Harga Tembaga Spot Melonjak Akibat Tekanan Pasokan di LME
Harga tembaga spot di London Metal Exchange (LME) melonjak melampaui harga kontrak berjangka untuk pengiriman bulan berikutnya, menandakan tekanan pasokan yang semakin parah, dilansir dari Bloombergtechnoz.
Pada Jumat (14/8/2026), kontrak utama pengiriman tembaga September mencatat premi lebih dari US$260 dibandingkan kontrak Oktober, selisih harga satu bulan terlebar sejak krisis pasokan 2021.
Situasi ini mendorong LME menerapkan langkah darurat untuk meredam lonjakan harga spot yang tidak terkendali.
Tekanan ini dipicu oleh menipisnya volume persediaan di jaringan gudang global LME dan lonjakan selisih harga utama lainnya.
Stok tembaga turun selama 42 hari berturut-turut hingga Jumat, penurunan terpanjang sejak 2014, menjadi 204.975 ton.
Hampir separuh logam yang tersisa di sistem sudah dijadwalkan untuk ditarik, sehingga volume yang tersedia bagi pembeli sangat rendah.
Gudang LME menjadi sumber pasokan penting sebagai pilihan terakhir bagi industri tembaga fisik dan juga digunakan untuk menyelesaikan kontrak berjangka yang akan jatuh tempo.
Seiring menyusutnya persediaan, pemegang posisi short kontrak berjangka terpaksa terlibat perang penawaran harga untuk mendorong pemegang inventaris dan posisi long melakukan penjualan.
Penurunan inventaris LME terjadi di tengah upaya pedagang dan produsen meningkatkan pengiriman ke Amerika Serikat dan China, di mana harga melonjak melewati harga LME.
Di AS, selisih harga dipicu oleh ekspektasi penerapan tarif pada tembaga olahan oleh pemerintahan Donald Trump, membuka peluang arbitrase bagi pedagang yang memindahkan tembaga sebelum tarif diberlakukan.
Sementara itu, meski permintaan di China cenderung lesu, pabrik peleburan mengurangi produksi karena terbatasnya pasokan bahan baku, sehingga pelanggan lebih mengandalkan impor.
Penurunan tajam inventaris memperkuat peringatan bahwa kendala pasokan tambang dan meningkatnya permintaan dari sektor energi terbarukan, pusat data, kendaraan listrik, serta aplikasi utama lainnya akan mendorong pasar defisit dan lonjakan harga.
Kontrak acuan tiga bulan LME sempat naik ke rekor tertinggi di atas US$14.500/ton pada Januari dan diperdagangkan di atas US$14.100/ton pada Jumat, naik hampir 14% sepanjang tahun ini.
Kontrak tunai bahkan naik lebih tajam, mendekati rekor US$14.500/ton. Sejumlah analis memprediksi harga bisa segera mencapai rekor baru di atas US$14.500.
Logam industri lain diperdagangkan bervariasi di LME pada Jumat, dengan aluminium turun 0,6%, nikel turun 0,4%, dan seng naik 0,5%.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow