Fahira Almira Unggah Perbedaan Diagnosis Usus Buntu antara Indonesia dan Penang

Smallest Font
Largest Font

Content creator Fahira Almira membagikan pengalamannya menjalani pemeriksaan usus buntu di rumah sakit Penang, Malaysia, yang memperlihatkan perbedaan diagnosis dengan tiga rumah sakit di Indonesia, dilansir dari Detik Health.

Di Indonesia, Fahira didiagnosis radang usus buntu dengan ukuran usus sebesar 8,1 milimeter, lebih besar dari ukuran normal 6-7 milimeter, sehingga disarankan operasi segera. Namun, rumah sakit di Penang menyatakan tidak ada radang usus buntu, melainkan masalah di usus besar.

Unggahan Fahira di TikTok pada 9 Agustus 2026 ini menimbulkan kontroversi dan tudingan black campaign terhadap fasilitas kesehatan Indonesia, serta dugaan endorsement dari rumah sakit di Penang. Konten ini telah meraih lebih dari 5 juta tayangan dan hampir 10 ribu komentar.

Pakar kesehatan masyarakat dr Dicky Budiman menilai konten Fahira bermasalah secara etik karena asimetri informasi dan potensi motif komersial.

"Publik berpotensi hanya mendapatkan satu cerita dari pihak pasien saja. Selain itu, ada kemungkinan motif komersial. Konten influencer itu memang rentan disponsori oleh fasilitas kesehatan luar negeri untuk menarik pasien," ujar dr Dicky.

dr Dicky menegaskan hak pasien untuk mendapatkan pendapat kedua secara medis adalah sah, termasuk lintas negara. Namun, ia mengingatkan agar tidak mempublikasikan perbandingan diagnosis secara sensasional tanpa rekam medis lengkap karena bisa mencemarkan nama tenaga kesehatan yang tidak bisa membela diri.

"Jadi, secara etika hak pasien atas pendapat kedua atau second opinion adalah hak yang sah, dijamin itu haknya secara etik medis universal. Tidak ada yang salah itu, termasuk lintas negara. Tapi, mempublikasikan perbandingan diagnosis secara sensasional di media sosial tanpa menyertakan rekam medis lengkap dan konteks klinis penuh itu yang berisiko mencemarkan nama fasilitas kesehatan dan tenaga kesehatan yang tidak bisa membela diri tadi karena kode etik," kata dr Dicky.

dr Dicky juga meminta Kementerian Kesehatan melakukan investigasi untuk mengedukasi masyarakat tentang kode etik kedokteran dan kritik berbasis fakta medis.

"Satu hal juga yang penting untuk diketahui ya secara etis, literasi kesehatan publik Indonesia juga kan jadi korban di sini karena masyarakat awam akhirnya menyimpulkan dokter Indonesia asal-asalan hanya dari angka 8,1 milimeter tadi tanpa memahami kompleksitas kriteria diagnostik yang sebenarnya multifaktorial," ujar dr Dicky.

"Saran saya, ya, investigasi resmi dari Kemenkes supaya ada langkah yang proporsional dan tepat ya untuk memverifikasi apakah ini kritik jujur berbasis fakta medis atau kampanye komersial terselubung," tambahnya.

Disclaimer

This article was automatically rewritten by AI based on source: health.detik.com without altering the facts of the original article.
Follow pdamtirtasukapura.co.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow