Menkes Budi Gunadi Soroti Keterlambatan Deteksi Kanker di Indonesia
Indonesia mencatat sekitar 474 ribu kasus baru kanker setiap tahun dengan lebih dari 283 ribu kematian, menurut data Global Cancer Observatory (GLOBOCAN) 2024, dilansir dari Detik Health. Jumlah pengidap kanker diperkirakan telah mencapai lebih dari 1,13 juta orang di Tanah Air. Namun, banyak pasien baru memeriksakan diri saat kanker sudah memasuki stadium lanjut, sehingga peluang kesembuhan menurun dan biaya perawatan meningkat. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan pentingnya mengubah paradigma dari hanya pengobatan menjadi pencegahan dan deteksi dini.
"Indonesia tidak cukup hanya memperkuat layanan pengobatan kanker, tetapi juga harus mengubah paradigma menuju pencegahan dan deteksi dini," kata Budi Gunadi Sadikin.
Menurutnya, pengendalian kanker harus meliputi upaya promotif dan preventif dengan memperluas akses skrining agar kanker ditemukan sebelum mencapai stadium lanjut. Keterlambatan diagnosis merupakan tantangan besar karena pasien datang saat penyakit telah menyebar, memperumit terapi dan meningkatkan risiko kematian.
Kementerian Kesehatan mendorong masyarakat memakai program skrining dan pemeriksaan kesehatan secara berkala sebagai kunci menekan angka kematian dan meningkatkan peluang kesembuhan. Dokter spesialis onkologi dr M Yadi Permana menambahkan bahwa kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri sejak dini sangat penting.
"Semakin dini kanker ditemukan, semakin besar peluang keberhasilan pengobatan," ujar dr M Yadi Permana. Program skrining yang tersedia meliputi pemeriksaan kanker payudara, serviks, hati, kolorektal, dan prostat untuk menemukan kasus pada stadium awal dan mengurangi beban biaya kesehatan. Data global menunjukkan kasus kanker pada usia di bawah 50 tahun meningkat, terutama kanker usus besar, payudara, dan darah.
Peneliti menilai faktor pemicu meliputi pola makan instan, stres kronis, gangguan mikrobioma usus, paparan mikroplastik, polutan lingkungan, dan perubahan pola reproduksi seperti menunda kehamilan dan durasi menyusui singkat.
"Tren risiko kanker saat ini mencerminkan interaksi yang sangat kompleks antara genetik, gaya hidup, lingkungan, hingga layanan pencegahan yang diakses masyarakat," ujar tim peneliti, dikutip dari The Straits Times.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow