Mohammed Al-faqeeh Raih Lulusan Terbaik S3 Unpad dengan IPK 3,89
Mohammed Adel Mohammed Al-faqeeh dinobatkan sebagai lulusan terbaik program doktor di Universitas Padjadjaran (Unpad) pada Rabu, 5 Agustus 2026, setelah menyelesaikan studi S3 dalam waktu 3,5 tahun dengan IPK 3,89, dilansir dari Detikcom.
Al-faqeeh menyelesaikan pendidikan doktoral dengan beasiswa Program Doktor Padjadjaran (BPDP). Sebelumnya, ia juga menuntaskan program magister di Unpad dengan IPK sempurna 4,00 dalam waktu 3 semester.
Pria asal Yaman ini awalnya meraih gelar sarjana farmasi dari Sana'a University dan kemudian melanjutkan ke jenjang magister menggunakan beasiswa Kemitraan Negara Berkembang (KNB) di Indonesia.
"Saat mengetahui ada penawaran beasiswa KNB, saya mendaftarkan diri dengan memilih dua universitas di Indonesia yang memiliki program studi Farmasi Klinik. Pilihan utamanya Universitas Padjadjaran karena dari informasi yang saya baca, kuliahnya lebih banyak praktik," ujar Al-faqeeh.
Selama kuliah, Al-faqeeh juga mengikuti kursus Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) secara daring karena pandemi Covid-19. Ia pun bekerja di RS Hasan Sadikin sehingga kemampuan bahasa Indonesia dan sedikit bahasa Sunda semakin terlatih.
"Akhirnya, karena sering berinteraksi dengan native speaker, saya jadi bisa lebih lancar menggunakan Bahasa Indonesia, dan juga sedikit Bahasa Sunda," ujar anak pertama dari enam bersaudara ini.
Al-faqeeh mengungkapkan bahwa meskipun tidak mengikuti program fast track, waktu yang ditempuh dalam studi doktoralnya seperti fast track.
"Saya tidak ikut program fast track, tapi timeline yang ditempuh seperti fast track," ujar Al-faqeeh.
Selama menempuh pendidikan di Unpad, ia merasa nyaman dengan lingkungan dan fasilitas, serta mendapatkan dukungan dari dosen Fakultas Farmasi.
"Unpad itu more than what I expected. Jadi, terima kasih Unpad. Fakultas Farmasi apalagi, lingkungannya sudah seperti keluarga sendiri. Jika ada masalah, semuanya bisa dibantu," katanya.
Al-faqeeh berhasil menerbitkan belasan artikel ilmiah, beberapa di antaranya masuk jurnal internasional Scopus Q1 dan Q2. Ia menyoroti kendala biaya yang dialami mahasiswa asing lain dalam publikasi karya ilmiah.
"Satu contoh saja terkait publikasi ilmiah. Teman-teman saya dari Yaman yang kuliah di tempat lain, mereka menghadapi kendala saat akan publikasi karya ilmiah. Salah satu alasannya karena biaya," ujar Al-faqeeh.
Ia juga memberikan tips menulis karya ilmiah bagi mahasiswa, menekankan pentingnya fokus pada metodologi dan memanfaatkan teknologi AI untuk meningkatkan kualitas tulisan tanpa melakukan plagiarisme.
"Saya mau kasih saran buat mahasiswa, saat buat karya ilmiah sebaiknya fokus dulu pada metodologi. Buat outline terkait metodologi, kalau sudah fix maka yang lain sudah tidak terlalu susah. Untuk kendala saat menulis dalam Bahasa Inggris, sekarang kan sudah ada teknologi AI yang bisa membantu bagaimana meningkatkan kualitas penulisan.
Tapi jangan asal copy-paste. Lalu, harus membaca karena kalau otaknya kosong ya tidak bisa," ujar Al-faqeeh.
Sebelum kembali ke Yaman, Al-faqeeh ingin menjalin kolaborasi riset dengan Fakultas Farmasi Unpad untuk mengembangkan ilmu di bidang farmasi.
"Maksudnya, walaupun sudah selesai, walaupun sudah lulus, tapi pasti masih ada kolaborasi dengan Fakultas Farmasi Unpad," katanya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow