IDI Minta SOP Tanggap Cepat Humas Rumah Sakit Terkait Kasus Penghinaan Pasien BPJS

Smallest Font
Largest Font

Kasus penghinaan terhadap pasien BPJS Kesehatan oleh oknum dokter yang viral di media sosial memicu desakan agar rumah sakit dan institusi pendidikan kedokteran segera membuat SOP tanggap cepat humas, ujar anggota IDI bidang Riset dan Keilmuan Kedokteran, Dicky Budiman, Kamis (6/8/2026).

Dicky menyesalkan lambatnya respons rumah sakit dan institusi pendidikan yang baru bertindak setelah masalah viral atau pasien meninggal. "Institusi rumah sakit atau pendidikan ini harus ada SOP tanggap cepat humas rumah sakit untuk keluhan viral. Jangan menunggu ramai dulu ya baru bergerak," kata Dicky.

"Dalam kasus ini kan, responsnya baru muncul setelah pasien meninggal dan viral. Jadi bukan dari saat keluhan pertama diunggah," tambahnya.

Dicky juga menyoroti pentingnya audit berkala terkait boarding time, yaitu durasi waktu tunggu pasien dari Instalasi Gawat Darurat (IGD) ke ruang rawat inap. Menurutnya, waktu tunggu ini adalah indikator mutu pelayanan yang harus dilaporkan secara transparan ke Kemenkes dan lembaga akreditasi rumah sakit.

Kasus yang melibatkan dokter peserta didik (PPDS) ini menunjukkan adanya celah pembinaan etika digital di lingkungan rumah sakit pendidikan. "Mengingat kasus ini kan melibatkan peserta didik ya, bukan pegawai tetap. Artinya ada jarak pembinaan di jenjang pendidikan spesialis," jelas Dicky.

Untuk mencegah kejadian serupa, Dicky menekankan pentingnya membangun budaya speak up atau saluran aspirasi internal bagi tenaga kesehatan. Ini supaya tenaga medis yang frustrasi terhadap sistem punya wadah resmi untuk menyampaikan keluhan, bukan melampiaskan di media sosial dan merendahkan pasien.

"Termasuk juga memperkuat mekanisme speak up culture di internal rumah sakit. Supaya nakes yang frustrasi terhadap sistem punya saluran resmi ya, jadi bukan melampiaskan pada pasien di medsos," tutup Dicky.

Kasus ini bermula dari curhat seorang pasien BPJS yang menunggu 8 jam untuk rawat inap, yang kemudian dihina oleh oknum tenaga kesehatan. Pasien tersebut dikabarkan meninggal tak lama setelah curhatnya viral, memicu kecaman balik kepada tenaga kesehatan yang sempat menghina.

Informasi ini dilansir dari Detik Health.

Disclaimer

This article was automatically rewritten by AI based on source: health.detik.com without altering the facts of the original article.
Follow pdamtirtasukapura.co.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed