Dokter Jelaskan Gejala dan Diagnosis Radang Usus Buntu
Radang usus buntu atau apendisitis adalah kondisi peradangan pada apendiks vermiformis, yang dikenal sebagai usus buntu atau umbi cacing. Diagnosis penyakit ini didasarkan pada sejumlah kriteria klinis dan pemeriksaan laboratorium.
Menurut dr Aru Ariadno, SpPD-KGEH FINASIM dari Mayapada Hospital, diagnosis dilakukan dengan menggunakan skor klinis yang dikembangkan oleh World Society of Emergency Surgery (WSES) serta metode seperti Appendicitis Inflammatory Response (AIR) dan Adult Appendicitis Score (AAS).
Gejala khas radang usus buntu biasanya dimulai dengan nyeri di bagian ulu hati yang kemudian berpindah ke kanan bawah perut dalam waktu 24 jam. Gejala ini sering disertai mual dan perut kembung.
Untuk memastikan diagnosis, pasien akan menjalani pemeriksaan fisik. Pada bagian kanan bawah perut ditemukan nyeri lokal yang disertai rasa sakit ketika ditekan dan adanya defans muskular, yaitu ketegangan otot di area tersebut.
Pemeriksaan laboratorium juga menunjukkan peningkatan jumlah sel darah putih dan neutrofil, sebagai tanda adanya infeksi atau peradangan dalam tubuh.
Selain pemeriksaan dasar tersebut, dokter dapat melakukan tes penunjang seperti ultrasonografi (USG) atau CT-Scan dengan kontras. Pemeriksaan pencitraan ini berguna untuk melihat perubahan pada dinding usus buntu, seperti penebalan dinding yang melebihi 3 mm dan diameter usus buntu yang membesar lebih dari 6 mm.
Kasus perbandingan diagnosis usus buntu antara dokter di Indonesia dan tenaga medis di Penang, Malaysia, sempat menjadi sorotan setelah seorang influencer mengaku tiga kali didiagnosis mengalami radang usus buntu di Indonesia dan menjalani operasi. Namun, saat diperiksa di Penang, kondisi usus buntunya dinyatakan normal tanpa masalah.
Perbedaan diagnosis ini menimbulkan diskusi tentang akurasi pemeriksaan dan proses diagnosa radang usus buntu di berbagai tempat. Namun, metode diagnostik yang digunakan oleh dokter di Indonesia tetap mengacu pada standar klinis dan pemeriksaan medis yang telah teruji.
Informasi ini dikutip dari Detik Health.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow