Latar Belakang Pemberontakan Andi Azis di Makassar Tahun 1950
Pada 5 April 1950, Andi Azis, mantan perwira KNIL dan Kapten yang menjabat sebagai Ajudan Senior Presiden Negara Indonesia Timur (NIT), memulai pemberontakan di Makassar, Sulawesi Selatan. Kejadian ini dipicu oleh penolakan terhadap rencana penyatuan NIT ke Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang baru diumumkan pada awal April 1950.
Andi Azis dan pasukannya menyerang dan menduduki tangsi APRIS serta menyandera Letnan Kolonel A.J. Mokognita, Panglima Teritorium Indonesia Timur. Pemerintah pusat kemudian mengeluarkan ultimatum kepada Andi Azis pada 8 April 1950 untuk menyerahkan diri dan membebaskan sandera dalam waktu 4 x 24 jam.
Konflik ini berakhir setelah pasukan TNI yang dipimpin Kolonel Alex Kawilarang mendarat di Makassar pada 26 April 1950 dan berhasil menguasai kota pada 21 April. Wali Negara NIT akhirnya menyatakan kesediaannya bergabung dengan NKRI dan pasukan KNIL/kubu Andi Azis harus meninggalkan Makassar setelah perundingan pada Agustus 1950.
Peran Andi Azis dan Pembentukan NIT
Andi Azis adalah mantan anggota Koninklijke Nederlandsch-Indische Leger (KNIL) dan sejak 1947 menjabat sebagai Ajudan Senior Presiden Negara Indonesia Timur. NIT sendiri terbentuk pada Desember 1946 sebagai bagian dari 16 negara bagian hasil Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag tahun 1949, yang membentuk Republik Indonesia Serikat (RIS).
Penolakan Penyatuan ke NKRI
Pada 30 Maret 1950, Andi Azis dan pasukannya resmi bergabung dengan Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat (APRIS). Namun, NIT baru mendapat kabar rencana penyatuan ke NKRI pada 4 April 1950, yang diterima dengan penolakan keras oleh Andi Azis dan mantan anggota KNIL yang khawatir kehilangan posisi dan kekuasaan mereka.
Kronologi Singkat Pemberontakan
- 5 April 1950 dini hari: Andi Azis membacakan pernyataan pemberontakan melalui Radio Makassar dan mulai menyerang tangsi APRIS.
- 8 April 1950: Pemerintah mengeluarkan ultimatum penyerahan diri dan pembebasan sandera.
- 21 April 1950: Pasukan TNI berhasil menguasai Makassar.
- 26 April 1950: Pasukan ekspedisi Kolonel Alex Kawilarang tiba di Makassar.
- 5-8 Agustus 1950: Pertempuran dan perundingan antara pasukan APRIS dan KNIL yang berakhir dengan keluarnya pasukan KNIL dari Makassar.
Konflik Militer dan Politik
Pemberontakan ini bukan hanya soal militer, tapi juga politik. Andi Azis dan pasukannya berusaha mempertahankan eksistensi Negara Indonesia Timur di tengah desakan integrasi ke NKRI. Penolakan tersebut berakar dari kekhawatiran hilangnya kekuasaan dan status sosial mantan anggota KNIL dalam struktur pemerintahan baru.
Menurut laporan Kompas, peristiwa ini juga mencerminkan ketegangan antara kelompok pro-NKRI dan mereka yang ingin mempertahankan status quo NIT sebagai entitas terpisah.
Akhir Pemberontakan dan Dampaknya
Setelah pertempuran dan perundingan pada Agustus 1950, pasukan KNIL yang dipimpin Andi Azis akhirnya meninggalkan Makassar. Wilayah NIT resmi bergabung dengan NKRI, menandai berakhirnya perlawanan bersenjata di Sulawesi Selatan. Integrasi ini menjadi bagian penting dalam proses pembentukan negara kesatuan Indonesia yang lebih kuat.
"Pemberontakan ini menunjukkan betapa kompleksnya proses integrasi negara bagian di Indonesia pasca-KMB," ujar seorang sejarawan dari Universitas Hasanuddin.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow