Profesor Jason Arday Mundur dari Cambridge Usai Tuduhan Plagiarisme

Smallest Font
Largest Font

Jason Arday, profesor sosiologi di University of Cambridge, Inggris, memutuskan mundur setelah muncul tuduhan plagiarisme terkait disertasinya, seperti dilaporkan oleh Detikcom pada Agustus 2026.

Arday dikenal sebagai profesor kulit hitam termuda dalam sejarah Cambridge dan mendapat perhatian luas dalam dunia akademik Inggris. Tuduhan plagiarisme pertama kali muncul melalui laporan The Telegraph yang menyebut lebih dari 100 bagian karya Arday mirip dengan tesis sebelumnya dari Brunel University London.

Analisis lebih lanjut dilakukan oleh Nathan Cofnas, seorang akademisi yang pernah bekerja di Cambridge, yang mengklaim menggunakan perangkat lunak pendeteksi plagiarisme dan menemukan sejumlah salinan tanpa perubahan signifikan dalam disertasi Arday.

Dr David Harris, profesor emeritus dari Universitas Plymouth Marjon, juga mengkritik dua artikel ilmiah Arday yang diterbitkan pada 2018 dan 2020.

Meski begitu, University of Cambridge membela Arday dan menyebut tuduhan tersebut sebagai "kampanye fitnah keji untuk merusak kredibilitasnya". Cambridge meneruskan kasus ini ke Liverpool John Moores University, tempat Arday menyelesaikan gelar PhD, yang menyatakan tidak menemukan plagiarisme.

"Kami menanggapi tuduhan pelanggaran etika akademik dengan sangat serius," ujar juru bicara Cambridge. "Investigasi dilakukan oleh institusi tempat penelitian dilakukan untuk memastikan penyelidikan yang menyeluruh dan adil."

Arday menyatakan mendukung proses investigasi yang adil terhadap tuduhan tersebut dan menegaskan beberapa penyelidikan menyimpulkan tidak ada plagiarisme atau pelanggaran akademik.

Namun, setelah muncul "informasi baru" mengenai kualifikasi akademiknya, Arday mengakui kesalahan dalam beberapa karya akademiknya namun membantah sengaja berbohong. Ia juga mengaku mengalami tekanan publik dan serangan pribadi yang berat selama beberapa waktu.

Dalam pernyataan yang dipublikasikan pada 5 Agustus 2026, Arday menyebut pengangkatannya sebagai profesor Cambridge di usia 37 tahun pada 2023 sebagai kehormatan terbesar dalam hidupnya, terutama mengingat latar belakang autisme dan kesulitan berbicara yang dialaminya semasa kecil.

"Mengajar mahasiswa dan melihat rasa ingin tahu serta ambisi mereka adalah kehormatan terbesar dalam hidup saya," tulis Arday. Ia juga menuturkan kritik yang diterimanya telah melampaui perbedaan pendapat akademik dan memberikan tekanan berat bagi dirinya dan orang-orang terdekat.

Arday menegaskan pengunduran dirinya bukanlah tanda hilangnya kepercayaan terhadap dunia akademik maupun pengakuan atas tuduhan yang diarahkan kepadanya. "Keputusan ini juga tidak boleh dianggap sebagai pengakuan terhadap berbagai narasi yang selama ini diarahkan kepada saya," ujarnya.

Ia menutup pernyataannya dengan keyakinan akan kembali ke dunia akademik saat waktunya tiba.

Follow pdamtirtasukapura.co.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow