, pakar Global Health Security, menjelaskan perbedaan diagnosis tersebut bisa terjadi akibat beberapa faktor, terutama karena jeda waktu tiga bulan antara pemeriksaan di Indonesia dan Penang.
Menurut dr Dicky, ada tiga faktor utama penyebab perbedaan diagnosis, yakni keahlian tenaga medis, kondisi pasien, dan jeda pemeriksaan.
"Kenapa bisa terjadi perbedaan diagnosis antar rumah sakit Ini bukan fenomena aneh, ya, atau eksklusif di Indonesia atau di ASEAN bahkan," ujar dr Dicky, menegaskan bahwa kondisi ini umum terjadi.
dr Dicky menambahkan, hasil USG sangat bergantung pada operatornya. "Secara objektif, USG itu bersifat sangat operator dependent, jadi studi menunjukkan apendiks (usus buntu) gagal tervisualisasi pada 30-50% kasus. Artinya, variasinya sangat bergantung juga pada keahlian operator, termasuk teknologi, skill, dan pengalaman," katanya.
Faktor kondisi pasien juga berperan. "Jadi, misalnya pasiennya obesitas, ga ada gas usus, posisi apendiks juga retrosekal. Ini terjadi pada 60 persen kasus dan ini yang sangat memengaruhi hasil dari USG itu," tambah dr Dicky.
Selain itu, faktor waktu juga memengaruhi. "Jadi kondisi klinis bisa berubah antar pemeriksaan. Jadi, radang bisa memburuk tapi juga bisa mereda spontan atau self-limiting appendicitis.
Ini dikenal sekali dalam literatur. Ketika ada jeda waktu antara pemeriksaan di Indonesia dan di Penang cukup lama, hasil yang berbeda tidak otomatis berarti satu pihak keliru. Bisa jadi kondisinya memang berubah si pasien," jelasnya.
dr Dicky juga menyebut faktor penumpukan tinja (fecal impaction) sebagai diagnosis banding yang bisa menimbulkan nyeri perut kanan bawah mirip apendisitis. "Kondisi ini bisa menimbulkan nyeri perut kanan bawah yang mirip apendisitis dan juga secara teori bisa menyebabkan distensi ya, pembesaran apendiks tanpa inflamasi," pungkasnya.
dr Dicky menegaskan bahwa klaim penumpukan tinja memungkinkan, tetapi tidak membuktikan rumah sakit di Indonesia salah. Ia mempertimbangkan dua kemungkinan, radang ringan atau kondisi membaik dengan sendirinya, yang sama-sama valid tanpa rekam medis lengkap.
Perbedaan diagnosis ini memicu polemik karena seorang influencer mengaku tiga kali didiagnosis radang usus buntu di Indonesia hingga menjalani operasi, sementara pemeriksaan di Penang menyatakan tidak ada masalah, dilansir dari Detik Health.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow