Mpu Tantular Mengarang Kitab Sutasoma pada Masa Keemasan Majapahit

Smallest Font
Largest Font

Kitab Sutasoma dikarang oleh Mpu Tantular pada masa keemasan Kerajaan Majapahit antara tahun 1365 hingga 1389 di bawah pemerintahan Prabu Hayam Wuruk. Penulisan ini berlangsung di wilayah yang sekarang dikenal sebagai Indonesia, dengan tujuan menyampaikan nilai-nilai toleransi antara agama Hindu dan Buddha Mahayana.

Kitab Sutasoma adalah karya sastra dalam bahasa Jawa Kuno yang menggunakan aksara Bali, menggambarkan cerita tentang Pangeran Sutasoma, seorang titisan Sang Hyang Buddha. Kitab ini berisi 1.210 bait dalam 148 pupuh dan ditulis kembali di atas daun lontar berukuran 40,5 x 3,5 cm pada tahun 1851.

Penggubahan kitab ini dilakukan di bawah naungan Sri Ranamanggala sekitar tahun 1365-1369, menandai periode penting dalam sejarah budaya dan spiritual Majapahit yang memperlihatkan keharmonisan antaragama.

Siapa Mpu Tantular dan Perannya

Mpu Tantular adalah pujangga besar yang hidup pada abad ke-14. Beliau dikenal sebagai pengarang Kitab Sutasoma yang menyuarakan pesan persatuan dan toleransi agama. Karya Mpu Tantular ini tetap menjadi referensi penting hingga saat ini, terutama melalui kutipan terkenal Bhinneka Tunggal Ika yang terdapat pada pupuh 139 bait ke-5.

Isi dan Nilai dalam Kitab Sutasoma

Cerita utama dalam kitab ini berkisah mengenai Pangeran Sutasoma, putra Prabu Mahaketu dari Kerajaan Astina, yang memilih memperdalam ajaran Buddha daripada memegang tampuk kekuasaan kerajaan. Dalam perjalanan hidupnya, ia melakukan semedi di hutan, mendapatkan anugerah, dan menghadapi berbagai rintangan seperti menaklukkan raksasa dan ular naga.

Kitab ini juga menampilkan kisah dramatis ketika Pangeran Sutasoma mati dan dihidupkan kembali oleh Batara Indra, serta hubungannya dengan sepupu dan sekutu, Prabu Dasabahu. Nilai toleransi antara agama Hindu dan Buddha menjadi inti pesan moral yang dibawa kitab ini.

Makna dan Pentingnya Kitab Sutasoma untuk Indonesia

Kitab Sutasoma memiliki arti penting sebagai sumber sejarah dan budaya yang menegaskan prinsip persatuan dalam keberagaman, yang tercermin dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Semboyan ini kemudian diadopsi sebagai moto negara Indonesia, menandakan semangat persatuan meski berbeda-beda agama dan kepercayaan.

Menurut laporan dari www.kompas.com, nilai-nilai toleransi yang diajarkan dalam Kitab Sutasoma sangat relevan dengan kondisi Indonesia yang majemuk saat ini, menjadikan karya Mpu Tantular sebagai warisan budaya yang bernilai nasional.

Peran Kitab dalam Warisan Budaya Majapahit

Kitab Sutasoma bukan hanya karya sastra, tetapi juga dokumen sejarah yang merekam situasi sosial dan spiritual Kerajaan Majapahit. Penulisan kitab ini di masa pemerintahan Prabu Hayam Wuruk menunjukkan tingkat kemajuan intelektual dan kebudayaan yang tinggi.

Dalam konteks sastra Jawa Kuno, kitab ini menjadi salah satu karya puncak yang memperlihatkan kemampuan para pujangga Majapahit dalam meramu cerita dan ajaran moral yang mendalam.

AspekDetail
PengarangMpu Tantular
Periode Penulisan1365-1389
BahasaJawa Kuno
AksaraBali
Jumlah Bait1.210 bait dalam 148 pupuh
Isi UtamaNilai toleransi Hindu-Buddha, cerita Pangeran Sutasoma
  • Ditulis pada masa keemasan Majapahit di bawah Prabu Hayam Wuruk
  • Mengandung kutipan Bhinneka Tunggal Ika sebagai simbol persatuan
  • Menjadi sumber inspirasi semboyan negara Indonesia
  • Disalin ulang menjadi naskah lontar pada abad ke-19
"Kitab Sutasoma merupakan karya monumental yang menyuarakan pesan toleransi yang relevan hingga kini," ujar pakar sejarah sastra Jawa dari Universitas Gadjah Mada.
Rahasia Kemerdekaan Indonesia dalam Kitab Sutasoma Bakal Membuatmu Terhenyak! | ASISI Channel

Follow pdamtirtasukapura.co.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow