Pakar Energi Nilai Target ICP 2027 US$75 per Barel Belum Aman
Pakar energi menilai target harga Indonesian Crude Price (ICP) pada US$75 per barel dalam RAPBN 2027 dinilai belum cukup aman untuk menghadapi potensi gejolak pasar energi global tahun depan, dilansir dari Bloombergtechnoz.
Praktisi senior migas sekaligus Sekjen Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI) Hadi Ismoyo menilai idealnya ICP periode 2027 berada di level US$80 per barel.
"Terkait dengan ICP, menurut kami [semestinya] sekitar US$80/barel," ujar Hadi saat dihubungi pada Sabtu (15/8/2026).
Hadi menyatakan pasar minyak dunia masih belum menentu pada 2027 akibat konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang belum menemukan titik terang.
"Asumsi saya, nota perdamaian masih belum jelas. Ketidakjelasan [di pasar minyak dunia] masih tinggi, sehingga harga remaining tinggi," kata Hadi.
Pada Jumat (14/8/2026), Presiden Prabowo Subianto mengumumkan pemerintah menargetkan harga ICP di level US$75 per barel untuk 2027, dengan target lifting minyak bumi nasional 610.000 barel per hari dan gas 954.000 barel setara minyak per hari.
"Harga minyak mentah Indonesia diperkirakan US$75 per barel pada 2027 dan lifting minyak 610.000 barel per hari," ungkap Prabowo dalam pidato penyampaian RUU APBN 2027 di Gedung DPR.
Target ICP 2027 di US$75 per barel merupakan penyesuaian dari asumsi ICP 2026 yang sebesar US$70 per barel, meski harga sempat bergejolak dan mencapai level tertinggi di pasar.
Riset dari BMI, bagian Fitch Solutions, memperkirakan rata-rata harga minyak Brent pada 2027 sebesar US$71 per barel, turun 17,44% dari proyeksi 2026 yang mencapai US$86 per barel dan turun 21,98% dari realisasi harga Brent 2026 sebesar US$91 per barel.
Peneliti BMI melihat harga Brent cenderung menurun pada 2027, namun pasar minyak masih penuh ketidakpastian.
"Muncul ekspektasi yang menguat bahwa OPEC+ akan menghentikan peningkatan produksinya setelah September 2026. Kelompok tersebut kemungkinan terkejut melihat betapa tajamnya harga Brent turun setelah nota kesepahaman antara Amerika Serikat dan Iran. Mereka tentu ingin menghindari sentimen bearish [pelemahan harga] yang makin dalam," tulis BMI dalam riset awal Agustus.
Selain itu, belum ada kebutuhan mendesak menaikkan target produksi karena selama konflik berlangsung, OPEC+ terus mengumumkan kenaikan target produksi meski realisasinya menurun, memberi ruang bagi produsen meningkatkan pasokan tanpa melanggar kuota.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow