Kemenkes Temukan Jutaan Warga Indonesia Alami Perubahan Kondisi Kesehatan
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menemukan jutaan warga Indonesia yang sebelumnya sehat kini mengalami hipertensi dan diabetes melalui Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang dilakukan secara rutin.
Berdasarkan evaluasi peserta yang mengikuti CKG dua tahun berturut-turut, dari sekitar 30 juta peserta pada 2025 yang tidak mengalami hipertensi, sebanyak 9,2 juta orang kembali diperiksa tahun 2026. Satu juta orang di antaranya kini terdiagnosis hipertensi, menurut data yang dilansir dari Detik Health.
Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kemenkes, dr Maria Endang Sumiwi, MPH, menegaskan pentingnya pemeriksaan kesehatan rutin.
"Pesannya adalah selalu cek kesehatan gratis setiap tahun. Karena bisa jadi tahun lalu kita tidak bermasalah, tahun ini kita bermasalah," ujar Endang.
Temuan serupa juga terjadi pada peserta dengan kondisi prehipertensi. Dari 3,9 juta orang yang sebelumnya berada di ambang hipertensi, 1,3 juta kembali mengikuti CKG dan 297 ribu di antaranya berkembang menjadi hipertensi.
Perubahan juga tercatat pada pemeriksaan gula darah. Dari 8,3 juta peserta tanpa diabetes yang kembali mengikuti CKG, 188 ribu terdeteksi diabetes. Dari kelompok prediabetes, 16 ribu orang berkembang menjadi diabetes setelah pemeriksaan ulang.
"Karena itu masyarakat yang sudah diperiksa tahun lalu diharapkan segera kembali lagi mengikuti CKG tahun ini," kata Endang.
Evaluasi juga menunjukkan hasil positif pada pengendalian penyakit. Dari 340 ribu penyandang diabetes yang kembali mengikuti CKG, 235 ribu berhasil mengendalikan kadar gula darah hingga normal. Sedangkan dari 6,8 juta peserta hipertensi sebelumnya, 2,4 juta kembali diperiksa dan 1,1 juta berhasil mengendalikan tekanan darahnya.
"Itu tujuan kita. Yang tahun lalu hipertensi, tahun ini jangan masih hipertensi. Kita ingin semakin banyak masyarakat yang tekanan darahnya kembali normal," ujar Endang.
Kemenkes juga mengevaluasi pemberian obat kepada peserta yang terdiagnosis. Pemerintah menyediakan obat gratis selama 15 hari pertama, lalu pengobatan dilanjutkan melalui BPJS Kesehatan. Namun, evaluasi di tiga puskesmas menunjukkan hanya 43-62 persen pasien yang langsung menerima pengobatan.
"Ada yang diperiksa saat kegiatan di komunitas, tetapi ketika diminta datang ke puskesmas untuk mengambil obat ternyata tidak datang," jelas Endang.
Kemenkes tengah mempertimbangkan membawa obat langsung ke kegiatan pemeriksaan agar peserta dapat segera mulai pengobatan tanpa harus kembali ke puskesmas.
Endang menegaskan tujuan utama CKG bukan hanya menemukan penyakit, tetapi memastikan pengobatan cepat untuk mencegah komplikasi serius seperti stroke, penyakit jantung, gagal ginjal, dan kematian dini.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow